INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 06 Desember 2013

Nelson Mandela Pernah Dicap Teroris oleh Amerika Serikat

Nelson Mandela, Pejuang Anti Apartheid
Pemerintah Amerika Serikat memasukkan nama Nelson Mandela dalam daftar teroris hingga 2008. Mantan Presiden Afrika Selatan yang meninggal di usia 95 tahun ini kini dikenal sebagai tokoh hak asasi manusia dunia. George W. Bush, semasa menjabat presiden Amerika Serikat, mencabut nama Mandela dari daftar teroris.

Menteri Luar Negeri AS ketika itu, Condoleezza Rice, menyatakan bahwa memasukkan nama Mandela ke daftar teroris merupakan hal yang memalukan. Sedangkan Menteri Luar Negeri AS John Kerry, yang pada 2008 menjadi senator Partai Demokrat, mengatakan, "Untung nama Mandela akhirnya secara legal ditetapkan keluar dari daftar teroris."

Pemerintah apartheid Afrika Selatan memang memasukkan partainya Mandela, African National Congress (ANC), sebagai organisasi teroris. ANC berjuang melawan kebijakan pemisahan rasial dari 1948-1994. Pemerintah kulit putih Afrika Selatan juga pernah mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat atas kebijakan kulit putih di tanah afrika itu.

Pemerintah apartheid memenjarakan Nelson Mandela selama  27 tahun, dipulau Rubben dan dipaksa untuk melakukan kerja pada penggalian kapur yang menyebabkan infeksi pernapasan yang diderita Mandela sampai akhir hayatnya.

ANC sebelumnya dinyatakan sebagai organisasi teroris baik oleh Afrika Selatan maupun Amerika Serikat. Kritikus sayap-kanan paling pedas melukiskannya sebagai seorang teroris yang tidak mau bertobat serta seorang simpatisan komunis.


Bahkan ada laporan yang mengatakan bahwa CIA telah membantu rekayasa penahanan Mandela pada tahun 1962 ketika seorang agen di dalam ANC memberikan informasi kepada para pejabat keamanan Afrika Selatan untuk melacaknya.


Hingga lima tahun lalu, Mandela dan beberapa anggota ANC masih berada dalam daftar pengawasan teror AS karena perjuangan bersenjata yang mereka lancarkan terhadap rezim apartheid.

Namun demikian, pada tahun 1980an, mendiang senator Demokrat AS Ted Kennedy menyusun undang-undang bersama senator Lowell Weicker yang akhirnya menjadi salah satu katalisator yang mengarah pada runtuhnya sistem pembedaan ras (apartheid).

Presiden Ronald Reagan berupaya untuk mengubur undang-undang anti-pembedaan ras tahun 1986 yang ditujukan untuk menerapkan sanksi ekonomi terhadap Afrika Selatan dengan menggunakan hak vetonya.

Reagan meyakini undang-undang itu hanya akan mengarah pada kekerasan yang lebih parah serta penindasan terhadap rakyat Afrika Selatan.


Namun untuk pertama kalinya dan hanya satu-satunya yang dilakukan pada abad tersebut, Kongres AS memberontak dan mengesampingkan veto Reagan menyangkut masalah kebijakan luar negeri. Kongres tetap mengesahkan undang-undang yang menjatuhkan sanksi terhadap Pretoria, memutus penerbangan langsung serta memotong bantuan penting.

Sejumlah pengamat melihat bahwa pembebasan Mandela itu serta kebenaran yang tidak dapat dipungkiri menyangkut perkaranya memberikan pelajaran yang unik bagi Washington yang sering bersikap diskriminatif dan rasis.

Selain Amerika Serikat, Inggris juga melakukan hal yang sama pada masa Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher, menyebut ANC sebagai "semacam organisasi teroris" pada 1987. Thatcher menolak menerapkan sanksi terhadap pemerintahan apartheid Afrika Selatan. Presiden AS ketika itu, Ronald Reagan, juga melakukan hal serupa.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta