INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 07 Desember 2013

Mandela Kecil Diberi Nama Inggris, Nelson Oleh Gurunya

Mandela Kecil
Photo: wikipedia.org
Mandela lahir tanggal 18 Juli 1918 di desa Mvezo di Umtatu, waktu itu terletak di Provinsi Cape, Afrika Selatan.

Dengan nama depan Rolihlahla, istilah Xhoa yang berarti "pembuat masalah", ia nantinya justru lebih dikenal dengan nama klannya, Madiba. Kakek buyut dari ayahnya, Ngubengcuka, adalah penguasa suku Thembu di Teritori Transkei yang saat ini menjadi provinsi Eastern Cape di Afrika Selatan.

Salah satu putranya, Mandela, menjadi kakek Nelson dan sumber nama belakangnya.  Mandela adalah satu-satunya putra raja yang ibunya berasal dari klan Ixhiba, "Dinasti Tangan Kiri", keturunan cabang kadet keluarga kerajaannya bersifat morganatik, artinya tidak berhak mewarisi takhta tetapi diakui sebagai anggota dewan kerajaan yang jabatannya turun temurun.

Ayahnya, Gadla Henry Mphakanyiswa, merupakan kepala suku setempat dan anggota dewan kerajaan; ia dilantik tahun 1915 setelah pendahulunya dituduh korupsi oleh hakim kulit putih yang berkuasa waktu itu.

Pada tahun 1926, Gadla juga dituduh melakukan korupsi dan Nelson kelak diberitahu bahwa ayahnya dipecat karena bersikukuh menolak permintaan hakim yang tidak masuk akal.  Sebagai penyembah dewa Qamata, Gadla adalah seorang poligamis yang memiliki empat istri, empat putra, dan sembilan putri, yang tinggal di beberapa desa. Ibu Nelson, Nosekeni Fanny, adalah istri ketiga Gadla yang merupakan putri Nkedama dari Dinasti Tangan Kanan dan anggota klan ama Mpemvu.

Mandela tumbuh bersama dua saudarinya di kraal ibunya di desa Qunu, tempat Mandela bekerja sebagai gembala sapi dan menghabiskan waktunya bersama anak-anak lain. Ibunya mengirimkan Mandela ke sekolah setempat ketika menginjak usia 7 tahun.

Mandela diberi nama depan Inggris "Nelson" oleh gurunya.  Saat Mandela kira-kira berusia 9 tahun, ayahnya menetap di Qunu dan meninggal akibat penyakit yang tidak diketahui yang diyakini Mandela sebagai penyakit paru-paru.  Merasa "terabaikan", ia kelak mengaku mewarisi "sifat pemberontak bangga" dan "rasa keadilan yang keras" dari ayahnya.

Ibunya membawa Mandela ke istana "Great Place" di Mqhekezweni, lalu dipercayakan untuk asuhan bupati Thembu, Kepala Suku Jongintaba Dalindyebo.

Meski ia tidak akan melihat ibunya lagi selama sekian tahun, Mandela merasa bahwa Jongintaba dan istrinya Noengland memperlakukannya seperti anak sendiri, membesarkannya bersama putra-putri mereka, Justice dan Nomafu. Karena Mandela sering menghadiri misa setiap Minggu bersama orang tua asuhnya, Kristen menjadi bagian utama hidupnya.

Ia mengenyam pendidikan di sekolah dekat istana. Di sana ia belajar bahasa Inggris, Xhosa, sejarah, dan geografi. Ia mulai tertarik dengan sejarah Afrika, mendengarkan cerita-cerita yang diujarkan para pengunjung istana yang tua, dan terpengaruh retorika anti-imperialis

Kepala Suku Joyi. Waktu itu, ia tetap saja menganggap kolonialis Eropa sebagai penolong, bukan penindas. Pada usia 16 tahun, ia, Justice, dan teman-temannya berangkat ke Tyhalarha untuk menjalani ritual sunat yang secara simbolis menandakan mereka sudah dewasa. Seusai ritual, Mandela diberi nama "Dalibunga".

Untuk mendapatkan keterampilan supaya bisa menjadi anggota dewan penasihat untuk keluarga raja Thembu, Mandela mengenyam pendidikan menengah di Clarkebury Boarding Institute di Engcobo, institusi bergaya Barat yang merupakan sekolah Afrika berkulit hitam terbesar di Thembuland.

Dirancang supaya murid-muridnya saling bersosialisasi setiap hari, ia mengklaim kehilangan sikap "tertutupnya" dan berteman baik dengan wanita untuk pertama kalinya; ia mulai berolahraga dan merintis kecintaannya dalam berkebun.

Setelah menyelesaikan Junior Certificate selama dua tahun, pada tahun 1937 ia pindah ke Healdtown, perguruan Methodis di Fort Beaufort yang juga dihadiri sebagian besar anggota keluarga raja Thembu, termasuk Justice.

Kepala sekolah menekankan superioritas budaya dan pemerintahan Inggris, namun Mandela semakin tertarik dengan budaya Afrika pribumi dan berteman untuk pertama kalinya dengan orang non-Xhosa, seorang penutur bahasa Sotho, dan dipengaruhi salah satu guru favoritnya, seorang Xhosa yang mematahkan tabu dengan menikahi orang Sotho.  Selain menghabiskan waktu luangnya dengan berlari dan tinju, pada tahun keduanya Mandela memutuskan menjadi prefek.

Dengan bantuan Jongintaba, Mandela mengambil gelar Bachelor of Arts (BA) di University of Fort Hare, institusi kulit hitam elit di Alice, Eastern Cape dengan kurang lebih 150 mahasiswa. Di sana ia belajar bahasa Inggris, antropologi, politik, pemerintahan pribumi, dan hukum Belanda Romawi pada tahun pertamanya, dan ingin menjadi penerjemah atau juru tulis di Departemen Urusan Pribumi.

Mandela menetap di asrama Wesley House, berteman dengan Oliver Tambo dan sesama anggota sukunya, K.D. Matanzima. Melanjutkan ketertarikannya di bidang olahraga, Mandela mengambil kelas tari ballroom, dan terlibat dalam pementasan drama tentang Abraham Lincoln.

Sebagai anggota Students Christian Association, ia memimpin kelas Injil untuk masyarakat setempat dan menjadi pendukung Britania Raya ketika Perang Dunia Kedua pecah. Meski teman-temannya memiliki hubungan dengan Kongres Nasional Afrika (ANC) dan gerakan anti-impterialis, Mandela tidak mau terlibat.

Setelah membantu mendirikan House Committee untuk mahasiswa tahun pertama yang melawan dominasi mahasiswa tahun kedua, di akhir tahun pertamanya ia terlibat aksi boikot Students' Representative Council (SRC) terhadap kualitas makanan, sehingga ia diskors sementara dari universitas; ia meninggalkan kuliahnya tanpa gelar.

Sepulangnya ke Mqhekezweni bulan Desember 1940, Mandela mengetahui bahwa Jongintaba telah mengatur dua pernikahan untuk Mandela dan Justice; karena tidak senang, mereka pergi ke Johannesburg melalui Queenstown dan tiba bulan April 1941.

Mandela bekerja sebagai pengawas malam di Crown Mines, "pemandangan kapitalisme Afrika Selatan pertama[nya]", tetapi dipecat setelah induna (mandor) mengetahui ia kabur dari rumah. Setelah menetap di rumah sepupunya di George Goch Township, Mandela diperkenalkan pada pemasar rumah dan aktivis ANC Walter Sisulu, yang memberinya pekerjaan sebagai articled clerk di firma hukum Witkin, Sidelsky and Edelman. Perusahaan ini dioperasikan oleh seorang Yahudi liberal, Lazar Sidelsky, yang simpati terhadap perjuangan ANC.

Di firma tersebut, Mandela berteman dengan Gaur Redebe, anggota ANC dan Partai Komunis bersuku Xhosa, dan Nat Bregman, komunis Yahudi yang menjadi teman kulit putih pertamanya.

Dengan menghadiri pertemuan-pertemuan komunis, Mandela terpesona melihat orang Eropa, Afrika, India dan Kleurlinge berbaur begitu saja. Akan tetapi, ia kemudian mengaku tidak bergabung dengan Partai tersebut karena sifat ateismenya bertentangan dengan keyakinannya, dan karena ia memandang perjuangan Afrika Selatan lebih berbasis ras alih-alih kesejahteraan kelas.

Semakin terpolitisasi, bulan Agustus 1943 Mandela mendukung boikot bus demi menggagalkan kenaikan tarif. Untuk melanjutkan pendidikan tingginya, Mandela mengikuti kursus korespondensi di University of South Africa dan mengerjakan tugas akhirnya pada malam hari.

Dengan upah kecil, Mandela menyewa kamar di rumah keluarga Xhoma di Alexandra Township; meski penuh kemiskinan, kejahatan, dan polusi, Alexandra selalu menjadi "tempat berharga" baginya. Walaupun malu dengan kemiskinan yang dialaminya, ia sempat merayu seorang wanita Swazi sebelum gagal merayu putri tuan tanahnya.

Setelah menemukan kamar sewa yang lebih murah, Mandela pindah ke markas Witwatersrand Native Labour Association, tinggal bersama para penambang dari berbagai suku dan bertemu Ratu Basutoland.

Pada akhir 1941, Jongintaba mengunjungi Mandela dan memaafkan kelakuannya. Sepulangnya ke Thembuland, sang bupati meninggal dunia pada musim dingin 1942, Mandela dan Justice terlambat sehari untuk menghadiri pemakamannya.

Pasca wisuda awal 1943, Mandela kembali ke Johannesburg untuk menjadi pengacara alih-alih anggota dewan penasihat di Thembuland. Ia kelak berkata bahwa saat itu ia tidak sadar, tapi "mengetahui diriku sedang melakukannya dan tidak bisa melawan."

Dikota inilah perjuangan panjangnya dimulai dan menetapkan dirinya sebagai aktivis yang sangat prihatin dengan kondisi rakyat Afrika Selatan yang berkulit hitam akibat penindasan dengan penetapan Undang-Undang Afrika Selatan yang menerapkan apartheid yang membedakan hak antara kulit hitam dan kulit putih.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta