INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 02 November 2013

Pertempuran TKR dan NICA Belanda Di Jawa Tengah Sangat Sengit, 1945

Jenderal Soedirman
Perjuangan TKR di Jawa Tengah menempuh perjuangan yang sulit dan penuh pengorbanan, sebab wilayah inilah yang menjadi penghubung antara Jakarta di bagian barat pulau Jawa dan Yogyakarta dan Surabaya yang berada dibagian timur Jawa. Perlintasan tentara Inggris dan NICA Belanda di wilayah ini sering menjadi pemicu pertempuran-pertempuran yang akhirnya membesar.

Kekuatan di Belanda di Jawa Tengah sebanyak satu Brigade. Brigade Bethell Belanda ini adalah brigade arteleri yang diperkuat. Tetapi karena para pemimpin Belanda memandang bahwa kekuatan para pejuang kemerdekaan masih lebih kuat, maka Brigade ini diperintahkan untuk terus melakukan kontak damai dan perjanjian gencatan senjata dengan TKR.

Pelantikan Jend. Soedirman oleh Presiden Soekarno
Mirip sepeti cara-cara yang dilakukan oleh Jenderal Christison dan juga cara Jenderal Mallaby di Surabaya yang mengelabui TKR dengan gencatan senjata, tetapi setelah kuat tentara Belanda ini melakukan serangan penuh seperti yang terjadi pada Agresi Militer I dan Agresi Militer II. Cara inilah yang ditempuh oleh Brigade Bethell yang berkedudukan di Jawa Tengah untuk menghadapi Republik.

Pada tanggal 21 Oktober 1945 pagi, di gedung gubernuran Jawa Tengah, di Semarang, dilangsungkan pertemuan antara Gubernur, beberapa orang terkemuka, wakil Angkatan Muda, kepolisian dan Walikota dengan wakil tentara pendudukan Sekutu.

Setelah diadakan perundingan, lalu diambil putusan-putusan sebagai berikut ; Tawanan-tawanan bangsa Indonesia yang ditawan oleh Jepang, selekas mungkin akan dibebaskan; Tentara Jepang akan segera dilucuti senjatanya dan kemudian dikumpulkan di suatu tempat; Penjelasan, bahwa pendudukan tentara Sekutu di kota Semarang tidak akan bertindak dalam urusan politik perintahan dan pekerjaan, terutama yang mengenai soal tata tenteram; dan Penjagaan keamanan kota akan diserahkan kepada polisi Republik Indonesia sebagai pengganti-pengganti bangsa Jepang yang kini masih terdapat dibeberapa tempat dalam kota.

Jakarta telah mengalami apa artinya hasil-hasil “diplomasi” yang demikian. Sekutu “berdiplomasi “ selama ia merasa dirinya tak cukup kuat, tapi ia bertempur jika tenaga sudah lengkap. Karena kekurangan pengertian pada fihak kita, maka kita justru memberikan kesempatan itu kepada mereka, seperti nanti tanggal 31 Oktober 1945, bahkan dengan resmi.

Sesudah TKR dan pasukan-pasukan bersenjata lain ke luar kota Semarang ats perintah pemerintah pusat, maka insiden-insiden dalam kota terus berjalan antara fihak Indonesia dengan Inggris. Pemuda-pemuda melihat betapa kaki-tangan Belanda turut sebagai Palang Merah di belakang Inggris.

Hal ini tak dapat dibiarka, karena itu serangan-serangan dilakukan. Siasat berobah. Pemuda-pemuda AMRI turut dalam polisi, juga anak-anak TKR memakai tanda-tanda polisi, yang dimasa itu berupa tanda yang disetempel oleh MP Inggris. Sementara itu serdadu-serdadu India Muslimin memberikan senjata-senjata secara sedikit demi sedikit.

Tentara TKR masuk kota setelah dari gerilya
Kekuasaan pemerintah Republik Indonesia berjalan agak lancer tetapi tidak leluasa, karena masih adanya tentara Jepang dan Sekutu yang menguasai kota. Berhubung Surabaya mulai bertempur dengan tentara Inggris, dan Bung Tomo melalui radio minta bantuan ahli-ahli senjata terutama keahlian penangkis pesawat udara, maka Cipto yang pada waktu itu mempunyai barisan tidak saja bekas Barisan Pelopor, melainkan juga bekas Heiho yang ahli senjata menembak sasaran udara, segera mengirimkan sepasukan barisannya ke Surabaya dengan kereta api dari station Tawang, dengan gembira penuh semangat, walaupun Semarang masih tetap hangat.

Pertempuran Surabaya yang meletus, menakutkan Inggris, kalau-kalua api pertempuran menyala lagi di Semarang, dan lain-lain kota, karena dewasa itu tenanganya masih terbatas kepada Divisi ke-23 untuk menduduki semua kota-kota di Jawa, sehingga maksimum kekuatannya di tiap tempat Cuma 1 brigade. Berhubung dengan itu, di Semarang mereka usahakan untuk menenteramkan keadaan.

Pada tanggal 11 November 1945 Brigadir Bethell mengharapkan dalam pidato radionya, supaya Jawa Tengah jangan terpengaruh oleh Jawa Timur. Katanya keamanan terjamin, karena Sekutu hanya membatasi diri kepada urusan APWI dan perlucutan Jepang. Sementara itu, ia memperkuat diri di Semarang dan lain-lain kedudukannya di Jawa Tengah.

Keadaan tentang di front Jawa Tengah ini sudah tentu menguntungkan Sekutu. Kalau kita teliti keadaan, maka Inggris sedang terjepit di Jawa Timur dan tiada pasukan-pasukan untuk segera member bantuan. Sekutu perlu menenteramkan front Jawa Barat di mana ada 3 brigade dewasa itu – dan front Jawa Tengah yang dipertahankan oleh Brigade Bethell, supaya Brigade Mallaby yang di Surabaya tertolong.

Kesukaran ini sampai mematangkan maksud dari Jenderal Dempsey, Panglima Angkatan Darat Inggris di seluruh Asia Tenggara, untuk mengosongkan Surabaya, yang dipertimbangkannya waktu perkunjungannya ke Jakarta pada tanggal 22 November 1945, dan supaya Inggris memusatkan tenaganya yang terbatas itu kepada Jawa Barat saja, sebagai pangkalan nanti untuk menaklukan daerah-daerah lain.

Panglima Besar Belanda Laksamana Helfrich memprotes maksud itu dan mendesak supaya Brigade mariner Belanda didaratkan juga di Surabay. Maka Inggris tidak jadi meninggalkan “kota buaya” itu, buah hati dari Koninklijke Marine.

Oleh sebab itu Jenderal Bethell mengucapkan janji-janji tadi di depan radio. Baik bagi mereka, maupun bagi kita, front yang satu tak dapat dipisah-pisah dari front yang lain. Akan tetapi bedanya ialah, bahwa mereka mempunyai satu pimpinan yang tegas, sedangkan di fihak kita tiap keresidenan dewasa itu mempunyai organisasi sendiri-sendiri di samping pelbagai pasukan kelasykaran yang bertindak sendiri-sendiri.

Maka setelah krisis Surabaya berakhir – karena penghentian pertempuran yang pertama oleh persetujuan Sukarno-Hawthorn dan kedatangan bala bantuan Divisi Mansergh – dan setelah pertempuran lebih kurang 5 hari kemudian Inggris dapat menguasai pelabuhan dan pusat kota, maka suara Brigadir Bethell di Semarang berobah dan menjadi agresif.

Hasil-hasil Jenderal Mansergh di Surabaya memberanikan Jenderal Bethell di Jawa Tengah untuk memperkeras sikapnya. Sedangkan selama insiden-insiden yang lalu fihakSekutu menyelesaikan dengan cara perundingan dengan Gubernur Wongsone goro, maka dengan insiden Pandanaran tanggal 17 November 1945, di mana 3 orang Gurkha kena tembak, di antaranya seorang mati, kini Inggris mengancam dengan tindakan keras.

Pada tanggal 17 November 1945 malam terbunuh dua orang opsir Inggris. Polisi kita bermufakat dengan tentara Sekutu untuk bersama-sama mencari si pembunu. Pada tanggal 18 pagi tiba-tiba pasukan Inggris menembaki sekitar alun-alun ke tempat-tempat kediaman rakyat, yang tidak dibalas oleh fihak kita.
Sebelum itu, di waktu dinihari, sepasukan Inggris yang dibantu oleh tank dan kereta-kereta berlapis baja mengepung gubernuran. MP dengan kurang lebih 50 orang Gurkha menggeledah gedung itu. 

Polisi istimewa pengawalnya dilucuti dan dimasukkan dalam cel dari markas Sekutu. Gubernur dijemput dengan paksa oleh Gurkha-gurkha yang berbayonet terhunus. Beberapa pucuk senjata api di kamar tamu dibeslah oleh mereka.

Oleh karna peristiwa tersebut tersiarlah kabar, juga oleh fihak penerangan Sekutu, bahwa Gubernur tertawan, akan tetapi beliau dapat meninggalkan kota dan meneruskan pimpinan dari Purwodadi.
Gubernur merundingkan insiden dengan wakil Sekutu. Sampai tiga kali Gubernur Wongsonegoro berkunjung ke markas Sekutu untuk menghindari pertempuran. Tiap kali ia mendapat jawaban, bahwa tidak akan terjadi pertempuran.

Pada tanggal 18 Noveber 1945 itu juga tengah malam, diumumkannya di depan radio, bahwa penembak di padanaran itu akan dicari dan diselidiki. Jika terdapat pembunuh yang sebenarnya ia akan diserahkan.
Sedang perundingan berjalan, Inggris sudah melakukan tindakan-tindakan secara satu fihak. 

Penjagaan mereka diperkeras di jalan-jalan. Penggerebegan-penggerebegan dilakukan. Jika kedapatan senjata teruslah yang tersangkut ditawan atau ditembak. Dan Sekutu mengumumkan jam malam mulai pukul 19.00 malam. Inggris sudah mendahului bertindak, walaupun sedang dikerjakan oleh Gubernur dan ditaati oleh rakyat apa-apa yang sudah di mufakati.

Bahkan tindakannya sudah melanggar perjanjian. Sepasukan Inggris menembaki penjaga-penjaga kantor telepon, yang kemudian didudukinya da pegawai-pegawainya semua ditahannya. sepanjang petang itu Inggris melakukan tembakan-tembakan ke atas beberapa kampong, antara lain di Bubaan sampai terjadi kebakaran.
Pemuda-pemuda menjadi panas hati, dan radio Pesindo (gelombang 103 meter) memperingatkan kepada rakyat, supaya siap sedia menghadapi segala kemungkinan, dan supaya bertindak tegas terhadap setiap pelanggaran kedaulatan kita.

Sekonyong-konyong pada tanggal 19 November 1945 pagi meskipun telah ada kata sepakat, telah tiga kali Gubernur mendapat jaminan, dan sebagainya - Inggris mulai melakukan aksi pembersih di sekitar alun-alun dengan mempergunakan sampai kepada senjata-senjata mortar. Penyerangan secara besar-besaran yang dimulai oleh Sekutu itu tidaklah dapat dibiarkan.

Maka untuk meredakan rakyat, Jenderal Bethell mendesak kepada fihak kita, dan berhubungan dengan itu Komandan Divisi IV TKR mengirimkan surat kepada para bupati di keresidenan Semarang akan menyuruh rakyat menghentikan pertempuran. Kalau tidak maka Inggris akan menggerakkan segenap angkatan darat, laut dan udaranya untuk menghancurkan rakyat kita.

Pemuda-pemuda melakukan serangan-serangan pada tanggal 19 November 1945 sore terhadap sarang-sarang NICA, yakni Hotel Sentral dan gedung BPM. Truck-truck musuh yang liwat ditembaki. Oleh musuh ditembaki kampong Demes, dimana terjadi ledakan hebat, yang meminta korban banyak dari rakyat.
Pada tanggal 20 November 1945 pukul 08.00 pagi sebuah pesawat Inggris menjatuhkan surat-surat selebaran diatas kota,supaya rakyat meninggalkan kota atau tempat-tempat yang berdekatan dengan kaum “pemberontak”, karena katanya tempat-tempat itu akan dibom.

Rakyat tetap tenang dan orang-orang yang berbelanja masih kelihatan di sana-sini. Tiba-tiba pada pukul 09.00 datanglah enam buah pesawat dari selatan. Setelah berkeliling di atas kota, sebagian menjatuhkan bom-bom diatas kota dan yang lainnya mengadakan mitralyiemen secara membabi-buta di mana-mana. Rakyat banyak yang jatuh sebagai korban dan di sana-sini terbit kebakaran.

Sehabis bombardemen itu maka pasukan di tanah serentak beraksi. Tembakan-tembakan meriam dan mortir menghujani memitrralyir tempat-tempat kediaman Indonesia

Juga pasukan-pasukan Jepang bergerak ke selatan dan masuk kampong-kampung mencari pemuda-pemuda. Tangkapan-tangkapan mereka sembelih dengan kejam sekali. Jenderal Bethell kemudian menerangkan, bahwa ia terpaksa mempergunakan Jepang, karena “pasukannya yang kecil tersebar di Jawa Tengah”.

Pemuda-pemuda kita melakukan perlawanan secara gerilya di dalam kota dan tidak dapat dienyahkan oleh musuh, malah sempat mengacaukan antara mereka sendiri.

Inggris mengirimkan bala bantuan dengan pesawat Dakota ke Semarang. Juga sebuah destroyer dating berlabuh di depan pantai, yang tersedia membantu dengan artilerinya .

Untuk memuaskan hatinya, inggris melakukan pemboman atas kota Yogyakarta dan Surakarta. Pada tanggal 25 November 1945 pagi-pagi, dating 2 buah pesawat pemburu Mosquito di atas Solo yang menyebarkan pamphlet-pamflet, bahwa stasiun radio akan dibom, karena “dipakai untuk menyiarkan kabar bohong dan menghasut rakyat melakukan pemberontakan”.

Dua puluh menit kemudian pesawat-pesawat itu, terbang 100 m di atas tanah, menjatuhkan 16 buah bom rocket di atas stasiun beserta sekitarnya. Bangunan ini rusak di bagian utar, dan beberapa rumah preman rusak pula. Korban manusia tidak ada.

Porsi yang sama dijatuhkan pukul 08.30 di atas stasiun Radio Yogyakarta, dengan bom-bom rocket 75 kg. bangunan rusak, untunglah pegawai-pegawai selamat. Gedung Sono Budoyo kenapula dan rusak juga. Korban Jiwa dari rakyat 7 orang, di antaranya 1 orang bayi.

Pada tanggal 28 November 1945 pukul 13.30-14.30 Yogyakarta diserang lagi oleh 7 buah pesawat. Sasarannya yang utama adalah sisa stasiun radio lagi. Gedung CHTH dan Balai Mataram rusak karena ledakan bom. Pekarangan markas Pelopor dan Gedung Nasional kena pula, kecuali pemboman berlangsung pula mitralyemen yang sengit. Korban jiwa terbatas kepada 3 orang dan luka-luka berat 4 orang, karena rakyat segera masuk lobang-lobang perlindungan.

Akan tetapi petangnya Radio Yogyakarta sudah di angkasa kembali meneruskan siaran-siarannya yang memarahi tentara Sekutu di Semarang.

Sementara itu pasukan-pasukan kita menekan musuh terus menerus dari arah barat dat timur. Di sektor Unggaran dan Ambarawa musuh mati-matian mengamankan jalan raya untuk lalu lintasnya. Pasukan-pasukannya harus diperbekali dari udara. Pada tanggal 23 November 1945 pertempuran berkobar sepanjang hari.

Pemboman dan mitralyemen udara dilakukan berkali-kali di atas kedudukan kita tembak jatuh di dekat Rawabening. Kampong-kampung sebelah selatan dan barat Ambarawa dibakar habis oleh pasukan-pasukan Gurkha dan Jepang.

Sementara itu anak-anak kita berhasil membakar 3 truck musuh dan 2 buah tank. Tiap-tiap hari pertempuran berlangsung dengan sengit dan pasukan-pasukan kita merintang-rintangi jalan Banyubiru-Salatiga. Destroyer musuh “Sussex” menembaki kedudukan-kedudukan kita dari laut, antara lain pelurunya banyak jatuh di sekitar Ungaran.

Walaupun tiada kesatuan pimpinan di fihak kita, namun kedudukan musuh tetap terancam. Pasukan-pasukan kita memperoleh pengalaman menghadapi serangan-serangan udara, kanonnade-kanonnade, dan sebagainya yang menjadi bekal buat pertempuran-pertempuran yang akan datang.

Salah satu sasaran kita yang penting ialah lapangan udara Kalibanteng, dimana pendaratan pesawat-pesawat Inggris sering berlaku dibawah tembakan-tembakan kita, sehingga terpaksa landasan ini mereka tutup sementara.

Berkali-kali dilakukan serangan malam, antara lain pada tanggal 18 Desember 1945 ke pertangisan Jatingaleh . kota Semarang tidak dapat keamanan di bawah pendudukan Sekutu-Jepang. Akhirnya pendudukan kota diserahkan kembali oleh Inggris kepada Jepang, yang mengadakan jam malam mulai pukul 18.00 sore, yang mempergunakan cara-cara seperti dahulu telah kita kenal , mengadakan pemeriksaan penduduk, penjualan surat-surat pendaftaran penduduk Cina, dan sebagainya.

Penderitaan rakyat tidak dapat digambarkan antara yang ikut bertempur dengan yang biasa mengungsi untuk menyelamatkan dirinya. Pertahanan sebelah timur di Mranggen (rumah wedana) dengan batas pertempuran di Kabluk,sebelah utara di Demak, dengan batas pertempuran di Genuk, sebelah barat Kendal, dengan batas pertempuran di Jrakah, di sebelah selatan Salatiga dengan batas pertempuran di Unggaran. Sejak itu kekuasaan tentara Inggris di kota Semarang merajalela. Tetapi pertempuran dengan cara gerilya terus dilancarkan dengan semboyan “Semarang harus menjadi lautan api”.

Pemunduran ibu tenaga terutama menuju ke Mranggen, dimana berada markas Resimen dari Letnan Kolonel Imam Supoyo dan dari sini menerus ke Purwodadi. Juga Gubernur Wongsonegoro mengikuti jurusan ini. Pemerintah Sipil kita di dalam kota praja menjadi lumpuh sama sekali.

Dari pemunduran-pemunduran ini antara lain anak-anak AMRI banyak meneruskan perjuangan sebagai BPRI yang kelak akan menjelma menjadi resimen Marjuki yang terkenal. Mereka membawa pula tawanan-tawanan, antara lain pemuda Rusli, karena suatu syakwasangka berhubung ada penembakan dari arah rumah nya di waktu pertempuran dalam kota. Soal-soal tawanan diselesaikan, dan Rusli tadi menggabungkan diri pada pasukan Marjuki.

Pemuda-pemuda meneruskan penyusupan-penyusupan dari Mranggen. Inggris melakukan pembersihan-pembersihan di dalam kota.

Pada bulan Januari dan Februari 1946 berlangsung beberapa kali bombardemen, baik dari laut maupun dari udara atas kedudukan-kedudukan kita diluar kota, antara lain atas Mranggen.

Colonel Hollan Iskandar yang memimpin seluruh front Jawa Tengah dewasa itu mengonsolidir pasukan-pasukan dan sektor-sektor buatmerebut Semarang kembali. Sektor Mranggen diprintahkan untuk mengadakan semacam “waterlinie”, akan tetapi daerah ini justru daerah kering adanya, sehingga tak dapat dilaksanakan.

Sayang sekali bahwa sejak pemunduran ini mulai terbit keretakan-keretakan antara kita dengan kita, terutama antara TKR dengan BPRI dan dari BPRI ini sendiri memisah suatu rombongan dengan pimpinan penyanyi Mohd. Yatno , yang kemudian menggabungkan diri ke dalam tentara laut.

Dalam pada itu TKR telah mengatur organisasinya. Divisi IV Jatikusumo, yang bertanggung jawab di daerah Semarang, mengepungnya denga n 4 resimen, yang karena kejadian-kejadian Semarang yang telah diuraikan tadi,adalah kurang sekali persenjataannya. Resimen Sunandar berada di sebelah Timur (pati), Resimen Imam Supoyo sebelah tenggara ( purwodadi), Resimen Sutijo sebelah selatan (Salatiga), dan Resimen Hendroprawoto sebelah barat(Kendal). Pasukan-pasukan dari Solo , Yogya, Kedu dan Banyumas menjadi tenaga bantuan yang kuat, dan dalam hubungan yang “inter divisi” ini, MPP dari Kolonel Hollan Iskandar mengusahakan koordinasi yang sebaik-baiknya. Maklumlah, pertahanan kita lebih berupa rakyat daripada tentara pada taraf itu.

Sementara itu terjadi peristiwa-peristiwa yang lebih terkenal di Jawa Tengah, yakni pertempuran-pertempuran Magelang,Banyubiru dan Ambarawa , yang akan diuraikan di bawah ini.
Magelang adalah pusat ketentaraan di Jawa Tengah baik di zaman Belanda maupun di zaman Jepang, seperti Bandung di Jawa Barat dan Malang di Jawa Timur. Adalah rencana Inggris dari bermula untuk menduduki ketiga pelabuhan besar, Jakarta, Semarang dan Bandung, beserta ketiga pusat milik tersebut tadi.
Pertempuran kita di Magelang melawan tentara Sekutu mulai pada tanggal 31 Oktober 1945 pukul 04.00 dini hari. Adalah mujur sekali bahwa pelucutan Jepang telah selesai, beberapa saat sebelum Sekutu memasuki kota Magelang. Kalau tidak, maka mungkin sekali Magelang mendapat nasib seperti kota-kota pendudukan yang lain. Pasukan Inggris yang masuk adalah bagian dari 1 brigade infanteri. Diduga terusnya terdiri atas 1 a 2 batalyon infanteri. Mereka dipimpin oleh Kolonel Eduard. Tenaganya menjadi besar dengan tambahan KNIL yang berada dalam kamp-kamp.

Juga disini kedatangannya pada awalnya tidak langsung membawa insiden-insiden. Mereka menyatakan maksudnya yang resmi yakni melucuti Jepang, membebaskan tawanan-tawanan dan menjamin keamanan.
Akan tetapi suasana ini ternyata tidak demikian. Yang sangat mencurigakan ialah adanya pasukan-pasukan KNIL pada mereka dan kemudian usaha mereka menduduki atau mendatangi kota distrik Muntilan di mana kamp tawanan wanita-wanita Belanda, kira-kira 30 km dari Yogyakarta, dan pula kota kabupaten Temanggung kea rah pemusatan tawanan-tawanan tentara Jepang. Pertikaian terjadi dengan pemerintah Republik yang memuncak menjadi insiden.

Pertempuran berlangsung 2 hari 2 malam, dimana mereka terus terjepit dalam kepungan TKR dan beratus-ratus, beribu-ribu barisan rakyat. Yang paling membesarkan amarah pemuda-pemuda ialah, bahwa Inggris mendatangkan pasukan Jepang dari Semarang, yang menurut berita-berita yang kita tangkap, telah mereka panaskan hatinya dengan isapan, bahwa kita telah membunuhi orang-orang Jepang di Magelang. Kelicikan ini rupanya berhasil,karena pasukan-pasukan Jepang bertindak dengan ganas sekali, dengan membabi buta menembaki dan menyembelih rakyat tua muda lelaki dan perempuan. 

Di desa Tulung saja bersama Gurkha- gurkha mereka sembelih 33 orang penduduk, diantaranya terbanyak anak-anak kecil dan perempuan.

Insiden-insiden meningkat berangsur-angsur kepada pertempuran-pertempuran dengan massa. Jelaslah di samping Inggris, turut bertindak pasukan-pasukan KNIL dari Belanda. Dan mereka bertindak keras untuk melucuti senjata pemuda-pemuda. Pada hari yang pertama telah kita ambil inisiatif buat berdiplomasidengan pimpinan tentara Inggris untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut, akan tetapi tiada hasilnya. Sepanjang hari terus terjadi pertempuran-pertempuran. Beribu-ribu pemuda mengepung kedudukan-kedudukan musuh di tangisi Tuguran, Kaderschool, Susteran, Hotel “Montagne” dan tangsi batalyon 1 dan 2. Karena pengepungan itumusuh tertutupdalam kedudukannya tiada dapat keluar. Mereka membuat perkubuan dan membela diri dengan tembakan-tembakan yang terus menerus ke semua jurusan. Lebih-lebih musuh yang di Tuguran dan Hotel “Montagne” sangat terkejut.

Pada pertengahan hari tanggal 31 Oktober 1945 musuh meminta perundingan dan supaya pertempuran dihentikan sementara, yang diluluskan oleh fihak kita. Akan tetapi perundingan tidak membawa hasil, maka karena itu pertempuran berkobar kembali, yang berlangsung terus sepanjang malam. Di waktu dinihari pemuda-pemuda telah menduduki Hotel “Montagne” dan kemudian bagian bawah dari Susteran yang menjadi tangsi Inggris itu.

Dalam pertempuran-pertempuran ini ditaksir musuh sebanyak 1500 orang, di antaranya pasukan-pasukan Gurkha yang paling ganas. Juga terdapat pasukan-pasukan Ambon. Tiga pesawat RAF meronda-ronda di atas kota. Sekonyong-konyong barisan-barisan kita mengalami serangan udara pertama. Pesawat-pesawat pemburu memitralyur markas-markas dan kendaraan-kendaraan di jalan raya. Beberapa prahoto tertembak, malah Palang Merah yang memakai tanda lengkap menjadi sasarannya, sehingga anggota-anggotanya ada yang gugur sebagai korban.

Maka dari Semarang dating pula pasukan-pasukan bantuan dan perbekalan-perbekalan Sekutu. Pasukan Jepang bertambah banyak yang turut mengambil bagian dalam aksi ini .

Peristiwa Magelang ini membawa kesibukan di Jakarta. Markas besar Sekutu berhubungan dengan Presiden Sukarno. Pada tanggal 1 November 1945 beliau berangkat ke Semarang diantar oleh Menteri Penerangan Amir Syarifudin. Di sini diadakan pertemuan dengan panglima brigade Inggris yang bertugas di Jawa Tengah. Seterusnya perjalanan dilanjutkan ke Yogyakarta, diantar oleh Gubernur Wongsonegoro dan Komisaris Tinggi R.P. Suroso.

Pada tanggal 1 November sore diadakan permusyawaratan di Hotel “Merdeka” Yogyakarta, yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin TKR dari Magelang, Staf Umum TKR dan Sultan Yogya beserta Paku Alam. Tercapai permufakatan untuk menghentikan pertempuran di Magelang.

Pada malam itu juga Presiden beserta Jenderal Urip Sumoharjo berangkat ke Semarang. Pukul 01.15 dilakukan perundingan dengan panglima tentara Inggris, yang membawa persetujuan tentang cara-cara penghentian pertempuran.

Dikeluarkanlah perintah kedua belah fihak untuk menghentikan pertempuran selambat-lambatnya pada pukul 09.00 pagi hari tanggal 2 November 1945. Kemudian Presiden dan Panglima Inggris akan berangkat ke Magelang untuk mengatur syarat-syarat perdamaian.

Selama masa perdamaian sementara ini pasukan Sekutu memperkuat personil dan persenjataannya yang sebenarnya sangat merugikan posisi TKR, karena TKR lebih siap untuk bertempur. Mungkin ini adalah sebuah pengorbanan dalam model perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang menggabungkan cara bertempur dan berdiplomasi.

Refererensi :

- Dr. A.H. Nasution, “Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia,” 1995.
- Kementrian Penerangan RI, “Lukisan Revolusi 1945 – 1949,” 1950.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta