INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 04 September 2010

Pembiaran Aparat Keamanan Membuat Gerakan RMS Semakin Berani

Gerakan dan aksi Republik Maluku Selatan (RMS) semakin lama semakin berani ini terbukti saat. Frans Sinmiasa diduga juga berperan penting dalam rencana pengibaran bendera "benang raja" saat puncak Sail Banda yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Ambon pada 3 Agustus 2010. Sebuah tindakan yang dinilai sangat berani dan menantang di depan Kepala Negara.

Kabid Humas Polda setempat, AKBP Johanis Huwae mengatakan, "Kami masih mengembangkan penyidikan terhadap 20 orang tersebut, termasuk Frans Sinmiasa yang disebut sebagai Mendagri organisasi sempalan tersebut," katanya di Ambon, Kamis seperti yang dikutip dari Antaranews.com.

"Sejumlah nama oknum telah diinventarisir untuk penangkapan, termasuk Simon Saiya yang disebut sebagai ketua pemerintahan transisi RMS menggantikan pimpinan eksekutif Front Kedaulatan Maluku (FKM/RMS) kini buron ke Amerika Serikat," tegas Johanis lagi.

20 pengikut separatis RMS yang ditangkap terdiri di Saparua, Kabupaten Maluku Tengah pada Rabu (11/8) dinihari sekitar pukul 02:00 WIT adalah Samuel Pattipeiluhu, Joseph Louhenapessy, Damianus Lessy, Junus Markus dan Fredy Tutursenaya.

Penangkapan tersebut berhasil disita dari Samuel Pattipeiluhu sebanyak 21 bendera RMS. Sedangkan 15 lainnya ditangkap sejak 28 Juli 2010, termasuk Frans Sinmiasa ( Mendagri RMS), sekaligus bertindak sebagai Wakil Ketua pimpinan RMS.

14 lainnya adalah Piter Lernaya, Vestus Futunembun, Marthin Kesaulya, Markus Anakotta, Jonas Siahaya, Izac Sapulette, Ronald Victor Andris alias Nono, Andrias Maruanaya, Jusuf Sahetapy alias Ongen, Steven Ronland Siahaya, Jacob Sinay alias Benny, Mervin Bremeer, Jonas Entamuin dan Pualus Lowdeyk Kirkoff.

20 oknum tersebut ditangkap karena motivasinya ingin mengembalikan kedaulatan RMS yang diproklamirkan pada 25 April 1995, selanjutnya Alex Manuputty memeloporinya kembali dengan mengibarkan bendera 25 April 2010.

Ketua Presidium ICMI Muda, Iqbal Parewangi di Makassar menyatakan terkait RMS dan OPM terkesan adannya pembiaran terhadap gerakan RMS dan OPM. “Pembiaran serangkaian peristiwa makar yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkelanjutan oleh RMS dan OPM tanpa penyikapan secara tegas dan tuntas oleh pemerintah dan TNI/Polri menunjukkan lemahnya penegakan kedaulatan bangsa Indonesia dan NKRI,” ujar Iqbal seperti yang dikutip dari Beritasore.com.

Saat ini gerakan RMS sedang merasa mendapatkan dukungan internasional yang berpusat di Belanda. Di luar mereka memiliki organisasi tingkat internasional yaitu Unrepresented Nations and Peoples Organizations (UNPO) yang bermarkas di Belanda, dimana para pimpinan mereka sering melakukan pertemuan.

Gerakan separatisme RMS juga menempuh upaya alternatif serupa yang mewujud dalam wadah bernama Forum Kedaulatan Maluku (FKM). FKM di Maluku melakukan berbagai upaya intersionalisasi persoalan domestik Indonesia di Maluku di mana lanjut Iqbal, Ketua FKM, Alex Manuputty mengakui bahwa jaringan FKM yang aktif terdiri dari 50 (limapuluh) orang, tersebar di berbagai negara, seperti Australia, Amerika, Belanda, Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta