INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 05 Agustus 2013

Mengapa Jepang dan Korea Selatan Berkonflik?

Jepang dan Korea Selatan dua negara yang secara etnis sama tetapi berbeda secara budaya dan nasionalisme. Sama-sama berkulit kuning yang sekarang menjadi  lokomotif ekonomi asia selain China. Persaingan Jepang dan Korea Selatan tidak saja dari sisi ekonomi tetapi juga kepada sejarah dan konflik perbatasan.

Perang Jepang dan Rusia, telah menjadi alasan bagi Jepang untuk memberangus saingannya tetangga dekatnya itu. Jepang beranggapan jika Korea dapat dikuasai maka Jepang memiliki tempat untuk wilayah yang baik dalam sisi pertahanan melawan Rusia.

Korea juga merupakan wilayah yang strategis bagi Jepang untuk basis pertahanannya. Jepang membutuhkan wilayah Korea selain sebagai basis pertahanan dari serangan Rusia juga merupakan sumber tenaga kerja yang pada saat itu sangat dibutuhkan Jepang untuk menyokong militer Jepang.

Bahkan sebelum perang berkobar antara Jepang dan Rusia, wilayah semenanjung Korea telah dianeksasi oleh Jepang. Jepang menganeksasi Semenanjung Korea dikarenakan kebutuhan Jepang akan sumber daya Korea dan keinginan untuk membangun imperium Jepang yang lebih luas.

Pada awalnya hubungan Jepang dan Korea berdasarkan pada hubungan dagang. Pemerintah Korea yang pada saat itu dipegang oleh kerajaan Choson membangun pemukiman untuk warga Jepang di tiga pelabuhan di Korea Selatan. Hal ini dimaksudkan agar pertumbuhan perdagangan bisa lebih meningkat. Namun hal itu menjadi bumerang bagi Korea, karena orang-orang Jepang memanfaatkan kondisi kacau di dalam negeri Korea untuk melakukan perebutan kekuasaan. Jepang melakukan serangan ke daratan Korea setelah adanya konflik internal di dalam Korea. Korea salah melakukan perhitungan akan serangan Jepang tersebut, Korea menganggap serangan Jepang tidak akan mempengaruhi wilayah Korea karena kondisi dalam negeri Jepang yang juga dalam keadaan kacau karena perebutan kekuasan, sehingga Korea tidak mempersiapkan serangan Jepang tersebut.

Serangan Jepang mengakhiri pemerintahan Choson di Korea pada tahun 518 dan sejak saat itu Jepang menguasai penuh tanah Korea. Korea menandatangani perjanjian pendudukan dengan Jepang pada 22 Agustus 1910. Kendali penuh pemerintahan di Korea di atur langsung oleh Kaisar Jepang. Demikian juga dengan urusan diplomatik dan hubungan luar negeri.
Di bawah kekuasaan Jepang, para pemuka  Korea menjamin untuk memberikan wilayahnya kepada Jepang jika dibutuhkan untuk kebutuhan perang Jepang.  Jepang menggunakan wilayah Ullengdo dan Dokdo sebagai pusat komunikasi. Pusat komunikasi tersebut sangat dibutuhkan Jepang untuk
mencegah serangan dari Rusia. Jepang membangun menara komunikasi di pulau Dokdo untuk memenuhi kebutuhan armada laut Jepang.

Wilayah Semenanjung Korea meliputi wilayah yang berada dalam territorial Korea Utara maupun Selatan. Wilayah Korea Selatan memiliki pulau terluar yaitu Ullengdo dan Dokdo. Pulau Dokdo merupakan kumpulan batu karang yang didalamnya termasuk dua karang besar yaitu Dongdo (timur) dan
Seodo (barat) ditambah dengan beberapa karang kecil yang berjumlah kurang lebih 30 buah.

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, secara otomatis wilayah yang dulu menjadi wilayah jajahan Jepang dikembalikan kepada negara/wilayah yang
berkuasa sebelumnya.

Hal ini tertuang dalam perjanjian damai Jepang atau yang lebih dikenal dengan perjanjian San Francisco tanggal 8 September 1951, yang di dalamnya memuat pasal-pasal yang menunjukkan tanggung jawab Jepang sebagai negara yang harus menanggung beban biaya yang ditimbulkan selama masa penjajahan.

Dalam perjanjian San Francisco juga tertuang pasal tentang wilayah yang harus dikembalikan kepada negara asal, tetapi Kepulauan Dokdo tidak termasuk kedalam wilayah yang harus dikembalikan oleh Jepang.

Pada pasal 2 perjanjian San Francisco hanya dibicarakan pengembalian wilayah pulau Formosa, Pescadores, Kuril dan Senkaku. Hal ini dapat diartikan
sebagai legalitas Jepang untuk memilki pulau itu. Dengan asumsi bahwa Kepulauan Dokdo merupakan daerah tak bertuan (terra nullius), Jepang memasukkan wilayah Dokdo kedalam kedaulatannya melalui prefektur shimane pada tangga 22 februari 1905 dalam keputusan dewan prefektur Shimane No 40.

Kebijakan Jepang ini diambil setelah adanya sekelompok nelayan di prefektur Oki pada 17 mei 1904 yang menginginkan legalitas pulau Dokdo dalam wilayah Jepang. Hal ini dilakukan karena nelayan tersebut mulai melakukan aktivitas perburuan singa laut di pulau Dokdo.
Dalih lain yang diberikan Jepang atas kepemilikan pulau Dokdo berupa bukti akan perjanjian pendudukan Jepang atas  Korea. Pada saat penandatanganan perjanjian pendudukan Jepang atas Korea, secara otomatis wilayah Korea merupakan bagian dari wilayah jajahan Jepang. Namun, ada satu poin yang dianggap Jepang penting untuk mengklaim pulau Dokdo adalah bahwa Pulau Dokdo tidak termasuk dalam wilayah Korea dan dapat dianggap sebagai daerah  tak bertuan (Terra Nulius).

Setiap tanggal 22 februari warga Jepang merayakan sebagai hari Takeshima, Takeshima merupakan sebutan Jepang untuk pulau Dokdo. Secara historis,  Kepulauan Takeshima merupakan wilayah kedaulatan Jepang, hal ini dibuktikan dengan telah masuknya Takeshima dalam kedaulatan Jepang sejak masa Edo sekitar tahun 1603-1868.
Pada tahun 1618 warga Jepang sudah memulai  perburuan singa laut dan pemanfaatan kayu serta bambu di wilayah Ullengdo dan Dokdo, hal ini dapat dikategorikan sebagai efektifitas atas pulau Dokdo oleh Jepang. Sehingga menurut hukum internasional Jepang merupakan pemilik yang  sah pulau Dokdo. Bahkan pada tahun 1661, pemerintah Jepang telah memberikan ijin warganya untuk melakukan perjalanan ke Takeshima.

Pada tahun 2008, Jepang kembali mempertegas klaimnya dengan cara memasukkan kepulauan Dokdo ke dalam buku kurikulum pendidikan sekolah menengah Jepang, hal ini bertujuan untuk pengenalan kepada anak-anak sekolah menengah. Selain tujuan untuk pengenalan kepada anak sekolah menengah, pemasukan wilayah Takeshima kedalam buku pelajaran sekolah menengah Jepang memilki makna bahwa jepang merupakan pemilik legalitas atas pulau Takeshima, bukan Korea Selatan atau negara manapun.

Dalam kepemilikan Kepulauan Takeshima, Jepang mendapat saingan atas kedaulautan di pulau Takeshima atau Dokdo. Klaim atas kepemilikan pulau Takeshima atau Dokdo juga ditunjukkan oleh Korea Selatan. Korea Selatan menganggap pulau tersebut merupakan bagian dari wilayahnya

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta