INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 09 Agustus 2010

Redenominasi Membangun Tembok Besar dan Tinggi Untuk Melindungi Nilai Rupiah

Oleh Heri Hidayat Makmun

Saya terus terang Selama ini selalu mengkritisi kinerja pemerintah secara serius, tetapi untuk kali ini ketika wacana redenominasi ini saya sontak langsung girang. Mengapa bigitu? Sudah lama ide seperti ini penah terpikir oleh saya, ketika melihat cara-cara para spekulan uang menggoreng Rupiah.

Rupiah di goreng oleh para spekulan valas dengan memanfaatkan nilai ratusan, puluhan dan satuan rupiah yang nilainya memang sangat “amat” kecil itu. Kalau spekulan punya cukup modal untuk mempermainkan rupiah, mereka dapat menggencet rupiah agak tertekan sebesar Rp. 1,- sampai Rp. 100,- atau lebih dengan cara membeli uang dolar yang beredar di masyarakat sampai sejumlah tertentu. Semakin besar uang Rupiah yang digelontorkan dan uang dolar yang ditarik spekulan maka semakin besar point rupiah yang bergeser. Jika tadinya harga beli dolar dari Rp. 9100,-, setelah di goreng spekulan plus kepanikan orang-orang yang sangat membutuhkan dolar, harga dolar menjadi naik, contohnya menjadi Rp. 9250,- bergeser 150 point rupiah tertekan. Setelah dolar lebih mahal baru mereka melepas dolar yang sebelumnya mereka borong sampai sejumlah tertentu juga.


Mereka dapat gain dalam waktu singkat. Di tempat lain BI mengamati pasar uang yang berfluktuasi dengan cepat, sebelum rupiah bisa tersungkur lebih jauh, maka BI cepat-cepat menggelontorkan devisa dolarnya, sehingga nilai rupiah kembali stabil. Setelah stabil para spekulan menjalankan misi busuknya lagi. Jadi mekanisme ini seakan seperti sebuah piva air yang mengalirkan uang dari Bank Indonesia yang kita cintai ini ke para spekulan yang nota bonenya lebih banyak orang asing itui.

Dengan nilai yang sangat kecil itu, spekulan menengah kelas Asia Tenggara saja sudah mampu mempermainkan rupiah. Tapi coba mengoreng Ringgit Malaysia atau Dolar Singapura, spekulan kelas Asia Tenggara ini akan kesulitan, karena mereka harus menggelontorkan modal dolar yang lebih banyak lagi. Mungkin levelnya, kelas-kelas spekulan internasional baru bisa merontokkan Ringgit Malaysia atau Dolar Singapura, karena tembok pertahanan mata uang mereka lebih besar dan lebih tinggi dibandingkan rupiah.

Itulah sebabnya mengapa Rupiah sering dipermainkan oleh spekulan di pasar uang, karena nilainya terlalu kecil sehingga dengan modal spekulan kelas lokal saja bisa mempermainkan rupiah. Ini karena tembok pertahanan mata uang kita sangat kecil dan pendek, jadi gampang untuk mendobraknya. Langkah redenominasi adalah langkah untuk membangun tembok yang besar dan tinggi. Langkah ini akan akan melindungi rupiah dari serbuan para spekulan "Hot Money" dan juga akan menguntungkan bagi para pemegangnya. Masyarakat tidak akan terbebani dengan perubahan nilai (inflasi) akibat digerus oleh spekulan.

Saya yakin mereka tidak berani untuk menggelontorkan uang yang sangat besar untuk menggoyang rupiah jika rupiah nilai terkecilnya saja sudah tinggi, kecuali memang Si Spekulan ini punya motivasi politik untuk menghancurkan NKRI. Mereka pasti akan menghitung untuk rugi dan akan pindah kenegara lain yang nilainya masih kecil, seperti Vietnam misalnya.

Para investor yang serius dan benar-benar ingin menanamkan modalnya dalam bentuk investasi jangka panjang pun tidak ragu, seperti membangun pabrik yang akan menyerab tenaga kerja atau investasi jangka panjang lainnya, karena nilai investasi mereka yang dihitung dengan rupiah tidak akan turun akibat tergerus nilainya oleh spekulan uang.

Pemilik kapital yang datang sebelum redenominasi, dengan pemilik kapital yang datang setelah redenominasi akan berbeda. Pemilik kapital yang nomor pertama itu datang hanya untuk mempermainkan rupiah di pasar valas. Indonesia ini memang kebanjiran spekulan pengemplang rupiah sekarang ini. Jakarta itu surganya spekulan valas yang membawa "hot money" dari Singapura. Uang masuk dan pergi dengan cepat dari kegiatan mereka ini. Mereka datang untuk menyedot uang Bank Indonesia yang sering ekspansi pasar jika rupiah tertekan dengan mengelontorkan cadangan dolarnya, sedangkan pemilik kapital yang datang setelah redenominasi adalah investor yang akan mendirikan pabrik, membangun hotel atau resort di Indonesia, yang jelas membuka lapangan pekerjaan untuk angkatan kerja kita. Setelah redenominasi wajar jika kita menggelar karpet merah untuk menyambut mereka, karena mereka benar-benar akan mendorong sektor ril ekonomi kita.

Akibat sering mengamankan nilai rupiah cadangan dolar Bank Indonesia terus terkuras, tetapi jika tidak dilakukan pengamanan rupiah akan terpuruk, akibatnya mau tidak mau BI akan menggelontorkan dolar supaya nilai rupiah kembali lagi menurut asumsi APBN kita, sebab kalau tidak maka APBN kita akan kacau balau. Apalagi kalau anggaran itu ada belanja modal-nya dalam APBN yang harus membeli produk yang menggunakan dolar, seperti kapal laut umpamanya, atau pesawat tempur misalnya. Para pejabat pasti akan pusing tujuh keliling. Tidak direalisasikan akan dibilang kinerjanya nol besar, tetapi kalau dibelikan bisa-bisa akan menjadi santapan KPK.

Selama ini mata uang rupiah yang tertinggi seratus ribu rupiah termasuk golongan dengan memegang predikat “Raja Nol Kedua Dunia”, yang pertama posisinya masih dipegang Vietnam yang mata uang tertingginya sampai 500 ribu dong, tapi bagaimanapun Indonesia masih tergolong banyak nolnya. Sampai kata orang asing, “You rich man!” Ketika melihat mata uang seratus ribuan yang saya pegang. Saya hanya senyum kecut, karena nyatanya cuma banyak nolnya saja tetapi nilainya hanya untuk membeli cabe satu setengah kilo saja di Jakarta.

Tag.

redenominasi, nilai rupiah, rupiah, kisruh redenominasi, Redenominasi Membangun Tembok Besar dan Tinggi Untuk Melindungi Nilai Rupiah, BI, bank indonesia, spekulan uang, investor, hot money, investor nakal, Vietnam, lindung nilai, APBN, Asumsi APBN

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta