INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 09 Desember 2013

Kebijakan Kita di WTO Akan Menyengsarakan Petani dan Rakyat

Photo : p2tel.or.id 
Oleh Heri Hidayat Makmun

Setelah WTO selesai digelar dengan Pemerintah Indonesia sebagai tuan rumah yang baik dan ramah, bukan salah berlaku sebagai tuan rumah yang baik tetapi juga telah menyerahkan kedaulatan pangannya dalam sebuah forum kecil yang akan memberikan pengaruh yang luar biasa besar terhadap nasib para petani bukan saja di Indonesia tetapi juga untuk skala global.

Dengan mudahnya Indonesia menyatakan 'Ya' untuk sesuatu yang nanti akan menjadi kesulitan besar bagi pemerintah untuk sekedar menolong petani, karena aturan itu bukan saja melarang untuk melindungi petani dalam negeri, apalagi kebijakan pemerintah untuk memberikan modal untuk petani dengan Bank Petani atau sebagainya karena itu semua kedepannya akan dilarang, terutama nanti setelah empat tahun dari tahun 2013. Kita nanti akan melihat para petani 'menggelapar-gelepar' tanpa kewenangan untuk dapat menolong petani karena itu semua kalau dilakukan akan menjadi sebuah pelanggaran dalam point-point WTO.

Pemerintah sudah tidak diperbolehkan lagi untuk membantu pemasaran petani jika sedang musim sehingga hasil pertanian bakal akan menumpuk dengan harga yang murah, kita juga tidak bisa memberikan bibit tanaman atau subsidi pupuk lagi disaat petani sedang paceklik dan tidak memiliki kemampuan modal untuk menanam lagi saat mereka sudah tidak berdaya dengan ketiadaan modal. Kita juga tidak bisa melindungi petani dengan membeli lagi hasil pertanian pada saat gabah menumpuk untuk dikumpulkan di Bulog seperti yang biasa dilakukan pada masa orde baru.

Nanti point-point yang kita bentuk di Bali itu akan menjadi tali gantungan untuk para petani kita dalam jangka waktu yang panjang. Suatu saat nanti ketika para petani 'mati' maka keran import mau tidak mau terpaksa harus kita buka karena rakyat butuh makan.

Dan memang tidak ada lagi keran yang bisa di buka atau ditutup karena semua proses perdagangan global sudah harus terjadi tanpa interpensi lagi oleh pemerintah. Pemerintah hanya membuat aturan administratifnya saja, semua mekanisme pasar sudah harus mengglobal tanpa batasan lagi.

Padalah apa yang terjadi pada petani kita yang masih sangat tergantung pada pemerintah. Mereka saat ini benar-benar para pejuang, karena petanilah yang secara ril menyediakan apa yang dibutuhkan rakyat. Petani telah memberikan aset tanah, modal, tenaga, dan semua sumber dayanya untuk itu mempertahankan status 'kepetaniannya,' karena mereka saat ini sudah tidak ada keuntungannya lagi. Semuanya sudah digasak para pembeli gabah dari kota. Untuk menyekolahkan anaknya dan untuk makan sehari-hari mereka sudah menerima uang dimuka untuk hasil pertanian yang nantinya dihasilkan dari sepetak sawah mereka. Mereka hanya menanamkan padi untuk para pengijon dan tengkulak.

Pemerintah bukannya melindungi para petani dari para 'pengijon' dan 'tengkulak' itu, tetapi dengan tandatangan di Forum WTO di Bali itu maka apa yang dilakukan oleh para 'pengojon' dan 'tengkulak' itu menjadi lebih legal. Forum WTO telah meresmikan para 'lintah darat' itu menjadi resmi dan tidak bisa dikendalikan lagi. Jika didesa-desa hanya sekelas 'pengijon desa' atau 'tengkulak desa' maka nanti dalam skala global akan ada 'raksasa pengojon' dan 'raksasa tengkulak' dalam skala global, dimana kendali pangan nanti akan ada ditangan para pemodal besar.

Harga komoditas pangan utama dunia, seperti beras gandum, dan jagung kian membungbung tinggi diluar jangkauan masyarakat, hal ini memicu aksi protes diberbagai belahan dunia. Utamanya negara-negara yang berada di kawasan tersebut. Dalam dekade ini sekitar 840 juta manusia di seluruh dunia masih kekurangan pangan, 799 juta berada di negara-negara berkembang. (Sumber data FOA).

Informasi ini diperkuat oleh Direktur Jendral Organisasi Pangan Dunia PBB (FOA), Dr. Jacques Diouf saat memberikan konfrensi persnya Jumat (11/4/2008). “Stock pangan dunia kritis. Stok yang ada mencapai level terendah yang belum pernah terjadi sejak tahun 1980. Untuk tahun ini sudah 5% lebih rendah dari tahun lalu”.

Dilain tempat James East seorang Direktur Komunikasi Regional World Vision International dalam RSI Siaran Inggris mengatakan masalah kenaikan harga dan pengadaan pangan merupakan masalah yang krusial terutama bagi warga miskin, yang hingga kini masih berjuang untuk mengatasinya.

“Yaa, Saya kira ketika sesuatu terjadi dan menyerang perut anda, maka sesungguhnya anda tidak akan mempunyai pilihan lain. Saya melihat photo photo yang sangat menyentuh dari Philipina dimana anak anak disana menulis sesuatu di perut mereka yang berbunyi “orang lapar adalah orang yang marah” dan ketika anda tidak mempunyai cukup uang untuk membeli makanan, maka anda tidak akan dapat berpikir jernih. Nah, itulah yang terjadi dunia saat ini. Dan ketika itu terjadi pada anda dan anak anak anda, disaat anda lapar maka anda pun akan merasa marah dan kecewa dan meluapkan rasa tersebut ke jalan.


Indonesia yang semula pada tahun 1994 pernah merasakan swasembada beras sekarang justru menjadi negara pengimpor beras dari Vietnam dan Thailand. Australia mengalami kekeringan parah yang salah satu dampaknya produksi gandum menurun drastis. Argentina justru mengalami kegagalan panen gandum akibat musim dingin yang hebat. Demikian juga Iran yang mengalami musim salju yang dampaknya belum penah terjadi separah tahun ini.

Indonesia dan negara agraris lain sebenarnya pernah menyatukan kekuatan untuk melawan hegemoni para kapitalis pangan, dalam G-21, tetapi gagal mencapai kesepakatan.  Isu pertanian pangan ini menyatukan visi G-21 terdiri dari: Argentina, Bolivia, Brazil, Chile, Cina, Kosta Rika, Kuba, Ekuador, Mesir, Guatemala, India, Indonesia, Meksiko, Nigeria, Pakistan, Paraguay, Filipina, Afrika Selatan, Thailand dan Venezuela. Tetapi kelompok negara-negara berkembang yang sebagian besar agraris ini masih tidak efektif mencapai tujuan.

Kemakmuran mendatangkan stok pangan dunia dari berbagai belahan dunia secara berlimpah. Negara yang banyak menikmati bahan pangan dunia ini yaitu Jepang, Amerika Serikat, Negara-Negara Eropa Barat yang masuk dalam dafter Uni Eropah. Oleh karena itu mari kita amati lagi mengenai stok pangan dunia.

Sebagai contoh untuk negara makmur yang menyedot pangan dunia adalah Jepang dan banyak negara maju lainnya. Jepang mengalami perubahan pola pangan yang menggeser pangan-pangan sumber kalori. Porsi beras dikonsumsi 600 kalori, tetapi pengganti beras seperti ternak, minyak/lemak, terigu, gula, ikan dan lain-lain ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ketahun.

Sebagai negara yang memiliki kemampuan lahan yang terbatas. Jepang mengandalkan kekuatan ekonomi untuk mengamankan stok pangan mereka. Impor Jepang berupa produk-produk pertanian dari sejumlah negara, dengan total impor senilai 4,578 miliar yen. Sumber bahan berasal dari Amerika mensuplay sekitar 32%, China 12%, Australia 10%, Kanada 6%, dan Thailand 5%.

Khusus untuk kommoditi kedelai, jagung, dan terigu menyedot sekitar 600 miliar yen nilai impor. Proyeksi kedepan akan terus terjadi peningkatan impor pangan Jepang. Walaupun Jepang tidak mempunyai lahan yang memadai untuk memenuhi pangan warga tetapi Pemerintah Jepang tidak kuatir karena daya beli mereka masih sangat tinggi.

Dari hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan dari 100 persen makanan yang dihidangkan di meja-meja makan penduduk di California, ternyata hanya 62% saja yang di makan. Ada yang disimpan untuk dihidangkan kembali 23% dan sisanya sebesar 15% lainnya hanya masuk ke tong sampah.

Ini bisa menjadi bukti bahwa kelangkaan pangan itu memang ada, tetapi ada hal lain selain kelangkaan yaitu hegemoni pangan dunia pada negara-negara maju, mereka boros pangan dengan menghambur-hamburkan pangan dalam berkonsumsi yang tidak efektif tetapi sebaliknya dibelahan negara lain contohnya di Afrika Tengah anak-anak mati kelaparan karena tidak mendapat akses terhadap pangan dunia akibat kemiskinan. Para pengijon raksasa yang bekerja secara global telah menjual hasil pertanain negara-negara agraris yang dibeli dengan sangat murah dan menjualnya ke negara yang kaya dengan harga yang sangat tinggi, WTO telah memberikan jalan kemenangan untuk mereka.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta