INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 03 November 2013

Ternyata Sebagian Tentara KNIL Tidak Ingin Tunduk Kepada Belanda, Dan Masih Setia Kepada RI, Sulawesi 1945

Oleh Heri Hidayat Makmun

Meskipun tentara KNIL adalah tentara bentukan Belanda, tetapi tidak semua anggota tentara pendukung setia Belanda.Ada sebagain dari mereka yang sebenarnya hanya ingin mendapatkan latihan militer dan kemudian ingin melepaskan diri setelah memegang senjata dan mendapatkan pelatihan militer yang akan menjadi bekal untuk membangun pasukan yang sangat vital dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Seperti kisah yang sering kita dengar di Jawa banyak dari mantan Haiho dan PETA untuk kemudian menjadi pendukung perjuangan Republik, maka di Makassar banyak dari pejuang adalah mantan KNIL. KNIL singkatan dari bahasa Belanda ; het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger, atau secara harafiah: Tentara Kerajaan Hindia-Belanda.

Meskipun KNIL melayani pemerintahan Hindia-Belanda, banyak di antara anggota-anggotanya yang adalah penduduk bumiputra di Hindia-Belanda dan orang-orang Indo-Belanda, bukan orang-orang Belanda.
Di antara mereka yang pernah menjadi anggota KNIL pada saat menjelang kemerdekaan adalah Mangkunegara VII, Sultan Hamid II, Oerip Soemohardjo, E. Kawilarang, A.H. Nasution, Gatot Soebroto dan T.B. Simatupang serta tentu saja Muhammad Suharto, yang kelak memegang peranan penting dalam pengembangan dan kepemimpinan di dalam angkatan bersenjata Indonesia.

Pergerakan revolusi di Sulawesi Selatan ini banyak di pelopori oleh para mantan KNIL yang masih cinta tanah kelahirannya, dan kemudian meninggalkan figure kehormatan KNIL Ratu Wilhelmina yang bagi orang Indonesia ratu Belanda itu tidak lebih dari seorang ratu yang memiliki ide penjajahan di Hindia Belanda. Kesadaran seperti ini masih ada para sebagian dari orang-orang bumi putra atau bahkan Indo Belanda yang kemudian secara sukarela dan penuh dengan resiko menggabungkan diri kepada perjuangan Republik Indonesia.
 
Proklamasi kemerdekaan sudah terdengar sampai ke Sulawesi Selatan. Melalui seorang wartawan yang bernama Mania Sophian informasi ini diedarkan. Para pemuda di Selawesi menyambut kabar tersebut dengan suka cita. Untuk mempercepat berita ini maka Manai Sophian yang mempunyak akses terhadap para tokoh-tokoh pemuda di Jawa oleh para pemuda di Sulawei Selatan di pilih menjadi Ketua pemuda untuk kemudian bertolak ke Pulau Jawa sebelum dimulai aksi-aksi pertempuran-pertempuran Makasar untuk melawan NICA.

Oleh pimpinan daerah ia antara lain diutus untuk mengadakan hubungan dengan pemerintah pusat guna mendapat bahan-bahan untuk melancarkan roda perjuangan, seperti uang, senjata dan koordiansi antara perjuangan di Sulawesi Selatan dengan di Pulau Jawa. Di Jawa Sophian menggabungkan diri sebagai pengurus PNI dan anggota KNIP.

Para Pemuda yang memiliki semangat yang berkobar-kobar pada waktu itu dan merasa bahwa perjuangan dan usaha perjuangan masih sangat tertinggal bila dibandingkan dengan teman-temanya di Jawa dan Sumatra seperti yang didengarnya melalui radio, merasa ada yang kekurangan tegasan dalam tindakan proklamasi diSulawesi.

Oleh sebab itu mereka merencanakan untuk mengadakan suatu demonstrasi secara besar-besaran pada tanggal 23 oktober 1945. Pemuda-pemuda akan berpawai pasukan demi pasukan dengan membawa bendera merah putih. Bendera harus dipertahankan dengan segala konsekuensinya bila fihak NICA nanti bertindak.

Rencana tersebut terpaksa dibatalkan setelah ada pembicaraan dengan staf gubernur. Golongan angkatan tua tidak begitu menyetujuinya, mereka beralasan bahwa usaha para kaum muda di KNIL itu justru akan membahayakan perjuangan RI selanjutnya. Memang adalah suatu kesulitan, karena panglima tentara Australia tidak dapat menyetujuinya adanya demonstrasi-demonstrasi dan pemimpin-pemimpin kita lebih mementingkan suasana yang baik dengan pimpinan Sekutu.

Rencana ini justru didukung oleh sebagian anggota KNIL di Makassar yang masih cinta tanah airnya. Memang ada dua golongan di dalam tubuh KNIL yang satu dengan lainnya sangat bertentangan. yakni golongan angkatan muda yang baru datang dari morotai (gezakstreopen) dan golongan KNIL tua yang baru dibebaskan dari kamp-kamp interniran.

Tentara KNIL dari Morotai ini telah mengalami perang yang besar untuk membela Sekutu pada saat berperang dengan Jepang pada Perang Dunia II. Mereka juga bergaul pula dengan fihak sekutu dan mempunyai sahamnya dalam perang yang berpanji “kemerdekaan” ,”demokrasi’, dan sebagainya yang dibawa oleh Sekutu.

Mereka juga telah mendengar berita proklamasi Soekarno-Hatta dari radio di Morontai. Mereka juga tahu dan ada kabar bahwa tentara KNIL setelah perang dunia II ini akan dibubarkan. Sebagian dari mereka bersedia untuk turut bergabung dengan Republik, tetapi sebagian lagi ada yang masih setia kepada Belanda. Apalagi usai tugas tentara KNIL di Morotai,  mereka dipindahkan ke Makasar. Perbedaan keinginan itu semakin tajam.

Komandan-komandan atasan mereka memang betul masih terdiri dari orang-orang Belanda, akan tetapi regu-regu dan peleton-peleton praktis dikuasai oleh kader Indonesia. Mereka membawa berpeti-peti senjata dari morotai yang dengan royal diberikan begitu saja oleh tentara Sekutu.

KNIL angkatan muda ini berasrama di Jalan Goa, Makasar, tepat berhadapan dengan markas pemuda dimana terus berkibarbsang Dwi Warna.Terjadilah kontak yang  hangat dan erat antara pemuda sekitarnya  dengan KNIL pribumi yang pernah bertugas di Morotai itu.

Para tokoh KNIL pribumi keturunan Sulawesi Selatan  inilah yang justru mengajak dan mendorong pemuda-pemuda untuk berontak terhadap Belanda. Mereka mendatangi pula Gubernur dan pemimpin-pemimpin lainya. Mereka juga membawa berpeti-peti senjata kerumah Pondaag, seorang staf kantor Gubernur, untuk dipergunakan dalam perjuangan.

Sebaliknya sikap KNIL angkatan tua (ex interniran) yang berada di tangsi justru malah sangat pro Belanda, mereka masih setia kepada Ratu Welhelmina di Belanda. Jiwa kolonial para KNIL tua dan tetap mendukung Belanda untuk masuk dan menjajah lagi. Akan tetapi persenjataan mereka pada waktu itu ,masih kurang dan merasa diliputi oleh rasa takut terhadap pemuda-pemuda yang memusuhi mereka.

Pemuda-pemuda KNIL angkatan muda tidak jemu-jemunya untuk mengajak secara bersama-sama mengajak memberontak terhadap Belanda terhadap para KNIL tua yang sebenarnya lebih senior itu. Pada mulanya dari fihak dari kita juga timbul keraguan-keraguan tentang tekad para tentara KNIL yang ingin mendukung perjuangan RI ini.  Dalam suatu peristiwa yang terjadi pada tanggal 6 desember 1945, akhirnya serombongan dari pemuda KNIL itu benar-benar menunjukkan tekadnya mereka melarikan diri dari markas di Jalan Goa bahkan dengan membawa persenjataan, yang lengkap dengan mesiu sebanyak 2 truck.

Mereka juga menolak untuk menerima perintah dari komandan KNIL untuk segera kembali. Selain memang para Komandan KNIL yang masih pro Belanda sudah semakin kehilangan wibawa, para pemuda desersi dari KNIL ini hanya ingin menerima perintah dari pemerintah Republic Indonesia dan melakukan perlawanan terhadap tentara KNIL lain yang ingin menangkap mereka. Sayangnya Pemerintah RI yang diwakili oleh Gubernur masih kurang pandai untuk benar-benar menerima mereka, akibat masih kurang yakin atas keluarnya mereka dari KNIL itu.

KNIL yang menjadi pendukung RI ini selama dua minggu lamanya mereka lari ke laut dengan menggunakan kapal. Pelarian ini untuk menghindar dari  pencarian para komandan KNIL dan NICA. Para pemuda Sulawesi Selatan membantu mereka dalam pelarian ini. Para pemuda juga masih melarang mereka mendarat mengingat bahaya-bahaya yang mungkin akan mereka dapati jika sampai para Komandan KNIL menemukan para pemberontak ini.

Dalam suatu waktu mereka semakin tidak tahan untuk tetap mendarat, karena kemungkinan mata-mata dan para pencari dapat mengetahui keberadaan mereka. Para pemuda mantan KNIL ini menyamar sebagai pedagang-pedagang dari kapal niaga.

Pemuda-pemuda KNIL ini menanyakan keadaan kota dan mereka berusaha mencari kontak untuk menjadi bagian dari tentara Republik Indonesia. Mereka secara sembunyi-sembunyi mencari tokoh-tokoh yang dapat menghubungi badan-badan ketentaraan Republik dan mengutarakan maksud mereka untuk bergabung. Tetapi sayangnya para tokoh-tokoh itu ragu-ragu untuk menerima. Para tokoh yang ditemui malah khawatir mereka adalah mata-mata NICA.

Pemuda mantan KNIL yang bernama Selendu dan Lolain, secara langsung mendatangi Gubernur Sulawesi Selatan Ratulangi dirumahnya, karena mereka ingin bertemu. Sayangnya Gubernur juga kurang percaya, maka mereka tidak dapat diterima oleh gubernur.

Pegawai Kantor Gubernur yang bernama Pantouw menerima mereka. Kedua orang bintara KNIL itu menyatakan hasrat mereka untuk menggabungkan diri dan menunggu perintah dari Gubernur. Pantouw tidak mengucapkan sesuatu yang tegas, melainkan berbicara secara berliku-liku, karena ia juga masih ragu dan khawatir Gubernur akan marah jika ia mengambil keputusan yang berbeda.

Untuk meyakinkan tekad para pemuda mantan KNIL ini mereka menyatakan kesanggupan mereka untuk berontak dan dalam satu hari untuk membersihkan Belanda-Belanda yang berada di Makasar. Mereka menyatakan kesanggupan untuk menghabisi Belanda itu karena mereka yakin dan sudah dapat dipastikan, bahwa lebih dari separuh KNIL angkatan muda di Sulawesi Selatan masih cinta kepada RI, terutana mereka dari KNIL angkatan Muda.

Gubernur Ratu Langi masih tak dapat memberikan keputusan dan meminta agar supaya mereka bersabar dahulu karena ia sedang mengadakan perundingan dengan fihak sekutu. Dan pula masih menjadi pertanyaan, Bagai mana nanti sikap sekutu dan Belanda jika mengtahui  penggabungan  para mantan KNIL itu ke Pihak RI.

Sementara itu Gubernur menggabungkan mereka terhadap pemuda-pemuda di Makasar. Penjagaan-penjagaan didalam kota pada waktu itu dikuasai oleh kompi KNIL ini, juga suatu tempat yang disebut “place camp” dimana terdapat tentara-tentara NICA yang berada di sana, penjagaan meraka ketat dan dibantu oleh tentara Australia.

Kabar mengenai pembelotan para tentara KNIL ini akhirnya didengar Belanda dan Australia. Tentara NICA dan tentara Australia bersiap-siap untuk melakukan penangkapan dan pembersihan para pembelot bagi mereka ini. Meraka akan memberikan hukuman militer yang keras, bahkan hukuman mati terhadap para tokoh mantan KNIL yang menjadi provokatornya.

Salendu dan kawan-kawan menjadi terkejut terhadap pencarian mereka ini, sementara mereka belum memastikan dapat diterima oleh tentara Republik. Mereka juga semakin khewatir dengan keselamatan para pemuda mantan KNIL. Mereka sekali lagi menghadap Gubernur dan mengusulkan agar pada saat itu juga para pemuda berontak dan kemudian melarikan diri kepedalaman, di Polong-Bangkeng.

Gubernur tak dapat memberikan sesuatu keputusan apapun, kecuali hanya memberikan saran meminta agar supaya yang pergi kepedalaman jangan lebih dari 9 orang saja untuk menyembunyikan persenjataan sebanyak dua truk yang mereka rampas, sementara yang lain lebih baik melakukan penyamaran dan bergabung dengan rakyat.

Maka pada tanggal 5 desember 1945, Lolian dan Selendu dan 6 kawan mantan KNIL lainnya 2 membawa dua truk yang berisi amunisi penuh itu ke hutan. Persenjataan yang merka bawa sangat besar nilainya, ada 6 bren besar dan persenjataan lainnya.

Mereka membuat sesuatu rencana, bila nanti para KNIL angkatan muda lain yang masih berada di markas di diperintahkan oleh Belanda untuk mengejar mereka yang melarikan diri itu, mereka akan menggabungkan diri dengan kaum pemberontak. Mereka siap akan apa saja yang terjadi.

Dengan perantaraan Staf Gubernur diperoleh penunjuk jalan untuk bersembunyi . Akan tetapi sungguh malang bagi mereka, bahwa diantara pandu-pandu itu ada seorang pemuda yang ternyata mata-mata Belanda. Pemuda bernama Najamuddin melaporkan segala sesuatunya kepada tentara NICA di Makasar.

Kepada NICA kemudian mendatangi Gubernur Ratu langi dan menuntut pengembalian Selendu dan Kawan-kawan lainnya berikut dengan segala peralatan yang mereka bawa. Gubernur memberi jawaban, bahwa pada tahun 1942 belanda sudah menyerah tanpa syarat kepada Jepang dan pada waktu itu Jendral Ter Poorten sudah membubarkan KNIL. Oleh karena itu, Gubernur tidak mengenal Hindia Belanda KNIL lagi. Ini pulalah yang menjadi pendirian hukum dari pemuda-pemuda KNIL yang memberontak itu.

Regu pemberontak sementara itu telah tiba di Sungguminasa dan bersama merekaa telah ada juga kurang lebih 20 orang bekas Heiho yang bergabung. Disini mereka kedatangan seorang “koerier Gubernur” yang membawa perintah agar mereka menunggu di Sungguminasa saja karena Gubernur akan mengadakan perundingan dengan Jendral Australia.

Pada pagi hari tanggal 9 Desember 1945 mereka menjadi terperanjat ketika diatas kepala mereka terlihat peluru-peluru isyarat. Mereka ternyata telah dikepung oleh 1 batalyon KNIL yang masih setia, tentara NICA dan 1 kompi tentara Australia.

Pemuda-pemuda berteriak: ”Angkat tangan!Jangan mau dijajah lagi!Pegang itu Belanda-Belanda!”
“Jangan tembak! Kita sama kita tidak apa……….”

Sementara itu barisan pengepungan sudah melepaskan tembakan-tembakan yang gencar sekali, sehingga mereka saling kenamengenai mereka sendiri, disebabkan cara pengepungan yang sangat rapat, akan tetapi salah. Selendu dan kawan-kawan meloloskan diri ke sungaii Jeneberang dan menceburkan diri ke dalamnya dengan dikejar-kejar oleh tembakan-tembakan mitralyur dari berbagai-bagai jurusan.

Mereka segera terkepung rapat. Akan tetapi beberapa orang berhasil untuk meloloskan diri seperti pemuda yang bernama Supit, Sumarau, Lolain, dan beberapa orang bekas Haiho. Lolain pada waktu itu membenamkan diri dibawah tanaman bunga yang terapung. Peluru-peluru bermitralyur berdesingan diatas kepalanya dan kemudian serdadu-serdadu KNIL golongan tua menyembaki dan menyambit-yambit dengan parang tempat bunga-bunga teratai diatas air. Akan tetapi ternyata Tuhan masih melindungi nyawa beberapa pemduda itu. Tetapi tidak sedikit juga yang akhirnya gugur dalam usaha melawan Belanda itu.

Selendu sendiri berhasil ditawan, sekalipun ia masih sempat untuk menyamar sebagai seorang pengail. I Ia dihina dan diinjak-injak oleh sersan Mayor/KNIL Mangantung yang masih saudara sesuku bangsanya.
Seluruhnya fihak Belanda berhasil untuk menawan 6 orang anggota KNIL yang memberontak serta 10 orang bekas haiho. Mereka selanjutnya diajukan kemuka pengadilan tentara yang diketuai oleh Mayor Smit. Salah seorang anggotanya ialah Hakim Daeng Mapuji.

Tajudin Noor bertindak sebagai pembela. Bintara-bintara ini mendapat 10 tahun keatas dan dipenjarakan dipenjara Cipinang Jakarta.

Sungguh disayangkan sekali, bahwa dalam suasana yang demikian baiknya itu terasa sekali akan kekurangan pimpinan yang revolusioner yang dapat sepenuhnya memanfaatkan kesempatan pembelotan para KNIL tersebut. Kurangnya koordinasi dan kepemimpinan membuat perjuangan di Sulawesi Selatan pada waktu itu mudah dipatahkan.

untuk menjelmakan mereka dalam waktu yang singkat menjadi pasukan- pasukan yang teratur sebagai kerena didalam tangan pemerintah RI yang masih belum kuat.

Sumber : - Dr. A.H. Nasution, "Diplomasi atau Bertempur, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia"
               - www.indonesianvoices.com

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta