INTERNASIONAL NASIONAL

Selasa, 15 November 2011

Mengapa Ada Era Keterbukaan dan Ketertutupan Diplomasi Ekonomi China?


Pertemuan Informal Pemimpin APEC Ke-19 kemarin (13/11) digelar di Hawaii. Presiden China Hu Jintao menyatakan, China akan terus menerapkan dan meningkatkan strategi keterbukaan yang saling menguntungkan, serta memperluas bidang dan lingkup keterbukaan.

Presiden Hu Jintao mengatakan, China selalu menjadi pendukung liberalisasi dan deregulasi perdagangan global, aktif berpartisipasi dalam sistem perdagangan multilateral dan kerja sama perdagangan regional.

Hu Jintao menegaskan, China akan berupaya menciptakan lingkungan hukum, lingkungan kebijakan, dan lingkungan pasar yang lebih terbuka dan transparan, serta menyempurnakan sistem dan mekanisme yang lebih sesuai dengan permintaan ekonomi terbuka.
China berpartisipasi dalam kerja sama ekonomi regional dan internasional, mengusahakan perpaduan pembangunan dalam negeri dengan menjalankan kewajibannya, mendorong liberalisasi dan deregulasi perdagangan dan investasi internasional. China akan berperan lebih besar dalam mewujudkan perdamaian abadi dan kemakmuran bersama di kawasan Asia Pasifik dan dunia.

Kenapa ada istilah tertutup dan terbuka dalam diplomasi China? Ini merupakan sesuatu yang unik dan hanya ada di China. Negeri ini sebenarnya menerapkan suatu strategi yang diajarkan oleh filsuf perang terkenal Sun Tzu. Tokoh ini sangat berpengaruh dalam peradapan, budaya dan politik bangsa China.

Sun Tzu adalah ahli seni perang Tiongkok pada tahun 2500 Sebelum Masehi. Buku seni perangnya terdiri dari 13 bab. Tiga bab pertama membahas falsafah perang, tiga bab berikutnya membicarakan teori siasat, dan tujuh bab sisanya membahas berbagai faktor.

Ungkapannya yang paling terkenal adalah “kenallah lawanmu dan kenallah dirimu sendiri maka dalam seratus pertempuran pun kemenanganmu tidak akan dalam bahaya”. Pada saat revolusi, teori perang Sun Tzu digunakan oleh Ketua Partai Komunis China (PKC) Mao Tze Tung untuk melawan kaum reaksioner di bawah kepemimpinan Chiang Kai Sek (Kuomintang).

Hasilnya, dengan taktik gerilya mengepung kota dan dukungan luas rakyat kelas bawah, PKC memperoleh kemenangan tak hanya di China bagian utara yang merupakan basis komunis tetapi juga di China bagian selatan. Pada 1 Oktober 1949, kemenangan itu dibacakan di depan gerbang Gapura Kota Terlarang, Beijing. Kini, dalam kondisi damai, teori tersebut dipelajari dan digunakan untuk pertempuran di medan perang ekonomi dan perdagangan.

Teori ini pun wajib dipelajari para kader PKC dan semua pembuat kebijakan di negeri Tirai Bambu itu. “Ada 36 teori Sun Tzu yang harus dipelajari baik-baik. Pemikirannya sangat luar biasa. Teori ini bukan saja untuk perang di medan bersenjata, tapi bagus digunakan untuk perang di medan ekonomi,” kata salah seorang kader dalam sebuah pertemuan pekan lalu.

Teori Sun Tzu menyebutkan arti penting kesatuan tiga faktor, yakni keadaan, momentum, bagian padat, dan bagian kosong. Yang dimaksud dengan keadaan adalah semua keadaan kedua belah pihak. Keadaan ini dibagi menjadi dua, yakni dapat dikalahkan dan tidak dapat dikalahkan.

Keadaan yang tidak dapat dikalahkan itu tergantung pada diri sendiri. Sedangkan momentum adalah “saat” dan bagian padat ataupun kosong merupakan “sasaran”. Oleh karena itu, menurut Sun Tzu, supaya tidak dapat dikalahkan seseorang harus membuat dirinya pertama-tama tidak dapat dikalahkan dan kemudian menunggu keadaan lawan untuk dapat dikalahkan. Dari situlah timbul pengertian bertahan dan menyerang. “Mereka tahu lawan sudah kalah sebelum berperang.

Mereka tahu berdiri di tempat tak terkalahkan, dan mereka tahu tentaranya sudah menang sebelum berperang”. Masuk WTO Namun, untuk membuat seseorang tak dahttp://www.blogger.com/img/blank.gifpat dikalahkan, harus ada perpaduan antara pendekatan tertutup dan terbuka. Kedua sifat tersebut walaupun saling berlawanan tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Pendekatan tertutup pada momentum tertentu akan melahirkan pendekatan terbuka, begitu juga sebaliknya dan seterusnya. Peralihan dari pendekatan tertutup ke pendekatan terbuka tersebut mesti dilakukan. China berhasil membuktikan bahwa strategi Sun Tzu sangat tepat, lebih tepat dari strategi kapitalis barat yang ekonominya sekarang sudah runtuh.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta