INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 18 Desember 2010

Rusia dan Georgia Melakukan Perundingan yang Dimediasi Uni Eropa dan PBB

Rusia dan Georgia hari Kamis (16/12/2010) memulai lagi babak baru perundingan penengahan internasional yang bertujuan mencegah konflik baru setelah perang singkat mereka pada Agustus 2008, kata seorang juru bicara PBB.

"Mereka mulai bekerja pukul 08.00 GMT (pukul 15.00 WIB)," kata Alessandra Vellucci.

Babak perundingan ke-14 sejak 2008 itu berlangsung di tengah ketegangan baru antara kedua pihak, setelah Georgia pada awal Desember menuduh Rusia mengatur serangkaian ledakan dalam beberapa bulan ini yang menewaskan satu orang.


Perundingan itu, yang ditengahi Uni Eropa, PBB, dan Organisasi bagi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa, bertujuan mencegah kekerasan baru di Ossetia Selatan dan Abkhazia, daerah-daerah separatis Georgia yang didukung Moskow.

Georgia, negara sekutu AS, terlibat dalam perang singkat dengan Rusia pada Agustus 2008 ketika pasukan Moskow memasuki wilayah negara itu untuk mematahkan upaya militer Georgia menguasai lagi daerah separatis yang didukung Rusia, Ossetia Selatan.

Kremlin mengakui kemedekaan wilayah-wilayah separatis itu pada 26 Agustus tahun 2008, beberapa pekan setelah perang tersebut.

Hubungan Rusia dengan Barat memburuk setelah perang singkat negara itu dengan Georgia.

Georgia menyatakan, perang itu dan pengakuan Moskow terhadap wilayah-wilayah tersebut sebagai negara merdeka merupakan pencaplokan atas wilayah kedaulatannya.

Pada 27 Agustus 2009, Presiden Rusia Dmitry Medvedev menegaskan bahwa Moskow tidak akan pernah membatalkan keputusannya mengakui Abkhazia dan Ossetia Selatan sebagai negara-negara yang merdeka dari Georgia.

Pasukan Rusia memasuki Georgia untuk mematahkan upaya militer Georgia menguasai lagi Ossetia Selatan pada 7-8 Agustus 2008. Perang lima hari pada Agustus itu meletus ketika Tbilisi berusaha memulihkan kekuasannya dengan kekuatan militer di kawasan Ossetia Selatan yang memisahkan diri dari Georgia pada 1992, setelah runtuhnya Uni Sovyet.

Georgia dan Rusia tetap berselisih setelah perang singkat antara mereka pada tahun 2008.

Ossetia Selatan dan Abkhazia memisahkan diri dari Georgia pada awal 1990-an. Kedua wilayah separatis itu bergantung hampir sepenuhnya pada Rusia atas bantuan finansial, militer dan diplomatik.

Georgia tetap mengklaim kedaulatan atas kedua wilayah tersebut dan mendapat dukungan dari Barat.

Pengakuan Moskow atas kemerdekaan kedua wilayah itu menyulut kecaman dari Georgia dan banyak negara Barat.

Rusia meresmikan pengakuannya atas kemerdekaan kedua wilayah Georgia yang memisahkan diri itu, Ossetia Selatan dan Abkhazia, pada 16 Januari 2009 ketika Presiden Dmitry Medvedev menerima duta-duta besar pertama mereka yang bersanding sejajar dengan para duta besar dari negara anggota NATO.

Nikaragua adalah negara pertama setelah Rusia yang memberikan "pengakuan penuh" kepada republik-republik Abkhazia dan Ossetia Selatan sebagai "anggota baru komunitas negara merdeka dunia".

Venezuela pada 10 September 2009 juga memberikan pengakuan penuh atas kemerdekaan kedua wilayah separatis Georgia itu.

Nauru, sebuah negara pulau kecil di kawasan Pasifik, mengikuti jejak Rusia mengakui kedua repubik itu sebagai negara-negara merdeka.

Sumber : ANTARA

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta