INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 21 Oktober 2012

Mengapa VOC Bisa Bangkrut?

Pada abad ke-18 secara resmi sebagian wilayah Nusantara yang semula dikuasai oleh VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) yang merupakan perusahaan dagang ini kemudian dikuasai oleh Pemerintah Belanda.

Para pejabat Belanda yang berada di pelarian membentuk Pemerintah Hindia Belanda di Nusantara pada tahun 1798. Perlu diketahui disini bahwa para pejabat masa Hindia Belanda itu adalah para politikus Belanda dan Pejabat Militer yang melarikan diri dari kepungan Militer Napolean Bonaparte yang terkenal kuat pada masa itu.

VOC mengalami kerugian besar setelah berperang dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. VOC yang merupakan perusahaan BUMN kerajaan Belanda itu mengalami kerugian sebesar 134,7 juta gulden.

Para politikus Belanda di Eropa memang secara licik juga membuat VOC semakin merugi dengan meniadakan izin operasi perusahaan (oktroi) nya. Upaya ini supaya melancarkan rencana membangun Pemerintahan di Hindia Belanda. Kekuasaan yang semula di tangan VOC akan ditangani langsung oleh Pemerintah Hindia Belanda yang berpusat di Batavia dibawah Gubernu Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten.

Untuk membangun pusat administrasi pemerintahan Overstraten membangun kantor-kantor dan rumah-rumah dinas di Batavia. Salah satu peninggalan dari bangunan itu adalah adalah Gedung Istana Negara (istana Presiden RI sekarang) yang mulai dibangun 1796. Gedung Istana Negara  itu selesai pada tahun 1804 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johanes Siberg.

Kemudian pada tahun 1849 pemerintahan Belanda di Nusantara membentuk perusahaan tambang pertama Belanda yang beroperasi di Nusantara. Pada 28 September 1849. Saati itu Gubernur Jenderal sudah berganti ke tangan J.J. Rochussen. Rochussen datang langsung ke Pengaron di Kesultanan Banjar untuk meresmikan pembukaan tambang batu bara Hindia Belanda pertama yang dinamakan Tambang Batu Bara Oranje-Nassau "Bentang Emas".

Mengapa VOC mengalami kerugian dan kemunduran? Ada beberapa faktor tetapi yang paling besar pengaruhnya adalah Kerugian VOC akibat terjadi peperangan dengan Kerajaan Islam Mataram yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dan pada saat mempertahankan Batavia saat menghadang serangan Sultan Agung. Sultan Agung hamper saja dapat mengalahkan para prajurit bayaran VOC di Batavia, tetapi sayangnya wabah malaria telah melemahkan pasukan Sultan Agung.

VOC harus menyiapkan berbagai peralatan tempur dan prajurit bayaran. Persenjataan berikut amunisi itu dibawa langsung dari Belanda untuk operasi tempur di berbagai wilayah di nusantara. Pengiriman amunisi dan peralatan tempur ini juga banyak mengalami gangguan dari Kapal Spanyol dan Inggris yang juga ingin mendapatkan wilayah jajahan di Nusantara. Terutama Inggris ingin memperluas hegemoninya di Asia Pasifik, setelah kawasan Malaya dan Singapura jatuh ke tangan Inggris. Inggris ingin ikut menguasai perdagangan pala, cengkeh dan lada di Sulawesi.

Selain karena peperangan VOC mengalami kerugian akibat prilaku korupsi para pejabat VOC yang beroperasi di nusantara. Pejabat keuangan VOC di sini melakukan pembukuan ganda dan manipulasi dalam laporan keuangan untuk Pemerintah Belanda di Eropa. Tindakan korupsi para pejabat VOC ini sangat sistematis dan sudah merasuki organisasi bisnis perusahaan.

VOC juga mengalami kesulitan financial sehingga tidak mampu membayar hutang dengan bunga yang besar di Eropa. Banyak asset VOC yang terjual terutama kapal angkut yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan dari nusantara, setelah dijual VOC terpaksa menyewa dengan biaya yang sangat mahal.

Sistim monopoli VOC serta sistim paksanya dalam pengumpulan bahan-bahan/hasil tanaman penduduk menimbulkan kemerosotan moril baik para penguasa maupun dari penduduk yang sangat menderita dalam sistim paksaan itu.

 Semua prilaku bisnis VOC di nusantara semakin membuat tingginya tingkat perlawanan bumiputra dan kerajaan-kerajaan Nusantara yang pada akhirnya membutuhkan biaya perang dengan pengadaan pasukan dan peralatan tempur.

Kepindahan tampuk kekuasaan Belanda dari VOC ke Pemerintah diharapkan dapat membawa perbaikan karena pemerintah Belanda menghadapi perang-perang yang dilancarkan oleh Negara besar tetangganya. Pada saat itu Belanda juga sedang berada dalam kondisi Perang Dunia I di Eropa. Belanda harus menghadapi perang dengan NAZI Jerman, Prancis dan Italia.

Pada tahun 1800 sampai dengan 1816 Belanda berada di bawah kekuasaan Pemerintah Boneka Perancis. Kekaisaran prancis dibawah kekuatan militer Napoleon yang terkenal kuat pada saat itu.

Di lain sisi hal ini dilihat oleh Inggris sebagai kesempatan untuk mendepak Belanda dari Nusantara, tetapi sebaliknya justru bangsa Belanda melihat Nusantara adalah pelarian yang paling aman bagi para pejabat Belanda yang semula berkuasa di Belanda Eropa. Mereka didera ketakuan terhadap hukuman mati yang ditetapkan oleh Napolean, sehingga masa penguasaan Kekaisaran Perancis justru menjadi saat yang paling kuat dari usaha bangsa Belanda untuk mencengkram Nusantara.

Para pelarian pejabat Belanda di Eropa inilah yang sebenarnya menjadi pemantik keputusan untuk membubarkan VOC dan membentuk Pemerintahan Hindia Belanda di Nusantara. Sebagian besar pejabat yang berkuasa di saat itu adalah para pejabat Belanda yang melarikan diri dari kejaran Pasukan Napolean.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta