INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 10 Februari 2012

Tokoh Masyarakat Bisa Menjadi Inisiator Dialog Untuk Membangun Masyarakat Demokratis

Peran para pemuka agama maupun tokoh-tokoh di Indonesia sangat penting terutama untuk membangun tatanan masyarakat yang beradab dan demokratis. Seperti yang dilakukan baru-baru ini dengan menyelenggarakan dialog yang diprakarsai oleh para pemuka agama maupun tokoh-tokoh di Indonesia telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam membangun masyarakat yang tangguh, demokratis, dan inklusif.

Seperti yang diungkapkan oleh Wakil Tetap RI untuk PBB, Dubes Desra Percaya dalam forum World Interfaith Week Harmony, di Markas Besar PBB, New York, Selasa (7/2/2012).

Berdasarkan pengalaman itu, Indonesia mengambil inisiatif dalam berbagai forum baik internasional dan regional, seperti Alliance of Civilization, Asia-Pacific Regional Dialogue on Interfaith Cooperation, dan Asia-Europe Interfaith Dialogue. Selain itu, Indonesia juga terus aktif berpartisipasi di tingkat bilateral dengan berbagai negara, termasuk dengan AS.

Kendati peran Indonesia semakin diakui dunia, Desra mengatakan dialog antar agama tidak bisa hanya dilakukan oleh Pemerintah saja. “Para aktor non-pemerintah perlu didorong lebih jauh untuk mengambil peran dalam upaya-upaya ini,” tuturnya.
Senada dengan Desra, Prof. Dr. Din Syamsuddin yang hadir mewakili Indonesia di forum tersebut mengungkapkan selayaknya organisasi-organisasi keagamaan ambil peran dalam menjembatani perbedaan pemahaman antar masyarakat. Terbuka, peran organisasi-orgranisasi tersebut dalam upaya mediasi konflik di tingkat nasional.

“Perbedaan agama, etnis, budaya, dan peradaban bukan menjadi alasan untuk tidak hidup dalam kerukunan dan perdamaian,” tegas Din.

Islam, tuturnya, mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan berbagai bangsa dan suku bangsa agar manusia terus meningkatkan saling memahami, saling menghormati dan bekerjasama. Membesar-besarkan perbedaan yang menimbulkan konflik, dinilainya bertentangan dengan kodrat.

“Tugas utama kita adalah memastikan bahwa agama terus menjadi basis perdamaian, dan agama tidak akan disalahgunakan untuk membenarkan kekerasan dalam bentuk apapun,” lanjut Din.

Din lebih jauh menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini adalah upaya untuk menekankan mediasi melalui dialog maupun kerjasama antar umat beragama sebagai instrumen untuk menjembatani perbedaan dan konflik peradaban pada seluruh tingkatan masyarakat.

Diyakini, dialog akan mengatasi saling curiga yang bersumber dari ketidakpahaman dan kurangnya rasa saling menghormati.

Forum World Interfaith Harmony Week diselenggarakan atas kesepakatan negara-negara PBB melalui resolusi A/Res/65/5 pada 20 Oktober 2010, yang intinya menegaskan bahwa saling memahami dan dialog antar agama merupakan dimensi penting dari budaya damai.

Resolusi tersebut juga menetapkan setiap minggu pertama Februari sebagai World Interfaith Harmony Week, serta mendorong semua negara anggota untuk mendukung penyebaran pesan kerukunan antar umat beragama di setiap tempat ibadah.


World Interfaith Harmony Week tahun ini dihadiri oleh sekitar 1400 partisipan dari berbagai organisasi keagamaan di seluruh negara anggota PBB. Di samping Din Syamsudin yang mewakili Indonesia, pembicara pada kesempatan tersebut termasuk Presiden Majelis Umum PBB, Duta Besar Nassir Abdulaziz Al-Nasser, serta tokoh-tokoh agama seperti Imam Feisal Abdul Rauf dari The Cordoba Initiative.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta