INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 02 November 2013

Melihat Keunikan Jalan Malioboro Yogyakarta

Jalan Malioboro Yogyakarta yang banyak didatangi turis.
Pariwisata Yogyakarta memiliki pesona dan keunikan budaya yang sangat khas. Jangan suatu daerah menjadikan budaya dan tradisi masyarakat menjadi objek wisata yang dicari.

Yogyakarta juga sangat kental dengan tradisi keratonnya, gedung bersejarah, pasar rakyat dengan segala keunikannya, kesibukan mahasiswa dan berbagai keunikan lainnya yang jarang kita dapatkan didaerah lain.

Kali ini kita akan melihat lebih dalam tentang jalan Malioboro yang sangat terkenal itu. Jalannya sih biasa saja, tetapi dengan segala keunikan para pedagang yang menjajakan berbagai pernik, batik, makanan, dan juga para pengamen mahasiswa yang membawa peralatan yang lengkap. Kalau kita duduk dan makan dilesehan berbagai angkringan di malam hari kita benar-benar merasakan kehangatan, keramahan dan keunikan Yogya.

Jalan Malioboro Sangat Khas dengan becak dan andongnya.
Jalan Malioboro terletak di jantung Daerah Istimwewa Yogyakarta. Jalan tersebut berada antara jalan Jenderal Ahmad Yani dan jalan Abu Bakar Ali. Dijalan ini ada Kantor DPRD Di Yogyakarta.

Jalan Malioboro merupakan salah satu jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta. Ujung timur jalan ini berada di perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Yogyakarta banyak gedung bersejarah
Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Seniman-seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan ini.

Jalan Malioboro memiliki sentuhan budaya, seni, dan karakter masyarakat Jawa Yogyakarta yang kental. Mulai dari adanya andong, becak, lapak-lapak masyarakat berjualan, pengamen dan sebagainya yang justru menjadi ciri yang khas dari Yogyakarta.

Malioboro sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga, Malioboro menjadi kembang yang pesonanya mampu menarik wisatawan. Malioboro juga menjadi surga cinderamata di jantung Kota Jogja.

Pada awalnya jalan ini hanya dilewati oleh masyarakat yang hendak ke Keraton atau kompleks kawasan Indische pertama di Jogja seperti Loji Besar (Benteng Vredeburg), Loji Kecil (kawasan di sebelah Gedung Agung), Loji Kebon (Gedung Agung), maupun Loji Setan (Kantor DPRD). Namun keberadaan Pasar Gede atau Pasar Beringharjo di sisi selatan serta adanya permukiman etnis Tionghoa di daerah Ketandan lambat laun mendongkrak perekonomian di kawasan tersebut.

Orang-orang Tionghoa menjadikan Malioboro sebagai kanal bisnisnya, sehingga kawasan perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan akhirnya meluas ke arah utara hingga Stasiun Tugu. Sekarang pasar ini sangat ramai dan mewarnai Jalan Malioboro sebagai pusat belanja yang terkenal murah dan banyak ragamnya. Mulai dari pakaian batik, pernak pernik, sepatu, tas kulit, barang kerajinan dan seni.

Bagi penggemar cinderamata, Malioboro menjadi surga perburuan yang asyik. Banyak sekali yang dapat dilihat disini. Ada miniatur sepeda, becak, kapal vinisi, patung-patung prajurit keraton dan sebagainya. Berjalan kaki di bahu jalan sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki lima akan menjadi pengalaman tersendiri.

Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah. Jika pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang terbilang murah.

Selesai jalan-jalan sambil berbelanja, jika lapar kita bisa memilih berbagai menu di lapak-lapak lesehan yang tersedia. Selain beragam rasa harganya juga tergolong ekonomi. Untuk pulau kita bisa memilih becak atau andong.

Datang ke Yogya belum dianggap datang kalau belum ke Jalan Malioboro begitu kata orang Yogya, mungkin kalimat ini ada benarnya kalau kita sudah kesana bisa merasakan keunikan Yogyakarta, yang pasti nama jalan ini sudah hampir sama dengan kota Jogja itu sendiri. Konon, ada yang bilang Jalan Malioboro yang terletak 800 meter di utara Kraton Yogyakarta ini, dulunya dipenuhi karangan bunga setiap kali kraton melaksanakan perayaan.

Ingin merasakan keunikannya datanglah ke Yogyakarta, banyak hal yang sulit untuk diceritakan tetapi bisa dirasakan.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta