INTERNASIONAL NASIONAL

Selasa, 15 Oktober 2013

Perjuangan Mengusir Sekutu dan NICA di Kalimantan Barat

Para Pejuang '45 di Kalimantan Barat
Oleh Heri Hidayat Makmun

Pasca perang dunia II. Konstelasi politik global dunia berubah total. Salah satunya adalah status negara-negara yang sebelum Jepang masuk ke berbagai negara di kawasan Pasifik adalah negara jajahan dari beberapa negara Eropa Barat seperti Belanda, Perancis, Spanyol, Inggris dan Amerika Serikat (AS).

Pada tahun 1944, Belanda mengadakan perjanjian CAA (Civil Affairs Agreement.) dengan Amerika Serikat, yang ditandatangani pada 10 Desember 1944 di pulau Tacloban, Filipina. Jenderal MacArthur mewakili Amerika dan van Mook mewakili Belanda.

Selain itu Belanda juga mengikat Inggris dalam CAA pada pertemuan rahasia di Chequers yang terletak di selatan kota London, dan menghasilkan keputusan untuk penguatan misi CAA. Diantara CAA Belanda – Inggris ini muncul butir baru berupa kesepakatan dinyatakan bahwa Inggris dan Australia yang menjadi bagian dari pihak Sekutu harus mengikutsertakan pasukan-pasukan Belanda dan aparat NICA dalam setiap pendaratan yang mereka lakukan di Indonesia dan melindungai mereka di daerah-daerah pendudukan Inggris nantinya.

Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia dengan atas nama NICA masuk ke Indonesia bersama dengan Inggris dan Australia untuk masuk ke Nusantara. Di pulau Kalimantan penugasan pelucutan tentara Jepang diserahkan kepada tentara Australia. NICA bersama tentara Australia masuk ke Kalimantan Barat.

Pada masa penjajahan Belanda, Kalimantan Barat merupakan salah satu karesidenan yaitu bagian dari Gouvernementen van Borneo (GB) dengan pusat pemerintahan di Banjarmasin. Dua tahun kemudian GB ini dibagi menjadi dua residensi di mana salah satunya adalah Residentie Westerafdeling van Borneo dengan pusat pemerintahan di Pontianak. Kemudian pada masa kekuasaan Jepang Kalimantan Barat masih tetap dalam status karesidenan yang residennya berpusat di Banjarmasin, tetapi merupakan bagian dari Borneo Minseibu Cokan.

Pemerintah NICA di Kalimantan Barat mengacu pada Besluit Leutnant Gouvernuer General Nederlands Indie No 8 tertanggal 2 Maret 1948 mengakui Kalimantan Barat sebagai “Daerah Istimewa dengan Pemerintahan Sendiri”, yang dilengkapi dengan Dewan Kalimantan Barat. Daerah Istimewa Kalimantan Barat merupakan federasi dari 12 Swapraja dan 3 Neo Swapraja,masing-masing: Swapraja Sambas,Swapraja Pontianak,Swapraja Mempawah,Swapraja Landak,Swapraja Kubu,Swapraja Matan,Swapraja Sukadana,Swapraja Simpang,Swapraja Sanggau ,Swaparaja Sekadau,Swapraja Tayan,Swapraja Sintang,dan Neo Swapraja Meliau,Tanah Pinoh dan Kapuas Hulu.

Pada masa pendudukan NICA terjadi pergolakan sengit di Kalimantan Barat. Pemuda Pejuang berusaha mempertahankan kemerdekaan dengan pasukan NICA yang berusaha kembali menguasai keadaan dan ingin menancampkan kuku-kuku penjajahan di tanah Indonesia.

Pesawat-pesawat udara Australia menyebarkan pamflet-pamflet berbahasa Indonesia dan Dayak untuk memberi pengumuman bahwa Markas Tertinggi Sekutu di Asia dan Pasifik telah memberikan tugas kepada tentara Australia (yang merupakan bagian dari Sekutu yang dipimpin oleh Inggris dan AS sebagai pemenang Perang Dunia II) akan menduduki Kalimantan.

Pendaratan pesawat-pesawat Australia baik pesawat tempur dan pesawat pengangkut mulai berlangsung sejak tanggal 17-18 Oktober 1945. Dengan peralatan tempur berat dan sekitar tiga ribu tentara Australia didaratkan di Kalimantan yang mengemban tugas pada awalnya untuk melucuti tentara Jepang dan menduduki pulau Kalimantan yang pada akhirnya nanti akan diserahkan kepada NICA, sebagai bagian dari hasil pertemuan di Singapura. Mereka juga akan melaksanakan tugas pemerintahan sementara dengan dan penugasan aksi polisional untuk menjaga keamanan di Pulau Borneo tersebut. Pasukan Australia akan dibantu oleh beberapa Kompi KNIL yang merupakan tentara bentukan Belanda.

Pasukan Australia menguasai kantor-kantor pemerintahan, kantor gubernur, dan kantor-kantor jawatan perkebunan. Bendera Australia berkibar di kantor-kantor tersebut termasuk juga sekolah rakyat dan pusat-pusat keramaian. Para penduduk juga diwajibkan untuk mengibarkan bendera Australia. Berpeti-peti bendera dibagikan kepada rakyat untuk diwajibkan diikibarkan dirumah masing-masing. Tindakan pasukan Australia ini tak pelak menimbulkan perselisihan dengan masyarakat setempat yang tidak setuju untuk turut mengibarkan bendera tersebut. Khusus para pemuda menunjukkan ketidaksukaan dan aksi-aksi protes kecil untuk menunjukkan ketidaksimpatikan mereka kepada pasukan Sekutu yang ingin menjajah lagi bumi nusantara yang sebenarnya sudah di proklamasikan oleh Dwi Tunggal Soekarno - Hatta.

Tentara Australia juga mulai menduduki tangsi-tangsi Jepang dan melucuti senjata dari serdadu Nippon. Para tentara Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II ini dipulangkan dengan menggunakan kapal laut dan juga kapal pengangkut ke negaranya, sedangkan sebagian besar peralatan perang Jepang disita dan dikuasai oleh tentara Australia.

Rasa tidak senang para pemuda di Kalimantan Barat ini semakin menjadi-jadi. Para pemuda semakin sering berkumpul untuk melakukan tindakan-tindakan yang mungkin untuk merebut kembali senjata Jepang yang sekarang berada di tangan tentara Australia. Mereka juga melakukan aksi kecil-kecilan seperti pencurian senjata dan membongkar tangsi-tangsi Jepang yang belum sempat di kuasai oleh Tentara Australia untuk merebut senjata Jepang.

Pada 12 November 1945, seorang tokoh Pemuda Pejuang bernama Ali Anyang dan pejuang lainnya menyerbu ke tangsi dan gudang amunisi Belanda di Pontianak. Penyerbuan tersebut mengakibatkan beberapa orang pejuang mengalami luka berat dan ada yang gugur. Ali Anyang sendiri kemudian ditangkap dan ditahan di penjara Sungai Jawi di Pontianak.

PPRI Kalimantan Barat mengambil keputusan untuk mengadakan demonstrasi untuk menyatakan kehendak rakyat. Indonesia bukan negara yang kalah perang dunia II, sehingga berhak untuk mendapatkan peran, mendapatkan senjata rampasan dari Jepang dan tidak ikut dianeksasi oleh Sekutu.

Rapat raksasa yang diselenggarakan oleh PPRI dipusatkan di lapangan Kebon Sayur yang ternyata didukung secara antusias oleh banyak tokoh agama, tokoh masyarakat dari berbagai kalangan. Ribuan orang berkumpul dan membanjiri lapangan Kebon Sayur dari berbagai perutusan-perutusan di Kalimantan.

Perkumpulan besar ini jelas saja sangat dikhatirkan pasukan Sekutu, mereka ikut mengawasi dan memata-matai berbagai kegiatan para pemuda ini. Mereka juga secara diam-diam mendata orang-orang dan tokoh-tokoh pemuda yang dianggap berbahaya. Pasukan KNIL yang keturunan pribumi didikan Belanda ini secara diam-diam masuk dan menjalankan aksi intelejen terhadap bangsanya sendiri.

Pimpinan rapat raksasa itu di pimpin oleh seorang tokoh pemuda bernama Umri. Selain tokoh pemuda ini ada lagi tokoh pemuda lain yang menonjol seperti Jayadi Saman. Dengan antusias para pemuda itu mengikuti rapat tersebut. Para perutusan ini membicarakan soal Proklamasi Kemerdekaan yang telah didengungkan oleh Soekarno – Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Ini membuktikan bahwa Indonesia telah merdeka, sehingga tidak berhak untuk dikuasai oleh negara manapun termasuk juga Sekutu dan NICA.

Pulang dari rapat tersebut para pemuda yang terbakar rasa nasionalismenya secara berani menunjukan sikap yang tegas. Mereka bergelombolan pulang, tetapi sebelumnya mereka melakuan pawai untuk berkeliling kampung-kampung dengan berjalan kaki berramai-ramai dan juga secara berani menunjukkan sikap tidak suka kepada sekutu dengan berdemonstrasi di depan Markas Besar Sekutu yang menempati bekas gedung Keresidenan di Pontianak. Diantara para pemuda ada yang membawa bendera Merah Putih dan mereka juga melengkapi dengan bersenjataan seadanya untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Seorang pemuda dayak bernama Thomas Blaise menjadi juru bicara untuk menyampaikan maksud pemuda kepada beberapa Opsir Sekutu. Tetapi opsir itu marah-marah dan tidak mendengarkan apay yang disampaikan pemuda itu. Opsir itu juga berteriak-teriak agar meminta Thomas Blaise menyuruh massa segera bubar.

Beberapa opsir bule tentara Australia dan tentara KNIL pribumi keluar dengan memamerkan persenjataan berat dan pakaian seragam lengkap sambil menunjukkan sikap tidak bersahabat. Mereka berteriak-teriak mengusir para demontran yang masih berkumpul di Markas Besar Sekutu itu. Mereka juga mengejek-ejek dengan kata-kata yang merendahkan. Seorang tentara KNIL dengan sok mengarahkan moncong senjatanya ke arah para tokoh pemuda yang berada di barisan terdepan. Para pemuda pejuang justru tidak menunjukkan rasa takutnya mereka. Mereka justru berteriak-teriak membalas ejekan tentara Sekutu dan KNIL. Beberapa pemuda sudah menghunus pedang dan kelewang mereka bersiap jika seandainya tentara KNIL tersebut berani menembakkan senjata.

Suasana semakin tegang dengan keluarnya pasukan tambahan lain dari Markas Sekutu beberapa ratus tentara sekutu dengan persenjataan berat keluar markas. Mereka juga mempersiapkan senjata mesin dengan MM besar didepan gerbang.

Melihat kondisi ini dan khewatir akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi para pemuda pejuang seperti Umri dan Jayadi meminta para pemuda untuk membubarkan diri, tetapi ada sebagian yang masih menolak.

Tiba-tiba tentara Opsir Australia yang terlihat sebagai komandan lapangan di depan Markas Besar itu menembakkan senjata ke udara. Para serdadu Australia dan KNIL telah siap mengarahkan senjata ke kerumunan massa.

Menyadari kemungkinan yang terjadi dan ketidakseimbangan senjata akhirnya mereka membubarkan diri. Mereka pulang dengan tetap menerikkan kata-kata “Merdeka”, “Indonsia telah Merdeka”, “Alllahhu Akbar”, mereka juga meneriakkan kata-kata mengejek terhadap serdadu KNIL yang pribumi dengan kata-kata penghianat dan sebagainya.

Suasana kota Pontianak menjadi tegang. Sejak itu tentara Sekutu melakukan patroli diberbagai tempat yang dianggap rawan dan penjagaan terhadap tangsi dan gudang persenjataan diperkuat. Begitu juga dengan para pemuda yang semakin sering melakukan pertemuan-pertemuan rahasia untuk membuat tindakan kedepepan.

Tentara Sekutu juga mengumpulkan para residen yang dulunya menjadi pegawai Belanda untuk ikut mengendalikan suasana. Residen Asikin Noor yang telah lama menjadi bawahan Belanda meminta perlindungan terhadap Sekutu. Dia meminta dipindahkan ke Banjar Masin. Asikin Noor menjadi bulan-bulanan para pemuda ia merasa takut dan minta tinggal di Markas Besar Sekutu. Akhirnya permohonan Asikin Noor untuk dipindahkan direstui oleh Sekutu, dan dipindahkan ke Banjar Masin di terbangkan dengan pesawat terbang. Pengganti Asikin Noor yang menjabat sebagai Residen adalah seorang bule Belanda tentara NICA bernama Van Der Zwaal. Ia menempati kantor keresidenan dengan penjagaan sangat ketat, berbeda ketika residennya orang pribumi asli.

Tentara NICA secara diam-diam memperbanyak pasukan, bala bantuan pasukan NICA dikirimkan melalui kapal laut dan pesawat penumpang militer Australia berbendera Australia, tetapi berisi pasukan Belanda yang menamakan diri sebagai NICA. Pasukan NICA ini juga ikut dalam berbagai operasi pelucutan tentara Jepang dan operasi penguasaan kembali berbagai aset perang Jepang di Kalimantan, tetapi pakaian tentara Belanda ini masih menggunakan seragam tentara Australia dengan maksud penyamaran. Tetapi berbagai intrik ini sudah banyak diketahui oleh Para Pemuda pejuang yang menyadari adanya pasukan KNIL yang merupakan asuhan Belanda dan menerima kabar dari Pulau Jawa, khususnya dari Surabaya tentang pasukan NICA yang berbaju Inggris.

Beberapa waktu kemudian Tentara Sekutu dan NICA mengumumkan bahwa pasukan Australia sudah selesai menjalankan misi untuk melucuti tentara Jepang. Terhitung tentara Australia hanya menjalankan tugas selama satu bulan saja. Pasukan NICA secara progresif menyampaikan hal ini kesemua tempat. Sebagai penganti tentara sekutu adalah NICA, mereka belum menunjukkan bahwa NICA adalah Belanda. Bahkan Markas Besar Sekutu dalam beberapa waktu masih berbendera Australia tetapi berisi para tentara Belanda.

Patroli-patroli masa NICA semakin gencar dilakukan jauh sekali dengan masa pendudukan tentara Australia. Mereka juga menempatkan orang-orang pada berbagai pos-pos dan menugaskan petugas jaga secara bergantian. Dijalan-jalan semakin sering ditemukan tentara NICA mondar-mandir sambil menenteng senjata modern otomatis.

Untuk memperkuat kedudukan dan upaya pendekatan terhadap penduduk di Kalimantan Barat, tentara NICA membagi-bagikan makanan bekas yang sebenarnya warisan dari tentara Australia. Biskuit dan keju yang sebenarnya kedaluwarsa dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar Markas Besar, karena kelaparan yang memang melanda di Pontianak mereka menerimanya dengan suka cita.

Tentara NICA semakin berani menunjukkan jati diri pasukan NICA ditambah lagi dengan mendatangkan 5 Kompi KNIL, berisi tentara Belanda dan sedikit orang pribumi. Tentara KNIL di pimpin oleh seorang pribumi antek Belanda bernama Hamid Algadri.

NICA membagi-bagikan beberapa kain dril kepada setiap pegawai yang baru saja diangkat untuk menjalankan pemerintahan NICA di Kalimantan Barat. Pegawai masa pendudukan Jepang yang mau berkerjasama diangkat menjadi pegawai dan digaji dengan mata Gulden. Mereka juga mendapatkan jatah beras dari stok beras bekas tentara Australia yang sudah meninggalkan Kalimantan.

Hamid Algadri yang orang pribumi dan mengerti bahasa Melayu ditugaskan NICA untuk melakukan perundingan dengan para tokoh PPRI. Mereka dirayu untuk bisa diajak berkerjasama untuk pendirian negara Borneo/Kalimantan dan keluar dari NKRI. NICA mengundang tiga orang wakil PPRI yaitu Mutalib Rafai, Abu Hurirah, dan Muzanie Ranie untuk datang ke Markas Besar NICA di Keresidenan Pontianak. NICA melalui Hamid Algadri mengajak ketiga pemuda itu untuk mendukung usaha NICA untuk membentuk Republik Indonesia Serikat yang berarti keluar dari NKRI. Ketiga tokoh PPRI itu menolak dengan tegas dan malah dengan berani meminta agar NICA yang sebenarnya adalah Belanda itu keluar dari Kalimantan, karena Republik Indonesia sudah merdeka dan diproklamirkan.

Sikap keras ketiga pemuda ini menyebabkan mereka langsung ditangkap dan dipenjarakan oleh pasukan NICA. Sejak itu NICA sudah menunjukkan sikap aslinya yang Belanda asli. Sikap tangan besi dan militerisme. Semua pimimpin PPRI dan para pemuda yang dianggap dicurigai ditangkap, banyak diantara mereka yang langsung dieksekusi. Bahkan keberadaan Mutalib Rifai, Abu Hurairah dan Muzanie Ranie semakin tidak jelas. Kemungkinan mereka ditahan diberbagai tangsi-tangsi Belanda yang tersebar di Kalimantan Barat. Ada juga yang langsung dijebloskan ke dalam penjara militer bangunan bekas Jepang di Sungai Jawi.

Pemimpin pemuda lain juga seperti Rajikin, Firdaus Said, Ya’Akhmad Akib dan Siregar juga langsung menyusul ditangkap. Begitu juga para pemuda yang dianggap menjadi tokoh pergerakan atau terlibat pada rapat raksasa bebera waktu yang lalu. Mereka diperlakukan secara kejam di Penjara Sungai Jawi. Banyak diantara mereka yang meninggal ditahanan dan tidak pernah kembali lagi. Penjajahan NICA ini jauh lebih kejam dibandingkan dengan masa pendudukan Jepang yang lebih bisa diajak berkompromi.

Perjuangan semakin sulit, tetapi tidak berarti ini semua sudah selesai. Pergerakan dibawah tanah sesungguhnya semakin gencar. Para pemuda tetap melakukan siasat, seperti yang dipimpin oleh tokoh pemuda bernama Ismail Sitohang, Laijo, Umar Saidi, Hamdy Moursal dan masih banyak lagi. Mereka mengumpulkan senjata-senjata bekas Jepang yang bisa dikumpulkan sebagai bekal perjuangan melawan NICA. Mereka juga melakukan hubungan dengan teman-teman seperjuangan di Pulau Jawa yang saat itu juga semakin menggelora.

Mereka juga berencana melakukan pembakaran gudang kopra yang dikuasai oleh NICA, karena akan dijual ke luar Kalimantan. Kopra-kopra itu hasil rampasan tentara Belanda dari penduduk di Kalimantan. Mereka merencanakan pembakaran itu pada tanggal 10 Oktober 1945. Mereka melaksanakan rencana ini dengan maksud agar tentara NICA akan sibuk ke Sungai Jawi dan akan meninggalkan pelabuhan. Dipelabuhan sudah sekelompok pemuda pejuang yang bersiap merebut kapal NICA yang sedang sandar. Sayangnya aksi ini gagal dan rencana ini diketahui oleh Belanda.

Tentara NICA melakukan pembersihan terhadap kelompok Ismail ini. Pada bulan Januari 1946 Laijo dan Tahir berhasil ditangkap NICA, disusul kemudian dengan penangkapan-penangkapan tokoh pemuda pejuang lainnya. NICA juga membongkar sampai keakar-akarnya semua yang terlibat dalam rencana tersebut. Tetapi mati satu tumbuh seribu, begitulah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat.

Di Singkawang sekelompok pemuda bersenjata beberapa pucuk senjata Jepang dan tradisional yang dipimpin oleh Ali Anyang, Uray Dahlan dan tokoh pemuda pejuang lainnya kembali menyerbu tangsi militer Belanda di Bengkayang. Para pejuang berhasil menguasai Kota Bengkayang dan mengibarkan bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya. Gerakan mereka dilakukan pada tanggal 8 Oktober 1945 pukul 23.00 malam. Perjuangan mereka ini sangat berhasil gemilang. Komandan Tangsi Kontrolir Lopes Cardozo, beberapa tentara NICA, beberapa KNIL dan pegawai dilucuti senjatanya dan dimasukkan ke dalam penjara di Tangsi Bengkayang tersebut.

Tentara NICA marah besar akan serangan ini, esok harinya tanggal 9 Oktober 1945 mereka mengirimkan beberapa pasukan NICA dan KNIL ke Bengkayang untuk merebutnya kembali. Gempuran pasukan NICA yang bersenjata lengkap tidak mampu untuk dihadapi oleh para pemuda pejuang. Bambang Asmoro yang menjadi pimpinan gerakan tersebut gugur, Kepala Kampung Sungai Raya yang ikut berjuang, Mat Tangga juga gugur dengan mengenaskan karena disiksa dengan kejam oleh NICA. Beberapa pemuda pejuang juga yang tidak diketahui namanya gugur dalam serangan keras tentara NICA ini.

Di tempat lain seperti di Sanggau Ledo yang bergelok juga terjadi pertempuran sengit antara Para Pejuang dengan pasukan NICA. Para pejuang dengan senjata seadanya tetapi semangat berkobar berhasil merebut Sanggau Lodo. Para pemuda yang berhasil menguasai Sanggau Ledo ini tidak mendengar kalau Tangsi Bengkayang telah jatuh ke tangan NICA kembali. Padahal mereka sudah bersepakat setelah menyerang Sanggau Ledo akan berkumpul di tangsi Bengkayang sebagai tempat pertahanan.

Para pejuang sebanyak 27 orang bersenjata lengkap dari hasil merebut di Sanggau Lodo dengan menggunakan bus berangkat ke Bengkayang. Mereka tidak mengetahui kondisi yang ada di Bengkayang. Informasi kedatangan mereka juga sudah diketahui oleh mata-mata yang membocorkan rencana itu. Para pejuang tidak menyangka hal ini sehingga tidak bersiap diri untuk berperang.

Sebelum sampai di Bengkayang sepasukan KNIL yang dipimipin oleh opsir bule Belanda melakukan penghadangan terhadap 27 pemuda pejuang yang menggunakan bus itu. Tidak berapa lama bus itu dihujani mitraliur dan geranat yang mengakibatkan gugurnya hampir semua penumpang bus tersebut kecuali seorang pemuda yang berhasil keluar dari kemelut itu. Tetapi terus dilakukan pengejaran dan akhirnya ditangkap Belanda kemudian diperlakukan secara kejam yang akhirnya gugur juga.

Pasukan Belanda kemudian mencari Ali Anyang yang dianggap sebagai aktor dari penyerbuan tersebut. Belanda mengeluarkan sayembara dengan hadiah 25.000 gulden bagi siapa saja yang berhasil menemukan Ali Anyang. Dalam pengejaran tersebut Ali Anyang dan pejuang lainnya tetap melakukan perlawanan. Hal ini dibuktikan dengan peristiwa penyerbuan tangsi Militer Belanda di Sambas pada 10 Januari 1949. Karena terdesak, Ali Anyang dan pasukannya mundur ke hutan-hutan. Pasukan Belanda terus mengejar hingga terjadi beberapa kali bentrokan senjata antara kedua belah pihak, yaitu 18 Januari 1949 di kampung Acan perbatasan Serawak dan 20 Maret 1949 bentrokan terjadi di kampung Camar Bulan. Pertempuran-pertempuran antara Ali Anyang dan pasukannya melawan Belanda akhirnya terhenti setelah pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Di daerah Sambas para pemuda juga gergolak. Informasi proklamasi kemerdekaan disebarkan dari rumah kerumah, sehingga rakyat secara berani mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Di antara mereka terdapat seorang pemuda yang bernama Akin yang telah datang dari Jawa dan menceritakan perjuangan melawan NICA di Pulau Jawa. Gelora di Jawa ini menginspirasi para tokoh pemuda di Sambas. Pada tanggal 23 Oktober 1945 dirikan organisasi yang bertujuan menghimpun gerakan yang berupaya mempertahankan kemerdekaan dengan nama “Persatuan Bangsa Indonesia Sambas” (PERBIS) yang didukung oleh banyak pihak dan rakyat di Sambas.

Kemudian PERBIS berancana melakukan aksinya dengan melakukan aksi demonstrasi dan menyampaikan mosi tidak percaya kepada tentara NICA di Sambas. Dalam penyampaian pesan rakyat Sambas itu juga tentara NICA di minta keluar dari Sambas. Pesan ini disampaikan langsung dihadapan Asisten Residen NICA Brachveld oleh para perutusan rakyat Sambas. Brachveld marah dan mengejek, “Atas nama rakyat yang mana?”

Kemudian para pemuda Sambas melalui Komite Nasional Indonesia (KNI) yang baru saja didirikan di Sambas melakukan rapat yang diselenggarakan di rumah Ketua PERBIS, Haji Siradz Su’us pada tanggal 27 Oktober 1945. Dari rapat tersebut diputuskan untuk mengadakan rapat besar yang akan diselenggarakan di Gedung Teater di Sambas, sekaligus untuk pembentukan ranting-ranting PERBIS di Sambas.

Pada hari yang ditentukan itu berkumpulah para pemuda pejuang untuk mengikuti rapat raksasa. Dalam rapat tersebut terdengar kabar bahwa bahwa ada bendera Belanda berkibar di Gedung Kepala Distrik Sambas yang dipasang oleh seorang indo Belanda, Van Lipp seorang interniran dan bekas milisi KNIL yang tinggal di Sambas. Kemudian para pemuda naik ke atas gedung dan merobek tiga warna menjadi dua warna, Merah Putih. Setelah aksi perobekan tersebut mereka menyanyikan lagu “Indonesia Raya” yang teknya lagunya sudah didapat dan disebarkan dari pemuda Akin yang sebelum rapat besar mereka sudah menghapalkannya.

Para interniran dan beberapa anjing NICA, seperti Wedana Guntyo dan Van Lipp masih bersembunyi didalam Gedung Kepala Distrik. Para pemuda kemudian merangsak masuk gedung tersebut dan gemas dengan Van Lipp yang berani mengibarkan bendera itu di Sambas. Mereka mencari Van Lipp yang masih didalam dan membinasakannya.

Para serdadu KNIL mendengar hal ini mereka marah sekali mendengar dan berencana membalas dendam, apalagi Van Lipp itu adalah pensiunan dari tentara KNIL. Sepasukan KNIL datang ke tempat berkumpulnya para pemuda di Gedung Kepala Distrik, mereka langsung melakukan penyerangan dan penembakan yang membabi buta. Massa yang berkumpul berhamburan kemana-mana untuk bersembunyi. Banyak para pemuda yang gugur dalam insiden ini.

Setelah kejadian tersebut para pemimpim pemuda berkumpul di rumah ketua PERBIS, Haji Siradz dan bertekad untuk menghadapi apapun yang terjadi nanti. Mereka juga bertekad untuk tetap mengibarkan Sang Saka Merah Putih di rumah Ketua PERBIS tersebut.

Satu regu serdadu KNIL yang dipimpin oleh Kapten Schoors seorang pribumi Ambon datang ke rumah tersebut dan langsung melakukan penyerangan. Mereka langsung melakukan penodongan senjata ke arah Haji Siradz, Tabrani dan para pemuda yang ada dii rumah itu.

Kapten Schoors memaksa Tabrani untuk menurunkan bendera Merah Putih dari rumah itu, tetapi Tabrani menolaknya dengan tegas, kemudian Tabrani gugur setelah diberondong peluru KNIL. Demikian juga Haji Siradz Su’us dipaksa untuk menurunkan bendera, tetapi patriot ini menolak juga dengan tegas. Haji Siradz didorong-dorong dibawah tiang bendera, beliau tetap menolak. Kemudian dipukuli dan disiksa tetapi Haji Siradz tetap menolak menurunkan Sang Saka Merah Putih. Lantas akhirnya beliau ditembak juga. Haji Siradz rubuh dan perlahan-lahan membaca kalimat Sahadat, dan akhirnya gugur dengan patriot.

Perjuangan di Kalimantan Barat terus gergolak para pemuda mendengar kabar gugurnya Ketua PERBIS ini, mereka juga terinsiparsi untuk terus mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan untuk selanjutnya dilancarkan oleh para pemuda dan rakyat yang tergabung dalam organisasi-organisasi perjuangan yang bernama : PRRI, PERBIS, Batisan,ALRI Divisi IV, Pesindo, PMG, BPIKB, GERAM, BOPMP, TNI dan BKW.

Setelah di Kalimantan Barat terbentuk organisasi TNI yang pertama, pemuda-pemuda yang tadinya tergabung dalam organisasi-organisasi pemuda, kemudian menggabungkan diri dalam organisasi TNI.

Organisasi TNI yang pertama di Kalimantan Barat dibentuk di Pontianak setelah pengakuan Republik Indonesia. Tepatnya pada tanggal 8 Januari 1950, dengan nama Sub.Territorium Militer I/Kalimantan, dengan terbentuknya organisasi tentara itu, terbentuk pula unsur Kesehatannya. Organisasi dalam Sub Territorium Militer I/Kalimantan disebut JAWATAN KESEHATAN Sub Territorium Militer I/Kalimantan, ini merupakan Organisasi KESAD yang pertama di Kalimantan.

Referensi :

- Dr. A.H. Nasution, “Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia,” 1995.

- Kementrian Penerangan RI, “Lukisan Revolusi 1945 – 1949,” 1950.

- Soekarno, “Catatan-catatan iktisar perjuangan rakyat pada revolusi untuk kemerdekaan Indonesia di Kalimantan.”

- Ryan, N.J; “Sejarah Semenjong Melayu”, Oxford University, Kuala Lumpur, 1966.

- Situs : tanjungpura.kesad.mil.id

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta