INTERNASIONAL NASIONAL

Selasa, 15 Oktober 2013

'Civil Affairs Agreement', Inggris Menyerahkan Indonesia Kepada Penjajahan Belanda

NICA dan Sekutu Inggris menyerang
Kota Surabaya.
Oleh Heri Hidayat Makmun

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia setelah Belanda terusir dari Indonesia, mereka dengan segala upaya berupaya untuk datang lagi dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah menggunakan persekutuannya dengan Inggris agar Inggris membantu Belanda untuk menguasai lagi Nusantara ini.

Kesempatan ini didapat Belanda ketika adanya Konferensi Singapura yang merupakan pelaksanaan bidang militer dan kebijakan Sekutu di Asia Fasifik.  Di Singapura terlihat sekali intrik-intrik Belanda untuk mempengaruhi Inggris membantu misi "penjajahan kembali Indonesia".

Seperti diputuskan dukungan penuh bagi misi penempatan kembali Belanda yang dalam misinya menamakan dirinya NICA (Netherlands-Indies Civil Administration). Bagaimana upaya lobi Belanda untuk kembali menjajah di Indonesia akan terasa kentalnya di pertemuan-pertemuan di Singpura ini.

Garis-garis politik sekutu sesuai dengan Civil Affairs Agreement ini menuju kepada maklumat politik Belanda dalam bulan Nopember, yang pelaksanaan bagian militernya dirundingkan di Singapura pada awal Desember 1945.

Inggris melihat upaya dalam Civil Affairs Agreement ini seperti perluasan persemakmuran raya, seperti halnya Malaysia dan Singapura yang menjadi bagian dari Keratuan Inggris Raya. Bagian ini bisa menjadi kesempatan untuk menjadikan Hindia Belanda bagian dari itu, tetapi dengan versi lain yaitu Belanda yang menempati Hindia Belanda dengan memberikan banyak konsesi kepada Inggris yang telah mengantarkan negara itu kembali mencengkram jajahannya.

Sebagai akhir dari perungdingan yang diadakan di Singapura pada tanggal 6 Desember 1945 antara Laksamana Mountbatten, Panglima tentara Sekutu di Asia Tenggara dan Field Marshall Alan Brooke, Kepala Staf Umum tentara Kerajaan Inggris,dengan panglima-panglima tentara pendudukan Sekutu di Indo Cina dan Indonesia serta wakil-wakil Perancis dan Belanda, maka diambillah ketetapan akan segera dimulainya operasi-operasi Inggris secara luas di Jawa, terutama Jawa Barat, untuk “mengembalikan keamanan”. Ini sama artinya dengan membasmi para pemuda-pemuda bersenjata Indonesia.

Dalam permusyawaratan di Singapura itu, kepada Letnan Jenderal Christison telah diberi kuasa untuk memimpin pasukan-pasukan Inggris dan Belanda di Indonesia dalam mengembalikan keamanan dan ketentraman dengan jalan kekerasan, agar supaya dapat memenuhi undang-undang dasar dan peraturan bagi Indonesia dibawah kerajaan Belanda. Menurut jalan fikiran Inggris Belanda, barulah dapat tercapai penyelsaian dengan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yang “gemang”.

Dengan demikian, maka kewajiban tentara Sekutu di Indonesia diperluas. Berhubung dengan itu, maka akan ditambah dengan pasukan-pasukan Inggris-India. Pasukan-pasukan Belanda akan dipergunakan untuk menjaga daerah-daerah yang sudah dibersihkan.

Dengan ini dimaksud pula merebut kembali semua peralatan Jepang yang telah jatuh ke tangan fihak-fihak bukan Sekutu. Begitu juga dengan seluruh senjata yang berada di tangan para pemuda Indonesia. Melucuti semua barisan ketentaraan yang pernah dibentuk oleh Jepang dan membubarkannya termasuk PETA, Seinendan, Fujinkai, dan Keibodan.

Dengan kesemuanya itu mereka bermaksud untuk mencapai “keadaan yang stabil”, yang dapat memungkinkan diselenggarakannya perundingan Indonesia-Belanda dalam suasana tenang.

Presedennya adalah, bahwa pada tanggal 10 oktober 1945, juga telah ditandatangani perjanjian antara Inggris dan Perancis, hingga markas besar tentara Inggris tidak akan mencampuri urusan dalam negeri di Indo Cina dan menyerahakan pemerintahan sipil kepada Perancis. Dalam perjanjian tersebut juga dijelaskan, bahwa pendudukan Indo Cina oleh tentara Inggris itu hanyalah untuk sementara waktu saja.

Pembicaraan tingkat tertinggi antara Inggris-Belanda berlangsung pada akhir Desember 1945 di London, di mana lebih-lebih lagi ditegaskan tentang politik Belanda – Inggris untuk kembali merebut tanah Indonesia.

Keterangan Kementerian Luar Negeri Inggris tentang pembicaraan Inggris-Belanda berkenaan dengan Indonesia termaksud di muka itu, menegaskan sekali tentang kewajiban pemerintah Inggris terhadap sekutunya, Belanda, untuk segera mendatangkan keamanan, supaya Belanda dapat meneruskan pembicaraannya dengan wakil bangsa Indonesia.

Pemerintah Inggris dan Belanda bermusyawarah tentang politik memajukan rasa mengerti antara pemimpin-pemimpin gerakan kebangsaan dan pembesar-pembesar Belanda. Tindakan-tindakan lebih lanjut akan diambil dengan segera, untuk menjamin keselamatan tawann perang dan kaum interniran di Indonesia.

Dengan demikian, pada hakekatnya Belanda telah dapat memperalat tentara India dan Inggris dibawah bendera Sekutu untuk dipergunakan mencapai tujuan politiknya di Indonesia. Perdana Menteri Belanda, Schermerhorn menjelaskannya dalam pidato radio tanggal 29 Desember 1945, bahwa pembicaraan yang dilakukannya itu telah dipengaruhi oleh satu fikiran, ialah bahwa soal Indonesia adalah soal Sekutu. Ia telah menyatakan terima kasih pemerintah Belanda kepada Inggris yang mengerti akan hal ini.

Bersama itu ia minta kepada rakyat Belanda supaya menginsyafi sulitnya pekerjaan yang dilakukan Inggris atas keputusan Sekutu. Selanjutnya ia memperingatkan rakyat Belanda, bahwa kerajaan Inggris telah melakukan tindakan-tindakan sepenuhnya dalam perang dunia yang 6 tahun lamanya itu dan mereka ingin sekali orang-orangnya lekas kembali ke tanah airnya.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta