INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 04 September 2010

Pemilih Obama Semakin Prustasi Perang Afghanistan

Satu tentara asing tewas pada Sabtu saat memerangi Taliban di Afghanistan, kata pakta pertahanan Atlantik utara NATO. Kematian itu menjadikan 623 jumlah tentara asing tewas dalam perang tersebut sepanjang tahun ini, dibandingkan dengan 521 untuk seluruh 2009.

Angka itu berdasarkan atas hitungan laman mandiri icasualties.org, yang melacak korban perang di Irak dan Afghanistan.

Pasukan Bantuan Keamanan Asing (ISAF) pimpinan NATO menyatakan tentara itu tewas akibat serangan pejuang di Afghanistan selatan.

NATO dan Amerika Serikat, dengan lebih dari 150.000 tentara di Afghanistan, memerangi pejuang pimpinan Taliban lebih dari sembilan tahun, sejak kelompok garis keras itu digulingkan dari kekuasaan pada 2001 setelah berkuasa lima tahun.

Banyak di antara tentara asing itu tewas akibat bom rakitan, yang disebut IED.

IED adalah senjata pilihan pejuang Taliban dan gerilyawan lain, yang melawan tentara asing dan Afghanistan dalam upaya menggulingkan pemerintah dukungan Barat di Kabul.

Bom buatan rumahan itu mengakibatkan sebagian besar kematian tentara asing dan menyebabkan luka menghancurkan pada yang dapat hidup.

Bom itu semakin sulit dilacak, karena Taliban cerdik dalam siasat menghindari kemampuan penyapu ranjau persekutuan tersebut.

Afghanistan selatan adalah jantung dari perlawankan Taliban, meskipun pejuang garis keras itu memperluas gerakan mereka ke utara, yang sebelumnya damai.

Amerika Serikat dan NATO memiliki lebih dari 150.000 tentara di Afghanistan untuk memerangi perlawan pimpinan Taliban, yang sekarang dalam tahun ke-10-nya.

Peningkatan kematian pasukan sangat membebani Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan pemerintahannya menjelang tinjauan perang di Afghanistan itu pada Desember.

Peningkatan jumlah korban tewas menjadi berita buruk bagi Washington dan sekutunya, yang pemilihnya semakin putus asa oleh korban dalam perang di tempat jauh itu, yang tampak berkepanjangan dan tak berujung.

NATO menghadapi kemunduran besar di Afghanistan saat Gedung Putih memecat Jenderal Amerika Serikat Stanley McChrystal, yang mengecam presiden dan penasehat utama dalam wawancara dengan sebuah majalah.

Perpecahan muncul di persekutuan 46 negara itu saat berusaha memadamkan perlawanan sembilan tahun Taliban, dengan utusan khusus Inggris memperpanjang cuti, korban meningkat dan laporan bahwa Amerika Serikat "tanpa sengaja" mendorong panglima perang.

Penarikan NATO dari Afghanistan akan bertahap dan tidak terburu-buru pada Agustus mendatang, kata panglima pasukan asing di sana, Jenderal Amerika Serikat David Petraeus, pada pertengahan September.

NATO mempertimbangkan pelatihan tentara dan polisi Afghanistan sebagai unsur penting sebelum pasukan asing itu pada akhirnya ditarik.

Pendapat warga Barat semakin menunjukkan kelelahan akan perang itu, marah atas korupsi dalam pemerintahan Presiden Afghanistan Hamid Karzai dan penambahan korban kemelut tersebut.

Italia pada ahir Oktober menjadi sekutu terkini NATO merinci rencana mengurangi kehadiran tentaranya dan menyerahkan wilayah tanggung jawabnya kepada pasukan keamanan Afghanistan pada akhir tahun depan.

Kanada, yang merupakan penyumbang terbesar keenam tentara di negara terkoyak perang itu, telah menyatakan bermaksud menarik 2.830 tentaranya keluar dari bagian selatan negara tersebut pada 2011.

Di tengah tekanan berat melawan Taliban, Presiden Afghanistan Hamid Karzai juga menggandakan upaya membawa pejuang itu ke meja perundingan di bawah rencana baru rujuknya.


1 komentar:

ardi mengatakan...

sebaiknya barack obama meminta bantuan pada Indonesia

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta