INTERNASIONAL NASIONAL

Rabu, 21 Agustus 2013

Jurnalis Mesir Bekerja Dalam Tekanan Militer

Jurnalis lokal maupun asing di Mesir bekerja dibawah ancaman senjata. Dari mulai hal sepele untuk memilih kalimat untuk mengilutrasikan sebuah kejadian sampai photo mana yang harus ditampilkan di sebuah media, semuanya harus dimelalui pengawasan ketat militer Mesir. Ini yang menyebabkan semua media terkesan membela pemerintah dan tentara.

Tidak cuma media milik negara, media pemberitaan swasta jika ketahuan membela pihak yang dianggap berseberangan maka akan segera diberedel, lebih ektrim lagi seperti yang terjadi pada unit pemberitaan Televisi Aljazeera yang tidak sekedar di bredel tetapi diserang bahkan dibumihanguskan.

Stasiun milik perusahaan asal Qatar tersebut terpaksa hengkang dari Kairo setelah gedung pemberitaan tempat aktivitas para wartawannya diledakkan oleh militer Mesir. Berbagai aset peralatan pemberitaan rusak berat dan dilarang beroperasi lagi.

Kontrol ini dilakukan sangat ketat dan tidak ada kata yang bisa lolos untuk bisa memberikan gambaran yang lebih jernih tentang aktivitas demontran dan mantan Presiden  Muhammad Mursi. Secara terpaksa berbagai media Mesir baik milik pemerintah atau swasta berbaris di belakang pemerintah.

Kini jalan-jalan sambil menenteng kamera menjadi tiba-tiba berbahaya, kata seorang fotografer Barat seperti dikutip AFP.

Tidak mudah bagi seorang jurnalis asing untuk sekedar mendapatkan jepretan photo apalagi sebuah wawancara walaupun dengan korban. Sebuah pengalaman terjadi pada seorang jurnalis asing. Sekelompok orang mengepung dua wartawan dari kantor berita internasional yang berusaha mewawancarai keluarga korban meninggal.

"Sekelompok orang mengelilingi saya, berusaha merampas kamera dari tangan saya," kata salah seorang wartawan kepada AFP.  Mereka lolos setelah ditolong keluarga korban, dengan berlari kencang menjauhi gerombolan itu.


Dalam tayangan sebuah televisi negara Mesir menggambarkan lagu-lagu perjuangan dengan ilustrasi pihak keamanan dan tentara Mesir yang sedang bekerja keras melindungi sebuah gedung pemerintah. Dalam tayangan berulang-ulang digambarkan aparat keamanan yang siap dimakamkan, akibat bentrokan yang mereka gambarkan dengan kelompok teroris.

Harian milik pemerintah Al-Ahram Senin kemarin mendedikasikan seluruh halaman depannya untuk isi pidato Jenderal Sisi.

Ketika polisi dan tentara menangkapi anggota-anggota Ikhwanul yang menjadi basis pendukung presiden terguling Mohamed Moursi, media mengambil bagian dalam kampanye melawan Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok Islam politik lainnya, kata komentator politik Hisham Kassem seperti yang dilansir oleh AFP.

Selama berhari-hari, tiga saluran televisi negara di Mesir menyiarkan banner berbahasa Inggris yang berarti "Mesir memerangi terorisme".

Dalam tayangan ini termasuk video arsip mengenai perang anggota Ikhwanul dalam upaya pembunuhan terhadap Presiden Gamal Abdul Nasser dan pembunuhan Presiden Anwar Sadat. 


Padahal pakta sejarah justru Rejim Hosni Mubarak dan militer mendapatkan kekuasaan setelah melakukan kudeta dan pembunuhan terhadap Anwar Sadat. 

Dalam tayangan terlihat jelas betapa media memutarbalikkan sejarah demi sebuah pencitraan kelompok pro kudeta militer Mesir.

"Dua fotografer yang menjadi sahabat saya dipukuli beberapa hari lalu oleh sekelompok anak muda ketika mengambil foto dalam sebuah gedung pemerintah.  Mereka menyeret kedua fotografer itu keluar dari gedung sembari berteriak 'Mereka mata-mata!" sebelum kemudian memukulinya." Seperti yang dikutip oleh AFP.

Tiga wartawan terbunuh di Kairo sejak Rabu pekan lalu, saat pihak keamanan menembak dari jarak jauh terhadap wartawan itu, termasuk seorang kamerawan Sky News dari Inggris.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta