INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 18 Desember 2010

Generasi Muda Jepang Kini, Pemalas dan Perias

Oleh Rudi Hardianto

Karena Jepang pernah hancur, maka orang-orang Jepang sering membaca buku tentang semua pelajaran, untuk membangun kembali negaranya. Sayangnya itu dulu sekarang ini ada kelunturan budaya dan semangat Jepang dahulu.

Jangan memandang Jepang seperti Jepang masa dulu sebelum kekalahandan kehancuran akibat perang dunia II dan juga Jepang setengah abad paska pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Penilaian bangsa Jepang itu merupakan bangsa yang pintar, inovatif, kreatif, bisa bersosialisasi dengan baik mungkin sekarang ini sudah tidak relevan lagi, karena generasi Jepang dulu dan sekarang ini berbeda sepeti bumi dan langit. Jika kita melihat semangat dan keulatan Jepang dulu adalah semangat dan keuletan seorang samurai, maka anak muda Jepang sekarang ini adalah seorang pemalas dan perias.

Sekelumit saya mengutip tulisan di Kompas oleh Myrna Ratna M yang melakukannya langsung ke Jepang. Menurutnya dalam satu paragraph tulisannya: “SHINJUKU, Tokyo, bulan Juli. Inilah nadi kehidupan malam di Jepang. Dentam musik bersahut-sahutan muncul dari deretan toko di sepanjang avenue Meiji-Dori dan Yasukuni-Dori. Lampu-lampu berkerejap menyinari trotoar yang padat oleh manusia. Berbeda dengan kawasan tenang Ginza atau Shibuya yang digemari kaum elite Jepang, Shinjuku bisa dikatakan representasi dari semua kelas. Dandanan "penghuni" di sini agak tidak biasa, kalau bukan dikatakan aneh. Rambut dicat warna hijau, merah atau emas (warna blonde tergolong normal di Jepang). Bibir disaput lipstik ungu atau hitam. Dengan baju yang membalut tubuh ala kadarnya, sejumlah perempuan muda berjalan tertatih-tatih dengan sepatu berbentuk bakiak yang tinggi haknya sekitar 20 cm. Yang pria juga dandanannya tak kalah aneh. Mereka mirip geng-geng punk rock di Inggris yang menjamur di tahun 1970-an. Rambut botak atau mencuat seperti landak, jaket kulit berpaku lengkap dengan rantai dan anting-anting".

Banyak yang sudah memprediksikan Jepang modern sekarang ini justru semakin sulit untuk menembus masuk daftar sebagai negara adidaya, tetapi justru mengalami penurunan kapasitas ekonomi dari decade ke decade. Kreatifitas industry Jepang merosot, pasar industry lari ke perusahaan China, dan produk Jepang semakin lama semakin tertinggal.

Mungkin kedigdayaan Sony Corp, atau perusahaan Honda hanya akan menjadi catatan sejarah yang sulit untuk dapat dicapai lagi. Semangat samurai Jepang semakin lama semakin memudar. Timbul wajah dan ideology pragmatisme yang semakin lama semakin menggrogoti kekuatan dan akar sejarah Jepang dalam periode-periode ke depan jika tidak ada revolusi budaya atau semacam restorasi budaya seperti para pemimpin Jepang lakukan pada awal kebangkitan Jepang dulu.

Remaja Jepang sangat perias melebihi wanita, dan wanitanya semakin semakin menentang pada budaya berkeluarga, tidak mau memiliki anak dan apalagi mengasuh anak. Sudah ada kecendrungan bagi anak muda Jepang juga untuk meninggalkan orang tuanya yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya dan memasukkan orang tuanya ke panti werda yang dibiaya negara atau swasta. Hal ini sangat wajar karena hubungan emosional menjadi rusak karena orang tua Jepang, masa kebangkitan Jepang menghabiskan waktu di pekerjaan dan perusahaannya. Mereka menciptakan kondisi pada anaknya hanya dengan hanya sekedar materi.

Anak muda Jepang juga mengalami degradasi rasa hormat terhadap sejarah dan masa lalu Jepang. Mereka merasa masa lalu Jepang justru membuat Jepang masuk dalam kondisi yang memalukan, bahkan ada kelompok yang jelas-jelas ingin merubah identitas Jepang menjadi Jepang yang baru.
Bayangkan Jepang pada dua decade lalu. Prototipe generasi muda Jepang identik dengan pelajar berseragam yang terkantuk-kantuk di kereta karena baru selesai mengikuti cram school hingga larut malam. Mereka patuh pada orangtua, hormat pada guru, dan bercita-cita tinggi: masuk universitas terkenal, diterima menjadi pegawai negeri atau menjadi karyawan perusahaan swasta terkemuka di Jepang. Jepang sekarang justru benci sekolah apalagi sekolah sampai perguruan tinggi.

Kini, mimpi para orangtua di Jepang tentang anak-anak yang manis dan patuh, mulai memudar. Selama tiga tahun terakhir, kenakalan remaja di Jepang terus meningkat.

"Generasi muda Jepang saat ini sangat dimanjakan orangtua dan keadaan. Mereka tidak pernah memikirkan kesulitan. Orangtua memenuhi dan melayani semua keinginan mereka. Banyak di antara mereka yang mendapat uang jajan sekitar 100.000 yen per bulan (sekitar Rp 8 juta). Dan uang itu mereka pakai hanya untuk bersenang-senang," kata Profesor Masahiro Yamada, pengajar di Fakultas Pendidikan, Departemen Sosiologi, Tokyo Gakugei University seperti yang dikutip oleh Kompas.

Masahiro Yamada beberapa waktu lalu menjadi buah bibir di Jepang ketika ia melontarkan istilah parasite single, sebagai kritikannya terhadap generasi muda Jepang yang enggan mandiri dan tetap tinggal bersama orangtua-dan dilayani segala kebutuhannya oleh orangtua-meskipun telah memiliki penghasilan sendiri.

Generasi yang lahir di akhir tahun 1970-an dan 1980-an ini adalah generasi yang diturunkan oleh orangtua yang berhasil membangun ekonomi Jepang dari keruntuhan akibat Perang Dunia II. Keberhasilan itu diperoleh dengan kerja amat keras, juga pengabdian terhadap negara yang amat tinggi. Ketika generasi berikutnya lahir, Jepang telah menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. Mereka tidak mengenal masa-masa depresi seperti orangtua mereka.

Yamada meresahkan kekacauan sistem pendidikan di Jepang telah memberikan pengaruh buruk terhadap kualitas moral generasi muda Jepang. Di antaranya adalah pandangan bahwa sistem pendidikan akan menjamin seseorang mencapai kehidupan yang baik. Seolah-olah, semua problem bisa diselesaikan melalui sistem pendidikan.

President of Children's Research Institute Inc, Tokyo, Hideo Takayama, juga berpendapat senada. Baginya, sistem pendidikan di Jepang justru tidak menumbuhkan kreativitas anak-anak. Padahal faktor itulah yang saat ini dibutuhkan negeri Sakura itu. "Anak-anak hanya disuruh belajar keras untuk menjadi pegawai negeri atau bekerja di perusahaan besar. Mereka yang tidak mengikuti jalur ini, akan dipandang aneh dan dianggap tidak akan sukses," seperti yang dikutip oleh Kompas.

Sekarang ini di Jepang telah tercipta kultur baru dalam gaya hidup modern masyarakat Jepang. Orangtua di Jepang dengan mudah menyediakan segala kebutuhan dan terlalu memanjakan anak-anak mereka. Perlengkapan seperti perlengkapan video, audio visual, komputer, handphone, video games, dan sejumlah peralatan teknologi mutakhir lainnya. Gaya hidup ini semakin menyisihkan kaum muda yang hedonis itu dari realitas sosial. Mereka membangun dunianya sendiri yang maya, atau kerap disebut sebagai hikikomori. Hikikomori masuksudnya pribadi yang jauh dari sentuhan sosial dan selalu menarik diri dari kehidupan di masyarakat.

Hideo Takayama merumuskannya dengan lebih skeptis. Baginya, generasi muda Jepang saat ini tidak memiliki mimpi, apalagi cita-cita tentang tanah airnya. "Generasi yang sudah tuanya saja sudah sulit merumuskan apa sasaran mereka berikutnya di masa depan, karena apa yang mereka cita-citakan sudah tercapai. Kalau yang tuanya saja begitu, apalagi anak-anaknya," katanya.

Pendapat serupa disampaikan oleh Hideo Kojima. Seorang perancang permainan video yang bekerja untuk Konami, dan berstatus sebagai Wakil Presiden Konami Computer Entertainment Jepang dan sekarang mengepalai studio dari Kojima Productions. Ia mengeluhkan masa depan generasi baru developer game Jepang.

Kojima menjelaskan alasan mengapa ia yakin bahwa generasi muda Jepang telah mengalami kekalahan dari Barat. "Barat sangat termotivasi," tulisnya pada salah satu posting TwitLonger-nya. "Para desainer dan calon desainer game Barat punya fokus, ambisi, dan kemampuan untuk membuat mimpi mereka jadi nyata. Maka, kekalahan tidak terletak pada teknologi atau budaya Jepang, namun kita masih kurang akan motivasi," Kojima mengungkapkan, seperti yang dikutip oleh videogamesindonesia.com.

Pembahasan ini sendiri diawali dari sebuah tayangan yang Kojima saksikan mengenai bagaimana murid-murid asing hasil pertukaran pelajar dapat bermotivasi tinggi untuk sukses di Manga Department, Kyoto Seika University. "Sebagai kebalikannya, jumlah murid yang belajar keluar dari Jepang malahan telah berkurang," tulisnya. "Hanya ada sedikit sekali siswa Jepang yang belajar di Harvard University, dan di MIT... tidak ada. Populasi ilmu teknik Jepang mungkin tengah dalam bahaya. Kita seharusnya merevisi lebih dulu sistem pendidikan kita di Jepang," jelas Kojima.

Membahas generasi muda Jepang sekarang mungkin akan tepat jika kita gambarkan seperti kisah Doraemon karya Fujiko F. Fujio yang mengisahkan kehidupan seorang anak pemalas Nobi Nobita yang berteman dengan sebuah robot kecil yang bernama Doraemon. Nobita yang pemalas dan manja ini selalu ingin mendapatkan segala hal yang dia impikan hanya dengan usaha Doraemon. Memimpikan apapun akan dikabulkan dan diberi oleh Doraemon tanpa usaha dan kerja keras. Doraeomon juga menciptakan baling-baling yang dapat membawa kemana saja Nobita dengan mudah, segala macam alat diciptakan agar empunya bahagia. Segalanya dapat dicapai tanpa kerja keras.

Memang seperti itulah generasi muda Jepang tempo ini. Mereka akan selalu meminta kepada orang tuanya apa yang mereka inginkan tanpa usaha keras, dan orang tua yang merasa dulunya sangat susah dan tidak ingin kesengsaraan masa lalunya hingga ke anaknya menjadi Doraemon seperti yang di kisahkan oleh Fujiko. Cerita Fujiko secara psikologis memang terkait dengan mental generasi muda Jepang saat ini yang mengalami degradasi moral dan spirit jika dibandingkan dari generasi masa lalunya.

Sumber Pustaka:

1. Kompas.com

2. Videogamesindonesia.com

3. www.ahmadheryawan.com/component/content/article/94-kolom/2507-generasi-nobita.pdf

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta