INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 23 Agustus 2013

Korban-Korban Pembantaian Militer Mesir Diabaikan Pemerintah Mesir

Dalam seminggu terakhir, ratusan pengikut Mursi kehilangan nyawa mereka. Keluarga mereka merasa dilecehkan pemerintah, seperti ketika berkunjung ke kamar mayat di Kairo.

Di depan rumah duka Seinhom di pusat kota Kairo, parkir lima truk berpendingin. Kendaraan-kendaraan itu memuat mayat, jumlahnya mungkin puluhan, atau bahkan ratusan. Akhir pekan lalu, beberapa jenazah sudah diantar oleh pasukan keamanan. Sementara jenazah-jenazah lainnya masih menunggu dijemput kerabat mereka.

Bangunan itu sendiri sudah tak mampu menampung jenazah. Sejak pembantaian terhadap lebih dari 640 aktivis demokrasi yang berunjukrasa,  kamar mayat tersebut penuh sesak dan berisi jenazah.
Setiap beberapa menit, ketika seorang pekerja membuka kontainer truk, bau busuk langsung menyengat melewati gang sempit. Sampah yang menggunung juga terlihat di mana-mana dan lilin wangi yang dinyalakan penduduk tak mampu melawan bau yang mengapung di udara. “Bahkan dalam kematian pun kita direndahkan pemerintah,“ ujar seorang ayah yang anaknya menjadi korban tewas.
Ibrahim adalah salah satu dari lima pemuda yang telah menempuh perjalanan dari Giza sejak pagi hari untuk mengidentifikasi jenazah seorang teman mereka.

Awalnya pada Rabu pekan lalu mereka tidak mendengar informasi apa-apa mengenainya. Teman dan keluarga korban hanya tahu bahwa di hari itu para pendukung dari Ikhwanul Muslimin berdemosntrasi di Universitas Kairo menentang kudeta militer. Pada hari Jumat, orang tua korban mendapat telepon dari polisi. Mereka mendapat kabar, putranya telah ditangkap dan diinterogasi. Pada Senin malam lalu, telepon berdering lagi. Kali ini telepon dari seorang karyawan kamar mayat.

"Tubuhnya rusak karena terlalu lama membusuk. Saya hampir tidak mengenalinya," kata salah satu pemuda itu dengan wajah pucat. Para dokter juga sudah memotong bagian tubuh, dan beberapa organ seperti jantung, sudah tidak ada lagi. Pemuda itu melanjutkan ceritanya, bahwa ia diberitahu bagian tubuh yang diambil dari jenazah kawannya itu dipindahkan ke sekolah kedokteran untuk “riset atau pendidikan“. Namun keluarga dari orang yang meninggal belum dimintai persetujuan.

Pelecehan terhadap korban jiwa disembunyikan media pemerintah. Rombongan dari Giza harus menunggu selama dua jam untuk mendapatkan sertifikat kematian rekan mereka. Padahal tak banyak waktu. Sesuai tradisi Islam, orang yang meninggal dunia harus dikubur secepatnya.

Namun pejabat berwenang masih melakukan coba-coba hingga detik terakhir. Mereka ingin menuliskan dalam catatan kematian, bahwa penyebab meninggalnya orang tersebut adalah akibat “bunuh diri“. Hal itu tidak dapat diterima oleh rekan-rekan korban.

Pejabat berwenang dari kamar mayat tak mau memberitakan sesuai apa yang terjadi. Jumlah korban jiwa dilaporkan lebih rendah ketimbang angka sebenarnya.

Para aktivis hak asasi manusia meyakini bahwa sejak Rabu pekan lalu jumlah orang yang meninggal dunia jauh lebih banyak daripada yang disampaikan pemerintah.

Warga yang tinggal di kawasan kumuh Seinab Saida, di mana kamar mayat berada, menunjukkan belas kasih kepada keluarga korban. Imam sebuah masjid di dekat situ mengumpulkan relawan, mengenakan masker pelindung untuk melawan bau menyengat. Para pemuda membantu mengangkut jenazah dengan peti mati. Lainnya datang berusaha menghibur kerabat atau teman korban.

Beberapa keluarga korban merefleksikan pemikiran ulang. “Seperti banyak warga Mesir lainnya di Lapangan Tahrir tanggal 30 Juni kami menyerukan kembalinya militer,“ ujar seorang pria dengan wajah serius, "Kini saya malu.“

Sumber : www.dw.de

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta