INTERNASIONAL NASIONAL

Kamis, 31 Oktober 2013

Kembali Konflik China dan Jepang Memanas

Masa Imperalisme Jepang di China
Photo: wikipedia.org
Dua negara besar di Asia Timur yaitu China dan Jepang memiliki kedekatan sejarah sekaligus menjadi dua negara yang bertetangga dan memiliki sejarah konflik yang panjang.

Saat ini konflik kembali memanas setelah Jepang dianggap telah menyebarkan ancaman ke negara tetangganya China. Melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying kemarin (29/10) mengatakan China mendesak Jepang untuk menghentikan segala ancaman dan menjelaskan alasan Jepang mengerahkan jet-jet tempurnya.

Hua Chunying mengatakan pendirian China tentang masalah Pulau Diaoyu (Takeshima) sangat jelas. China menempuh jalan pembangunan yang damai. Pilihan strategis tersebut diambil China berdasarkan arus perkembangan jaman dan kepentingan fundamental negara.

China juga selalu berpendirian untuk mengendalikan dan menyelesaikan perselisihan dengan negara-negara tetangga melalui dialog dan konsultasi. Sementara itu, China sewajarnya akan dengan tegas menanggapi perbuatan Jepang yang telah megintervensi wilayah dan kedaulatan China.

Hua Chunying mengatakan dengan meninjau kembali sejarah, akan diketahui dengan jelas siapa pemelihara perdamaian dan siapa pengobar perang.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri itu mengatakan China berharap Jepang agar dapat melalukan introspeksi yang benar terhadap sejarah, mempertahankan jalan pembangunan secara damai, tidak menyerukan retorik, melainkan dengan tindakan nyata berupaya memelihara perdamaian dan kestabilan regional.

Pihak lain bagi Jepang justru China yang telah memberikan ancaman tersebut, terbukti empat kapal Penjaga Pantai China mendekati jarak teritorial 12 mil kepulauan di Laut China Timur tersebut – tidak lama sebelum sebuah pesawat militer China melintasi ruang angkasa internasional antara Okinawa dan kepulauan itu – pada bulan Juli. Jepang segera mengerahkan sejumlah pesawat jet tempur.

“Selama ini, tindakan provokatif dilancarkan terhadap daratan, laut dan ruang angkasa wilayah Jepang," kata Abe kepada surat kabar Asahi Shimbun.

“Dengan seringnya kapal pemerintah China mendekati dan berkeliling di sekitar perairan, situasi keamanan menjadi kian genting. Saya bertekad untuk memimpin dalam melindungi wilayah kita," katanya lagi dalam surat kabar yang sama.

China dan Jepang pernah terjadi beberapa kali, pada perang yang kedua yaitu pada 7 Juli 1937 sampai 9 September 1945 adalah perang terbesar antara China dan Jepang, sebelum dan selama Perang Dunia II. Perang ini adalah perang Asia terbesar pada abad ke-20.

Walaupun kedua negara telah sebentar-sebentar berperang sejak tahun 1931, perang berskala besar baru dimulai sejak tahun 1937 dan berakhir dengan menyerahnya Jepang pada tahun 1945.

Perang ini merupakan akibat dari kebijakan imperialis Jepang yang sudah berlangsung selama beberapa dekade. Jepang bermaksud mendominasi China secara politis dan militer untuk menjaga cadangan bahan baku dan sumber daya alam yang sangat banyak dimiliki China.

Pada saat yang bersamaan, kebangkitan nasionalisme China dan kebulatan tekad membuat perlawanan tidak bisa dihindari. Sebelum tahun 1937, kedua pihak sudah bertempur dalam insiden-insiden kecil dan lokal untuk menghindari perang secara terbuka. Invasi Manchuria oleh Jepang pada tahun 1931 dikenal dengan nama Insiden Mukden. Bagian akhir dari penyerangan ini adalah Insiden Jembatan Marco Polo tahun 1937 yang menandai awal perang besar-besaran antara kedua negara.

Sejak tahun 1937 sampai 1941, China berperang sendiri melawan Jepang. Setelah peristiwa penyerangan terhadap Pearl Harbor terjadi, Perang Cina-Jepang Kedua pun bergabung dengan konflik yang lebih besar, Perang Dunia II.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta