INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 06 September 2013

Apakah CAFTA Menguntungkan Bagi Perekonomian Indonesia?

Oleh Arsi Harahap

Pada 4 Nopember 2002, pemerintah Republik Indonesia bersama negara ASEAN menandatangani Framework Agreement on Comprehensive Economic Co-operation between the Association of South East Asian Nations and the People’s Republic of China (source).

Melalui perjanjian China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) ini, maka ASEAN mulai melakukan pasar bebas di kawasan China-ASEAN.  Dan khusus negara ASEAN-6 (Indonesia, Singapura, Thailand,

Malaysia, Filipina dan Brunai) telah  menerapkan bea masuk 0% per Januari 2004 untuk beberapa produk berkategori Early Harvest Package.

Sekjen ASEAN Le Luong Minh menyatakan, selama 10 tahun ini, Ekspo China-ASEAN dengan sukses mendorong pembangunan zona perdagangan bebas ASEAN-China (CAFTA) di bawah kerangka kemitraan strategis China-ASEAN.

Selain itu kawasan perdagangan ASEAN - China ini juga diharapkan bisa mendatangkan peluang besar di bidang kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua pihak. Hal ini diutarakannya dalam upacara pembukaan Ekspo China-ASEAN kemarin (03/9).

Le Luong Minh menyatakan, CAFTA mendatangkan peluang besar bagi kerja sama saling melengkapi antara ASEAN dengan Tiongkok.

CAFTA memiliki pasar konsumsi terbesar di dunia dengan populasi sebanyak 1,95 miliar jiwa, Produk Doemstik Bruto (PDB) secara akumulatif tercatat sebanyak US$10,527 triliun.

Bertepatan dengan genap 10 tahun penjalinan kemitraan strategis Tiongkok-ASEAN, dengan menggunakan peluang-peluang tersebut, kedua pihak perlu meningkatkan kerja sama ekonomi dan perdagangan lebih lanjut.

Tetapi tentunya CAFTA juga harus dikritik dalam hal perlindungan terhadap UKM di Indonesia. Berdasarkan indeks kompetitif ekonomi China dengan Indonesia, maka dapat disimpulkan pula bahwa biaya ekonomi  produksi Indonesia tergolong lebih tinggi dibanding dengan China.

Hal tersebut terutama disebabkan ketidakefisienan birokrasi pemerintah yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi dan ketidakstabilan politik. Infrastruktur yang buruk meliputi kualitas jalan raya, alat transportasi, fasilitas telekomunikasi, dan listrik.

Itu pula yang menjadi alasan mengapa para investor asing lebih suka mengambil alih (take over) pabrik di Indonesia daripada membangun pabrik baru. Dan sebagian diantaranya lebih senang menginvestasi dalam bentuk pasar modal.

Sebagai sebuah komunitas tentu akan tetap baik baik sebuah negara yang akan meningkatkan ekonominya, tentu didalamnya akan ada peluang-peluang yang bisa diharapkan menjadi sumber ekonomi, tetapi kita jangan sampai terbawa arus dan terlalu mengikuti keadaan tetapi justru kita bisa membawa CAFTA menjadi sebuah keuntungan dalam kepentingan nasional dan juga regional ASEAN.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta