INTERNASIONAL NASIONAL

Kamis, 28 November 2013

Penyadapan Intelejen Merupakan Bagian dari Perang Dingin

Penggunaan Virus dan Cyber War (Ilustrasi)
Oleh Sumantiri B. Sugeo

Perang pengaruh antara barat dan timur sebenarnya adalah kelanjutan dari perang dingin masa Uni Siviet - China - Eropa Timur melawan aliansi barat Amerika Serikat - Eropa Barat. Setelah terjadi perubahan konstelasi politik global pasca runtuhnya Uni Soviet yang kepemimpinannya digantikan oleh Rusia maka perang dingin lambat laun meredup.

Sebenarnya terlihat meredup itu fakta yang terlihat dipermukaan karena sesungguhnya perang dingin yang terjadi masih terus berjalan setelah tongkat estapet perang dingin dialihkan dari Uni Soviet ke Rusia yang masih kuat secara militer.

Apa yang terjadi sekarang ini dengan ramainya pemberitaan penyadapan para pemimpin Uni Eropa yang marah akibat tindakan penyadapan oleh Amerika Serikat dan Inggris. Kanselir Jerman, Angela Markel seorang mantan keluarga sosialis dengan darah Jerman Timur yang kuat berbicara lantang dan vokal sebagai protes atas penyadapan yang terjadi pada dirinya. Markel menunjukkan kekecewaannya atas persahabatan yang palsu dari Barack Obama. Pemerintah Jerman secara  aktif mengajukan sebuah usul dan tuntutan baru ke PBB tentang protokol perlindungan privasi pribadi para pemimpin negara.

Apa yang dikeluhkan Markel tidak beda dengan apa yang dikeluhkan para pemimpin Uni Eropa lain, kemudian para pemimpin Amerika Latin, dan juga negara-negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi yang merasa dimata-matai terus terkait perkembangan Suriah dan Kontra Iran.

Di Tanah air Presiden kita Sosilo Bambang Yudhoyono mengalami hal yang sama dengan menunjukkan kemarahan dan protes kepada Amerika Serikat, Australia, Singapura dan Korea Selatan atas penyadapan yang dilakukan intelegen negara-negara itu untuk mematai-matai pembuatan kebijakan dipusat dapur kebijakan Indonesia. Indonesia memutuskan beberapa kerjasama penting yang sangat menohok Australia terutama tentang imigran ilegal dan manusia perahu yang membanjiri Australia. Selama ini Indonesia dinilai efektif untuk dapat mengendalikan dan mengurangi mengalirnya manusia ke Australia.

Perang dingin yang sudah berubah dari medan perang, ke medan intelegen perbutan mafia persenjataan dan obat bius, kemudian beralih ke perebutan perbankan-perbankan negara-negara eks Eropa Timur sekarang ini sudah pindah dan merambah ke dunia on line dan informasi yang lebih dikenal sebagai cyber war (perang didunia cyberspace).

Aliansi China dan Rusia saat semakin kuat setelah kedua negara itu mengalami perkembangan ekonomi yang luar biasa. China dengan kemampuan produksi massalnya dapat menjadi pabrik bagi dunia yang efektif dengan harga yang sangat murah, demikian murahnya sampai dianggap tidak masuk akal bagi negara-negara seperti Eropa Barat atau juga seperti negara di Asia Timur, Jepang.

Demikina juga dengan Rusia yang menjadi raja energi di kawsasan Eropa. Kekuatan energinya dengan surplus gas mampu mengendalikan negara-negara di sekitarnya untuk tetapi tunduk kepada kebijakan Rusia. Sudah beberapa kali Rusia menunjukkan kekuatan energinya dengan menutup saluiran gas ke Eropa pada musim dingin yang menyebabkan krisis gas di Eropa. Pada musim dingin yang biasa menggunakan pemanas berbahan gas di Eropa Timur telah membuat ketergantungan yang besar pada gas Rusia.

Selain kekuatan energi Rusia juga memiliki kemampuan persenjataan yang hebat. Rusia banyak membangun pabrik pesawat Sukhoi, pabrik kapal selam, dan senjata serbu. Rusia banyak membantu perkembangan teknologi China dan Iran. Rusia juga mensuplay senjata untuk banyak negara seperti Korea Utara, Venejuela, Kuba, negara-negara kawasan Balkan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Jika kita lihat kondisi global dengan apa yang terjadi dengan kasus penyadapan ini dapatlah kita menyimpulkan bahwa perubahan besar yang terjadi di Aliansi Rusia - China telah menimbulkan kegelisahan bagi negara-negara aliansi Amerika Serikat - Eropa Barat - Sebagian Asia Timur dan Tenggara, tentang pengaruh bagi China dan Rusia yang semakin kuat. Perkembangan ini mereka awasi secara serius sebagai ketakutan sejarah yang mendalam sehingga mereka secara berani, gegabah, dan ceroboh mematai-matai semua pemimpin dunia yang terhitung sebanyak 30 negara didunia, termasuk Indonesia diawasi secara aktif untuk memahami perkembangan terbaru atas konstelasi saat ini.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta