INTERNASIONAL NASIONAL

Selasa, 08 Oktober 2013

ASEAN Menjadi Flatform Pertumbuhan Ekonomi Global

ASEAN
KTT ASEAN ke-23 akan digelar di Brunei Darussalam pada 9-10 Oktober mendatang. Para pemimpin dari 10 negara ASEAN serta Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan juga akan menghadiri KTT tersebut.

Pertemuan ini juga merupakan KTT ASEAN terakhir tahun ini. Seorang pakar Thailand Kitti Prasirtsuk berpendapat bahwa karena pertumbuhan ekonomi cenderung berpusat di kawasan Asia, maka berbagai negara akan semakin mementingkan peranan ASEAN. Hubungan Tiongkok-ASEAN pun juga akan berkembang lebih lanjut.

Kitti Prasirtsuk berpendapat di bawah latar belakang prospek ekonomi global yang tidak jelas, negara ekonomi yang baru bangkit di Asia harus memelihara pertumbuhan dan keseimbangan kekuatan global yang memihak ke Asia.

ASEAN sebagai organisasi integrasi satu-satunya di kawasan ini memainkan peranan yang semakin menarik perhatian berbagai negara.

Tahun ini adalah genap 10 tahun pembentukan kemitraan strategis Tiongkok-ASEAN. Selama 10 tahun ini, kerja sama Tiongkok-ASEAN di bidang ekonomi dan perdagangan, kebudayaan dan iptek mencapai prestasi yang luar biasa.

Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang September lalu mengatakan Tiongkok dan ASEAN adalah mitra kerja sama yang alamiah dan akan berupaya menciptakan dasawarsa intan kerja sama Tiongkok-ASEAN.

Sejak Barack Obama menjabat sebagai presiden Amerika Serikat, AS mengajukan strategi kembali ke Asia-Pasifik, dan terus menegaskan keberadaan AS di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Pemerintah Jepang Shinzo Abe ingin memperkokoh hubungan dengan berbagai negara Asia Tenggara.

Selain itu, Korsel dan India juga berupaya meningkatkan hubungan dengan berbagai negara anggota ASEAN. Kitti Prasirtsuk berpendapat,

"Jika hanya terdapat satu negara yang dominan di kawasan ini, maka ASEAN tidak ada ruang yang longgar. Sedangkan jika ada banyak negara yang dominan, ASEAN dapat memilih dan berunding.

Sementara itu, ASEAN juga perlu memperdalam proses pengintegrasian, mengeluarkan satu suara, dan meningkatkan kemampuan sendiri untuk tawar-menawar.

Namun pada aspek yang lain, jika di antara negara-negara yang dominan terdapat persaingan yang terlalu sengit, maka akan mengakibatkan ketidakstabilan, dan ini akan memainkan dampak negatif bagi ASEAN."

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta