INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 09 Agustus 2010

Redenominasi Tidak Sama Dengen Sanering

Oleh Heri Hidayat Makmun

Setelah terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasuton membuat gebrakan, walaupun ini baru sekedar wacana yang muncul di kalangan BI saja. Wacana yang dilontarkan gubernur terpilih BI Darmin Nasution adalah rencana redenominasi rupiah atau penyederhanan nilai mata uang yang sekarang ini sedang ramai dibicarakan. Penyederhanaan ini karena nilai mata uang RI bisa tergolong yang termurah di dunia, bahkan lebih murah dari Ethiopia yang termiskin di Afrika.

Redenominasi tidak memotong mata uang seperti senering zaman Soekarno. Secara teori tidak memberi dampak apapun, kecuali karena faktor isu seakan-akan redenominasi sebagai sebuah momok. Penyebab penyederhanaan memang dipicu oleh inflasi yang berkepanjangan. Inflasi bagi negara yang sedang berkembang memang sangat wajar asalkan dalam batas yang terkendali.


Ingat sanering mungkin kita akan ingat kebijakan ekonomi Seokarno yang melakukan kebijakan pemotongan nilai uang atau sanering pada 1959. Kebijakan itu telah menimbulkan kekacauan karena uang yang dimiliki masyarakat menjadi tidak bernilai seperti semula. Seperti yang dijelaskan Darmin Nasution bahwa redenominasi berbeda dengan sanering. "Redenominasi bukan pemotongan uang. Ini hal yang berbeda," katanya baru-baru ini.

Lebih lengkapnya lagi Bank Indonesia menjelaskan secara rinci sebagai berikut ini:

1. Pengertian.
Redenominasi adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misal Rp 1.000 menjadi Rp 1.
Hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat tidak berubah.
Sanering adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat menurun.

2. Dampak bagi masyarakat.
Pada redenominasi, tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama.
Pada sanering, menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis.

3. Tujuan
Redenominasi bertujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien dan nyaman dalam melakuan transaksi.Tujuan berikutnya, mempersiapkan kesetaraan ekonomi Indonesia dengan negara regional.
Sanering bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan harga-harga. Dilakukan karena terjadi hiperinflasi (inflasi yang sangat tinggi).

4. Nilai uang terhadap barang.
Pada redenominasi nilai uang terhadap barang tidak berubah, karena hanya cara penyebutan dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan.
Pada sanering, nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya.

5. Kondisi saat dilakukan.
Redenominasi dilakukans saat kondisi makro ekonomi stabil. Ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali.
Sanering dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).

6. Masa transisi
Redenominasi dipersiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap, agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
Sanering tidak ada masa transisi dan dilakukan secara tiba-tiba.

Terminologi sanering berasal dari bahasa Belanda yang berarti penyehatan, pembersihan atau reorganisasi. Dalam konteks ilmu moneter sanering diartikan sebagai pemotongan nilai uang, sedangkan redenominasi adalah penyederhanaan penyebutan satuan harga maupun nilai mata uang dengan mengurangi jumlah digit, misalnya menghilangkan tiga angka nol dari Rp1000.000 menjadi Rp1000. Perubahan ini tidak akan mempengaruhi nilai uang kita untuk mendapatkan barang. Kita tetap akan mendapatkan barang senilai dengan barang yang kita beli sebelum redenominasi dilakukan.

Pengamat Ekonomi Dradjad Wibowo di Jakarta, Kamis (5/8/2010) ikut mendukung redenominasi, seperti yang dikatakannya, "Jadi manfaatnya memang lebih praktis, lebih nyaman, dan lebih bergengsi. Kalau US$ 1 hanya Rp 9, kesannya mata uang tersebut kuat. Selain praktis untuk sektor keuangan, bagi sektor jasa juga praktis. Misalnya penulisan di menu restoran lebih mudah." Ia menambahkan lagi, "Nominal yang besar itu mencitrakan mata uang yang tidak stabil. Agak kurang bergengsi," katanya.

Dari pihak Kementrian Keuangan seperti yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang mengomentari ide redenominasi masih berupa studi yang dilakukan Bank Indonesia. "Jadi, belum final," katanya. Implementasinya pun butuh waktu lama. Hingga kini, kata Agus, bank sentral belum pernah mengkonsultasikan ide redenominasi ke pemerintah. "Saya belum mengetahui konsepnya." Seperti yang dikutip dari Tempointeraktif.com.

Pengamat lain, Farial Anwar yang sering didengar komentarnya tentang pasar uang, menilai redenominasi berdampak positif terhadap nilai tukar rupiah. Ia mencontohkan beberapa negara tetangga yang nilai tukar mata uangnya tidak terlalu jauh terhadap dolar AS. Per satu dolar AS, misalnya, setara dengan ringgit Malaysia 3,16, baht Thailand 32,205, peso Filipina 45,115, serta dolar Singapura hanya 1,351, sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kata Farial, mencapai 9.000-an atau sama seperti nilai tukar negara miskin di Benua Afrika. “Mata uang rupiah masuk dalam 10 uang sampah atau garbage money karena sangat tidak bernilai.” Selain itu, menurut dia, redenominasi akan mengefisienkan nilai transaksi karena tak perlu mencetak banyak uang seperti sekarang.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi menilai Bank Indonesia perlu mensosialisasi redenominasi ini dengan sangat hati-hati. "Jangan sampai bikin masyarakat kaget dan trauma," seperti yang dikutip dari tempointeraktif.com.

Ketidakpahaman publik, isu redenominasi menjadi ramai dibicarakan seakan sebuah momok, seperti zamannya sanering Soekarno tahun 1959 lalu. Gagasan yang tengah digodok oleh Bank Indonesia ini seharusnya dipikirkan secara jernih. Tergesa-gesa bersikap antipati--seperti ditunjukkan kalangan anggota DPR dan sebagian pengamat ekonomi--hanya akan mengaburkan berbagai faedah di balik gagasan ini.

Redenominasi sangat penting dalam kaitannya dengan wacana integrasi anggota ASEAN menjadi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang sekarang ini sedang menjadi diskusi penting di regional ASEAN. Kekuatan ekonomi suatu negara sekarang ini tidak dapat bertahan dari gempuran investor besar yang berusaha mempermainkan mata uang jika suatu negara itu tidak dalam penggabungan kekuatan sekelompok negara yang menjalin kekuatan ekonomi regional secara lebih intensif seperti Eropa.

Redenominasi akan menampatkan nilai rupiah menjadi lebih mudah untuk dinilai dan “lebih bergengsi” dibandingkan dengan kondisi sekarang ini. Hampir semua negara ASEAN sudah pernah melakukan redenominasi kecuali Indonesia dan Vietnam.

Banyak negara yang bahkan melakukannya secara berulang seperti Bolivia, Peru, Argentina, dan Brasil. Pada 2005 Turki juga melakukan hal serupa dan sukses membawa ekonomi mereka membaik. Cerita sukses redenominasi juga dialami Rumania.

Bank Indonesia tetap perlu berhati-hati melangkah. Jika redenominasi benar-benar akan dilaksanakan mulai 2013, rencana ini harus segera dibicarakan secara terbuka dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Apalagi Pasal 23B UUD 1945 tegas menyatakan: macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang. Tak bisa lain, jika redenominasi hendak diwujudkan, Rancangan Undang-Undang Mata Uang harus segera dituntaskan.

Publik pun perlu diberi penjelasan gamblang tentang manfaat dan tahapan penyederhanaan rupiah. Sosialisasi amat menentukan keberhasilan redenominasi, karena masyarakatlah yang akhirnya dibuat sedikit repot oleh perubahan ini. Bersama pemerintah, bank sentral harus memastikan bahwa rakyat memahami dan menerima penyederhanaan rupiah sebelum kebijakan ini diambil.

Redenominasi terhadap Rupiah jika memang akan dilakukan, sebaiknya tetap menggunakan nilai 0,1 Rupiah menjadi 1 sen. Nilai sen dipergunakan koin baru, agar tidak merusak sistem yang telah terjadi di transaksi di pasar-pasar dengan nilai yang kecil. Pasar retail masih menggunakan nilai ratusan rupiah untuk menilai harga barang. Sehingga penggunaan sen bisa menggantikan nilai yang kecil tersebut dan redenominasi tidak akan memicu inflasi yang lebih besar.

Seperti sentilan Megawati yang berbicara mengenai masalah-masalah faktual akhir-akhir ini, termasuk masalah redenominasi. Dengan menyindir redenomasi jika di pasar trasional akan mengalami kesulitan. Ia menceritakan tentang transaksi antara pembeli dengan mbok penjual capai yang harus memberikan uang kembali. “Baligno nol koma satu rupiah, Si Embok cabai pasti bingung bagaimana mengembalikannya,” kata Megawati di depan kader PDI Perjuangan baru-baru ini.

Sumber bahan:
1. Antaranews.com
2. Vivanews.com
3. www.bi.go.id
4. buletininfo.com
5. tempointeraktif.com

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta