INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 10 Agustus 2013

Pengaruh Kerajaan Singosari pada Kebudayaan Melayu

Oleh Heri Hidayat Makmun

Singosari ternyata memberi warni sendiri pada pulau Sumatra khusunya dan Melayu pada umumnya. Ini bukti bahwa peran semua komponen dalam nusantara yang memberi pengaruh pada budaya Melayu.

Kebudayaan pada umumnya di nusantara merupakan bangsa maritim yang sangat gemar berpindah-pindah. Sungai dan laut dipandang sebagai penghubung dan perekat antar wilayah bukan pemisah sebagai mana yang dimaknai oleh sebagian bangsa Indonesia saat ini.

Ikatan negeri kita akan selalu terkait dengan kata "nusantara". Sebuah terminologi yang menjadi ikatan antara anak bangsa dari sabang sampai Merouke. Nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti jarak dari satu tempat ke tempat yang lain dalam arti kata Melayu. Memberikan pemahaman kepada kita akan banyaknya pulau pada negeri kita dan lautan antara pulau-pulau yang luas. Kartanegara ingin agar Pulau Sumatera tidak jatuh ketangan kekuasaan Khublai Khan tetapi bersatu dalam ikatan "Nusa Antara" yang pada akhirnya menjadi "nusantara".

Dalam suatu peristiwa pra Mojopahit, yaitu pada masa Singasari masih berdiri tercatat sebuah kejadian penting yaitu ekpedisi Singasari atas perintah Raja Kartanegara yang memerintahkan untuk melakukan pelayaran dari pulau ke pulau. Tujuan dari expedisi ini untuk menghadang ekpansi kerajaan China yang masih dikuasai oleh seorang Kaisar yang bernama Khublai Khan (Dinasti Yuan). Expedisi ini disebut expedisi Pamalayu. Pamalayu dapat bermakna perang melawan Malayu.
Expedisi ini adalah sebuah operasi militer yang dilakukan Kerajaan Singhasari pada tahun 1275 - 1293 terhadap Kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Melayu di Pulau Sumatera. Dharmasraya mengantikan peran Sriwijaya sebagai penguasa pulau Sumatera, seiring dengan melemahnya pengaruh Sriwijaya sejak diserang oleh pasukan Rajendra Coladewa dari India sekitar tahun 1020-an. Masa itu kerajaan Dharmasraya dengan rajanya yang bernama Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa.

Kertanagara menjadi raja Singhasari sejak tahun 1268. Berbeda dengan raja-raja sebelumnya, ia berniat memperluas daerah kekuasaan sampai ke luar Pulau Jawa. Gagasan tersebut dimulai tahun 1275 dengan pengiriman pasukan di bawah pimpinan Kebo Anabrang atau juga disebut Mahesa Anabrang, dan wakilnya Indrawarman (Kelak merupakan pendiri kerajaan di Sumatera Utara) untuk menaklukkan Swarnnabhumi yang berada di pulau Sumatera (nama kuno Pulau Sumatera atau Andalas).

Nagarakretagama mengisahkan bahwa tujuan Ekspedisi Pamalayu sebenarnya untuk menundukkan Swarnnabhumi secara baik-baik. Namun, tujuan tersebut mengalami perubahan karena raja Swarnnabhumi ternyata melakukan perlawanan. Meskipun demikian, pasukan Singhasari tetap berhasil memperoleh kemenangan.

Mengapa Kartanegara merasa kurang nyaman dengan ekpansi Khublai Khan? Menurut analisis para sejarawan, latar belakang pengiriman Ekspedisi Pamalayu adalah untuk membendung serbuan bangsa Mongol. Saat itu kekuasaan Kubilai Khan raja Mongol (atau Dinasti Yuan) sedang mengancam wilayah Asia Tenggara. Untuk itu, Kertanagara mencoba mendahuluinya dengan menguasai Sumatra sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut.

Banyak wilayah-wilayah dunia dari China, daerah-daerah di Asia Tengah, Timur Tengah dan Eropa Timur yang menjadi sasaran expansi Dinasti Yuan ini. Hampir separuh bumi yang telah dilalui oleh militer China tersebut.

Dari berbagai catatan sejarah sasaran berikutnya setelah Istana Melayu adalah untuk menaklukkan Sriwijaya. Dengan demikian, posisi Sriwijaya sebagai penguasa Asia Tenggara dapat diperlemah. Namun pendapat ini kurang tepat karena pada saat itu Kerajaan Sriwijaya sudah musnah.

Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 tidak pernah menyebutkan adanya negeri bernama Sriwijaya, melainkan bernama Palembang. Itu artinya pada zaman tersebut, nama Sriwijaya sudah tidak dikenal lagi. Letak dari kerajaan ini pada Aliran sungai Batanghari kabupaten Dharmasyara masa ini.

Komplek percandian di Dharmasraya adalah merupakan komplek percandian Melayu yang terbesar dan termegah di Sumatra jika dapat direkonstruksi oleh para Arkeolog, berbagai fasilitas umum lainnya seperti tempat peristirahatan raja, taman dan pasar juga terdapat disana, kemajuan pusat kerajaan Dharmasraya yang terdapat Kabupaten Dharmasraya sekarang juga dapat dilihat dari adanya irigasi dan waduk-waduk untuk mencegah terjadinya banjir. Jadi dapat dibayangkan betapa sibuknya lalulintas perdagangan dan transportasi di sungai Batanghari pada masa itu.

Berdasarkan penemuan arkeologis sungiai Batanghari pada masa lalu diarungi oleh kapal-kalapal sesar yang sudah modern (diperkirakan juga pernah ada pelabuhan kapal disi. Inilah yang dianggap oleh Kartanegara bahwa posisi kerajaan Melayu ini sangat penting dan strategis.

Catatan dari Dinasti Ming memang menyebutkan bahwa pada tahun 1377 tentara Jawa menghancurkan pemberontakan San-fo-tsi. Meskipun demikian, istilah San-fo-tsi tidak harus bermakna Sriwijaya.

Dalam catatan Dinasti Sung istilah San-fo-tsi memang identik dengan Sriwijaya, namun dalam naskah Chu-fan-chi yang ditulis tahun 1225, istilah San-fo-tsi identik dengan Dharmasraya. Dengan kata lain, San-fo-tsi adalah sebutan bangsa Cina untuk pulau Sumatera, sebagaimana mereka menyebut Jawa dengan istilah Cho-po. Jadi, sasaran Ekspedisi Pamalayu adalah menaklukkan Kerajaan Melayu. Nagarakretagama menyebut Melayu merupakan daerah bawahan di antara sekian banyak daerah jajahan Majapahit di pulau Sumatera.

Pararaton menyebutkan bahwa pasukan Pamalayu yang berangkat tahun 1275 akhirnya pulang ke Jawa sepuluh hari setelah kepergian bangsa Mongol tahun 1294.
Menurut catatan Dinasti Yuan, Kaisar Khubilai Khan mengirim pasukan Mongol untuk menyerang Kerajaan Singhasari tahun 1292. Namun, Singhasari ternyata sudah runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang. Pasukan Mongol kemudian bekerja sama dengan Raden Wijaya penguasa Majapahit untuk menghancurkan Jayakatwang.

Sesudah itu, Raden Wijaya ganti mengusir pasukan Mongol dari Pulau Jawa. Kepergian pasukan yang dipimpin Ike Mese itu terjadi pada tanggal 23 April 1293. Jadi, pemberitaan Pararaton meleset satu tahun. Dengan demikian, kepulangan pasukan Pamalayu tiba di Jawa sekitar tanggal 3 Mei 1293.

Kebo Anabrang tiba di Jawa membawa dua orang putri Melayu bernama Dara Jingga dan Dara Petak. Raden Wijaya mengambil Dara Petak sebagai istri, dan memberikan Dara Jingga kepada seorang dewa.

Dara Jingga kemudian melahirkan Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung. Adityawarman sendiri mengaku sebagai putra Adwayawarman. Nama ini mirip dengan salah satu nama pengawal arca Amoghapasa di atas, yaitu Adwayabrahma yang menjabat sebagai Rakryan Mahamantri. Jabatan ini merupakan jabatan tingkat tinggi dalam pemerintahan Singhasari. Mungkin istilah dewa dalam Pararaton merujuk kepada jabatan Adwayabrahma tersebut.

Tokoh Indrawarman ini tidak pernah kembali ke Jawa, melainkan menetap di Sumatra dan menolak kekuasaan Majapahit sebagai kelanjutan dari Singhasari. Mungkin, Indrawarman bukan komandan Pamalayu, melainkan wakilnya. Jadi, ketika Kebo Anabrang kembali ke Jawa, ia tidak membawa semua pasukan, tetapi meninggalkan sebagian di bawah pimpinan Indrawarman untuk menjaga keamanan Sumatra. Nama Indrawarman inilah yang tercatat dalam ingatan masyarakat Batak.

Dikisahkan bahwa Indrawarman bermarkas di tepi Sungai Asahan. Ia menolak mengakui kedaulatan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya sebagai ahli waris Kertanagara. Namun, ia juga tidak mampu mempertahankan daerah Kuntu–Kampar yang direbut oleh Kesultanan Aru–Barumun pada tahun 1299.

Indrawarman takut apabila Kerajaan Majapahit datang untuk meminta pertanggungjawabannya. Ia pun meninggalkan daerah Asahan untuk membangun kerajaan bernama Silo di daerah Simalungun.

Kerajaan dengan raja pertama Indra Warman ini berpusat di Dolok Sinumbah. Kelak direbut oleh orang-orang Batak dan di atasnya didirikan cikal bakal kerajaan-kerajaan Simalungun dengan identitas yang terpisah dengan Batak. Kerajaan Silo ini terdiri dari dua level masyarakat; Para Elit yang terdiri dari kaum Priayi Jawa dan masyarakat yang terdiri dari kelompok Marga Siregar Silo.

Pada tahun 1339 datang pasukan Majapahit di bawah pimpinan Adityawarman menghancurkan Kerajaan Silo. Indrawarman tewas dalam serangan itu. Adityawarman kemudian mendirikan Kerajaan Pagaruyung di daerah Minangkabau yang tunduk pada kedaulatan Majapahit.

Sumber : NKRINews.com

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta