INTERNASIONAL NASIONAL

Selasa, 15 Oktober 2013

Australia Membantu NICA dan Sekutu Masuk Ke Kalimantan

Para Pemuda Pejuang dalam
Barisan Keamanan Rakyat (BKR)
di Kalimantan Barat
Oleh Heri Hidayat Makmun

Australia merupakan salah satu anggota KTN (Komisi Tiga Negara) tetapi jauh sebelum 1949, sebenarnya para politikus di Australia mendukung Belanda untuk masuk kembali ke Indonesia.

Australia sama seperti juga Belanda adalah bagian dari Sekutu yang memenangkan perang dunia II. Pasukan Inggris yang memimpin sekutu memberikan kepercayaan kepada tentara Australia untuk membeckup Belanda yang ingin masuk kembali ke Indonesia melalui Kalimantan Barat.

Negara-negara anggota yang tergabung dalam South West Pasific Command (SWPC), seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia, Filipina, dan Rusia sangat mendukung pembentukan kembali Pemerintah Hindia Belanda.

Salah satu kebijakan penyerahan nusantara kepada Belanda setelah Jepang menyerah dilakukan melalui kebijakan SWPC yang waktu itu dipimpin Jenderal McArthur. McArthur adalah seorang jenderal Amerika Serikat yang ikut membentuk South East Asia Command (SEAC) di bawah pimpinan Laksamana Lord Mountbatten (Inggris). Australia merupakan salah satu dari pihak Sekutu. Pusat komanda SEAC di Asia Tenggara berada di Singapura.

Melalui komando dari Singapura, tentara Sekutu dan NICA masuk ke Indonesia pertama kali melalui Surabaya, tidak lama kemudian tentara Sekutu juga masuk ke Kalimantan. Informasi masuknya tentara asing ke Kalimantan sudah terdengar oleh para tokoh-tokoh pemuda di Kota Waringin yang tergabung dalam Panitia Penyongsong Republik Indonesia (PPRI) yang didirikan jauh sebelum BKR dibentuk.

Setelah berita sampai di Kotawaringin tentang perjuangan melawan Sekutu di Jawa. Untuk menghadapi kedatangan tentara asing ke Indonesia yang sudah diproklamasikan maka berdirilah dengan segera panitia Penyokong Republik Indonesia dan Angkatan Muda. Sang Merah Putih berkibar dimana-mana.

Kabar perjuangan keras di pulau Jawa telah memberikan peringatan penting terhadap para pejuang, terutama TKR di Kotawaringin dan daerah Kalimantan Barat pada umumnya untuk berhati-hati dan waspada. Para pemuda membentuk kesatuan-kesatuan untuk turut dalam perjuangan.

Rakyat kemudian memilih Pangeran Aria Bendra sebagai Kepala Pemerintahan Republik Indonesia ( yang kemudian ditangkap oleh NICA). Angkatan Muda menurunkan bendera Belanda yang dikibarkan pekarangan istana dan menyita kendaraan-kendaaraan Sultan.

Pada bulan Desember 1945, Sultan Alamsyah yang sebenarnya pejabat Negara Indonesia Serikat berbalik mendukung RI dan mengikuti jejak para pemuda-pemuda pejuang. Sebelum bulan Nopember 1945, pihak Belanda telah mengirimkan utusannya ke Sampit dan Kotawaringin dengan maksud meredam rakyat disana agar tidak memberikan perlawanan terhadap tentara Australia dan NICA, yakni bekas kontrolir Van Der Ploeg yang menerangkan kepada tokoh-tokoh masyarakat tentang maksud kedatangan NICA, yakni untuk menolong rakyat memperbaiki perekonomiannya yang rusak. Soal politik dan soal pemerintahan tidak dipercakapkan dan perundingan secara terangan- terangan tidak diselenggarakan, umumnya hanya beberapa orang saja dikunjungi atau diundang.

Para pemuda dan rakyat di Sampit dan Kotawaringin masih menahan diri dan berusaha untuk melakukan negosiasi agar tidak terjadi konflik senjata yang bisa mengorbakan jiwa. Utusan tersebut kembali ke Banjarmasin dengan membawa beberapa puluh karung gula dan beras dari Sampit, tetapi pihak Australia dan NICA berbohong dan justru militer ke Sampit dan Kotawaringin.

Pada tanggal 14 Januari 1946, di Pangkalan Bun berdatanganlah lebih kurang 2 kompi KNIL. Rakyat dan para pemuda pejuang sudah tidak percaya lagi kepada pihak Sekutu yang awalnya akan datang untuk memberikan bantuan ekonomi, tetapi justru membawa pasukan bersenjata beerat.

Pertempuran tidak bisa dielakkan lagi yang segera berkobar dan berlangsung lebih kurang dua hari dua malam antara rakyat yang tak bersenjata dengan kira – kira 400 orang serdadu bersenjata lengkap. Pangkalan Bun berhasil mereka duduki dan istana dimasukinya.

Tentara Sekutu tidak menduga kalau perlawanan rakyat akan sangat kuat dan keras. Mereka menilai perang akan berlangsung lama, sehingga mereka berusaha untuk meredam pertempuran rakyat kembali dengan upaya diplomasi curang. Sultan Alamsyah yang sebenarnya sudah mendukung para pemuda pejuang kemudian diminta untuk mengumpulkan rakyat guna mendengarkan pidato seorang Mayor Belanda.

Dalam pertemuan antara rakyat dan para perwira Australia dan NICA Belanda, seorang pemuda tak dapat menahan gelora hatinya, lalu melepaskan tembakan sehingga rakyat menjadi kacau. Pertemuan itu bubar dan kembali terjadi pertempuran yang sangat sengit.

Kotawaringin semenjak itu bergolak terus itu yang oleh Husin Hamzah dan kawan – kawan dimaksudkan untuk dijadikan pangkalan tentara penyerbu diKalimantan.

Beberapa kali terjadi pertempuran di Pangkalan Bun dan kampong–kampung disekitarnya. Di kalangan militer Belanda dan juga rakyat, banyak menjadi korban . Beberapa kampung habis dibakar oleh NICA. Bila ada rakyat yang berhasil mereka tangkap , maka ia akan dipukul sampai babak belur. Beberapa orang sampai jatuh pingsan dan patah-patah tulangnya. Ada yang disuruh berdiri ditengah-tengah bensin yang menyala-nyala. Harta orang kampung habis digarong oleh militer NICA.

*) Heri Hidayat Makmun adalah penulis pada jaringan Indonesian Voices Network Group.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta