INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 30 Oktober 2011

Fadel Muhammad dirikan Yayasan Pemberdayaan Garam Rakyat


Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, memutuskan mendirikan Yayasan Pemberdayaan Garam Rakyat sebagai wujud keberpihakannya membela petani garam Indonesia.

Menurut Amir Effendi Siregar, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pemberdayaan Garam Rakyat, di Jakarta, Sabtu, yayasan itu bertujuan untuk meningkatkan produksi garam nasional, yang pada gilirannya akan mengangkat harkat hidup dan kesejahteraan petani garam di seluruh Tanah Air.

Ditegaskannya bahwa ini adalah bentuk komitmen dan keberpihakannya terhadap rakyat kecil yang terlemahkan, khususnya bentuk konkret pembelaaanya terhadap petani garam.

Fadel Muhammad sendiri akan terlibat langsung dan aktif sebagai Ketua Dewan Pengurus. "Beliau akan terlibat secara langsung, baik dalam memberikan permodalan, bantuan akses pasar, hingga kontrol pasar. Beliau akan mengomandani langsung. Semua elemen dilibatkan, termasuk petani garam dan ilmuan,? ungkap Amir.

Ia pun membeberkan latar belakang didirikannya yayasan, yakni didasari oleh kecintaan dan keinginan Fadel untuk membela petani garam. Fadel tidak pernag berhenti bertekad meningkatkan produksi garam nasional demi kesejahteraan petani, meskipun kini ia tidak lagi menjabat menteri.

Tatkala menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel berani melakukan melakukan intervensi untuk membantu petani garam.

Fadel mencermati bahwa nasib petani garam semakin terpuruk, terutama sejak 1998, sejak Indonesia mengalami defisit garam. Pemerintah kemudian mengambil jalan pintas mengimpor garam. Petani garam akhirnya tidak mampu lagi memproduksi garam karena garam diimpor dengan harga jauh lebih murah. Garam diimpor seharga Rp300 hingga Rp500 per kilogram, sementara harga jual di pasar mencapai Rp4.000 per kilogram.

Namun tingginya harga jual itu tidak menyejahterakan petani garam, karena harga beli ke petani garam disamakan dengan harga impor. Akibatnya, petani garam tak mampu lagi berproduksi, dan laju impor pun semakin tinggi. Masalah ini ditengarai berkaitan dengan kepentingan besar kaum neo liberalisme (neolib) yang lebih mementingkan keuntungan pribadi ketimbang kesejahteraan petani garam.

"Kemarin sempat ada ribut-ribut dengan Menteri Perdagangan Mari Elka, dan akhirnya dicapai perjanjian untuk menaikkan iuran. Toh, impor masih tetap berjalan lewat jalan macam macam, harga beli tetap rendah," katanya.

Fadel, ujarnya lagi, menyusun rencana bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan negara ini dalam konteks garam adalah meningkatkan produksi garam, sekaligus membantu petani garam.

"Fadel menyadari bahwa masalahnya terletak pada sistem yang menghimpit petani garam dan produksi garam. Oleh sebab itu, sistem inilah yang harus dibongkar, itu beliau sadari betul meskipun harus berhadap-hadapan dengan kaum neolib, dengan pengusaha dan importir garam," tandasnya.

Saat masih menjabat menteri, Fadel sebetulnya sudah melakukan langkah konkret yang berbuah hasil. Dengan mencegah impor, produksi garam nasional tahun ini sudah mencapai 535.000 ton. Jika kelak mencapai 1,2 juta ton untuk garam konsumsi, maka itu sudah swasembada.

Amir mengungkapkan, apa yang dilakukan Fadel selama ini dikenal dengan pendekatan kerakyatan atau dalam aktivitas ekonomi disebut ekonomi kerakyatan.

Yayasan ini, masih kata Amir, juga terbuka untuk bekerjasama dengan siapa saja, baik pemerintah, LSM, maupun pengusaha yang mau ikut mendukung program.

"Selama satu visi dan satu tujuan, siapa saja bisa ikut terlibat membela rakyat dan meningkatkan produksi garam. Tujuan kita adalah membela rakyat, membantu yang lemah dan meningkatkan produksi garam nasional," ujarnya.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta