INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 21 Juli 2013

Ini Alasan Indonesia Harus Konversi Energi BBM ke Gas

Membengkaknya beban fiskal untuk membiayai anggaran subsidi bahan bakar minyak akhi-akhir ini kembali ramai dibicarakan di berbagai media.

Umumnya pembicaraan terfokus pada wacana untuk mengurangi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) antara lain ada yang mengusulkan pemerintah segera menaikkan harga BBM bersubsidi dan ada pula yang mengusulkan untuk melakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi misalnya dengan menerapkan smart card, pembatasan ukuran silinder kendaraan, dan regionalisasi lokasi SPBU yang menjual BBM bersubsidi, dan sebagainya.

Secara garis besar usulan tersebut diatas dapat dikelompokkan kedalam usulan kebijakan berdasarkan mekanisme pasar yaitu menaikkan harga BBM dan usulan kebijakan non mekanisme pasar berupa penjatahan atau rationing.

Dari seluruh wacana yang dikemukakan tersebut solusi menaikkan harga BBM merupakan solusi yang paling efektif untuk mengendalikan konsumsi BBM sekaligus untuk mengurangi beban fiskal bagi membiayai susbsidi BBM. Sedangkan solusi kebijakan non mekanisme pasar berdasarkan teori maupun praktiknya akan memerlukan biaya yang cukup besar dalam pengimplementasiannya dan memiliki moral hazard atau rawan untuk diselewengkan.

Dari simpang siur pembicaraan terkait wacana untuk mengurangi beban fiskal untuk membiayai subsidi BBM,pembicaraan untuk mengalihkan BBM bersubsidi ke gas (Bahan Bakar Gas:BBG atau Liquefied Petroleum Gas for Vehicles:LGV) sebagai bahan bakar kendaraan bermotor hampir tidak terdengar. Padahal diversifikasi bahan bakar kendaraan bermotor ini jika dilakukan bersamaan dengan penaikan harga BBM akan saling mendukung karena konsumen akan memiliki pilihan yaitu membeli BBM dengan harga relatif mahal atau beralih ke gas yang harganya lebih murah.

Kebijakan untuk beralih dari BBM ke gas ini pada dasarnya sudah dirintis pemerintah sejak tahun 1986. Namun setelah 26 tahun dilaksanakan kebijakan ini dapat dikatakan tidak berhasil dan bahkan semakin menurun yang ditandai sampai tahun 2010 semakin berkurangnya jumlah SPBG maupun SPBU yang menyediakan LGV. Salah satu faktor utama penyebabnya adalah harga BBM yang sangat murah sehingga tidak ada insentif ekonomi bagi pemilik kendaraan untuk beralih ke gas (BBG atau LGV).

Sebagai ilustrasi, pada suatu kesempatan penulis menumpang sebuah taksi yang sudah dilengkapi tabung gas dan converter kit Liquefied Gas for Vehicle (LGV). LGV adalah nama lain dari LPG atau Pertamina menjualnya dengan nama produk Vigas. Menurut sopir taksi yang kami tumpangi tersebut sudah banyak taksi yang dilengkapi peralatan converter kit agar bisa menggunakan LGV atau Vigas. Sewaktu kami tanyakan apakah taxi ini menggunakan LGV? Jawabannya belum Pak. Kenapa? Karena premium murah Pak.

Pendapat sopir taksi ini masuk akal dan benar karena dari sisi volume 1 liter Premium setara dengan 1,27 liter LGV. Harga LGV per liter Rp 3.600,- sehingga harga 1,27 liter LGV = Rp 4.572, sedangkan harga premium sebesar Rp 4.500/liter. Artinya LGV setara premium sedikit lebih mahal dari harga premium sehingga tidak menguntungkan untuk beralih ke LGV. Dengan demikian maka pembagian converter kit bagi kendaraan umum termasuk taksi dapat dikatakan akan sia-sia karena tidak menguntungkan bagi operator kendaraan umum. Selain dari itu premium tersedia disemua SPBU sedangkan LGV hanya ada di 10 SPBU di DKI Jakarta.

Namun demikian bagi taksi kelas mewah yang hanya bisa menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan tinggi banyak yang beralih ke LGV karena secara ekonomis jauh lebih menguntungkan.

Tulisan ini menyoroti permasalahan penggunaan bahan bakar gas (BBG) yang sering juga disebut sebagai Compressed Natural Gas fo Vehicle (CNV) dan LPG yang sering juga disebut sebagai LPG Autogas atau Liquefied Petroleum Gas for Vehicles (LGV) sebagai bahan bakar pengganti bahan bakar minyak terutama bagi kendaraan yang menggunakan bensin premium serta mengajukan usulan kebijakan yang layak untuk ditempuh dimasa yang akan datang sehingga diharapkan tumbuhnya kembali harapan untuk beralih dari BBM ke gas sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Menurut data yang dirilis oleh World LP Gas Association (WLPGA) pada tahun 2010 lebih dari 17jutakendaraanbermotor di 53 negaramenggunakan LPG sebagaibahanbakaralternatifmenggantikan gasoil (bensin) dengan total konsumsi LPG mencapailebih dari 22,8 juta ton pertahunyang disalurkan melalui lebih dari 57 ribu LPG Filling Station di seluruh dunia. Turkey, Poland, Korea dan Italy serta Russia merupakan negara-negara pengguna LPG terbesar untuk kendaraan bermotor. Tabel berikut ini menunjukkan tingkat konsumsi LPG dan jumlah kendaraan yang menggunakan LPG serta jumlah stasiun pengisian LPG di beberapa negara.

Australia merupakan negara pengguna LPG perkapita terbesar untuk kendaraan bermotor yaitu mencapai 115 liter perkapita pertahun. Di Australia saat ini sekitar 550 ribu kendaraan bermotor dan 97% taxi menggunakan LPG sebagai bahan bakar. Di Australia LPG untuk kendaraan bermotor didistribusikan oleh lebih dari 3.200 gas station.

Keuntungan penggunaan LPG untuk kendaraan bermotor adalah emisi gas buang yang rendah, biaya bahan bakar yang lebih murah dibanding gasoline dan mesin kendaraan lebih awet.

Dari sisi volume konsumsi LPG rata-rata sekitar 25-28% lebih banyak dibandingkan bensin (gasoline), namun harga pasar eceran LPG perliter di Australia rata-rata 50% dari harga gasoline. Di Turki harga LPG Autogas sekitar 55% dari harga gasoline (RON 95).

Di Indonesia Pertamina melalui beberapa SPBU di Jakarta sudah memasarkan LPG untuk kendaraan bermotor dengan nama produk “vigas”.Vigas merupakan bahan bakar beroktan lebih tinggi dari 98 yang sangat bersih, melebihi Pertamax. Sebagai perbandingan bilangan oktan bensin premium adalah 88 dan bilangan oktan Pertamax adalah 92.

Pada harga minyak mentah USD 75/barrel dan kurs Rp 9.100/USD, harga vigas Pertamina Rp 3.600/liter dan harga bensin premium non subsidi Rp 5.900/liter. Dengan demikian harga retail vigas Pertamina sekitar 60% dari harga bensin premium non subsidi.

Harga LGV dinegara-negara pengguna utama seperti Turkey, Korea, Poland, Italy, Japan dan Australia bervariasi antara 50% sampai 60% dari harga gasoline. Grafik berikut ini menunjukkan perbandingan harga retail LGV terhadap harga retail gasoline di beberapa negara yang sudah menggunakan LGV.

Indonesia memiliki sumber gas alam yang cukup berlimpah namun sebagian besar sudah terikat kontrak ekspor jangka panjang maupun untuk kebutuhan domestik seperti untuk pabrik pupuk/petrokimia dan untuk pembangkit listrik sehingga diperlukan waktu paling cepat antara 5 sampai 10 tahun untuk dapat meningkatkan pasokan gas bagi memenuhi kebutuhan transportasi domestik.
Selain dari itu juga dibutuhkan pembangunan infrastruktur untuk mengangkut gas dari lapangan produksi ke sentra-sentra konsumen terutama di P. Jawa, Bali dan Sumatera sehingga diperlukan waktu yang cukup lama untuk menyiapkan infrastruktur tersebut. Jika pembangunan jaringan perpipaan untuk mengangkut gas tidak dimungkinkan maka perlu dibangun LNG Receiving terminal di sentra-sentra konsumsi gas terutama di P. Jawa dan Bali yang tentunya juga memerlukan waktu yang cukup lama. Dengan kondisi tersebut maka kebijakan penggunaan NGV dalam waktu dekat (sampai 2015) sebagai bahan bakar alternatif bagi kendaraan bermotor akan sangat terbatas sekali karena kendala ketersediaan gas dan ketersediaan infrastruktur sehingga kebijakan ini cocok untuk dikembangkan dalam jangka panjang 10 atau 20 tahun mendatang. Namun sebagai tahap awal kebijakan ini bisa dimulai sesuai dengan ketersediaan gas yang ada dan hanya difokuskan bagi kendaraan umum berukuran besar seperti angkutan bus di wilayah Jabodetabek, Surabaya dsb.

Dari gambaran diatas jelas terlihat bahwa penyediaan bahan bakar alternatif dalam jumlah besar dan waktu yang relatif lebih cepat adalah LGV. Berdasarkan pengalaman negara yang sudah lama menggunakan LGV kiranya perlu disusun perencanaan yang komprehensif mulai dari penyediaan gas LPG, penyediaan converter kit dan tanki LGV untuk kendaraan, sampai pembangunan dispenser LGV di setiap SPBU. Perencanaan tersebut juga memuat insentif kebijakan yang perlu/layak untuk diberikan sebagaimana juga dilakukan oleh negara-negara yang sudah lama menggunakan LGV.

Dampak Non Ekonomi

LPG Autogas atau LGV menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih rendah dibandingkan gasoline. LGV memiliki gas buang lebih rendah 20% dibandingkan gasoline.

Dari penelitian yang dilakukan di Australia untuk jarak tempuh 10.000 km/tahun: (a) Kendaraan 4 silinder dengan konsumsi bensin 12 liter/100 km jika menggunakan LGV dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 420 kg/tahun; (b)Kendaraan 6 silinder dengan konsumsi bensin 15 liter/100km jika menggunakan LPG dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 525 kg/tahun; (c)Kendaraan 8 silinder dengan konsumsi bensin 20 liter/100km jika menggunakan LPG dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 700 kg/tahun.

Dengan asumsi untuk kendaraan 4 silinder dengan jarak tempuh 10.000 km/tahun dan konsumsi premium 12 liter/100 km (1.200 liter/tahun), jika bahan bakarnya dialihkan dari bensin premium ke LPG dapat mengurangi emisi CO2 sebanyak 420 kg/tahun.

Jika 10 juta kiloliter bensin premium yang dikonsumsi dialihkan ke LPG maka potensi pengurangan emisi CO2 sebanyak 3,5 juta ton pertahun. Jika seluruh bensin premium yang dikonsumsi pada tahun 2012 (24,41juta kiloliter) dialihkan ke LPG maka potensi pengurangan emisi CO2 sebesar 8,5 juta ton pertahun.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta