INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 11 Juli 2010

Kekuatan Militer China, Rusia dan India Penting Bagi Keseimbangan dan Perdamaian Dunia

Oleh Sumantiri B. Sugeo

Ketidakseimbangan poros kekuatan dunia selama ini yang dikuasai Negara-negara adikuasa barat yang menggunakan kekuasaannya dalam upaya untuk memperkuat hegemoninya dengan cara-cara yang tidak demokratis dan berprikemanusiaan.

Pengembangan isu perang, pelanggaran hak asasi manusia, imperialism dan kolonialisme, penjualan senjata, monopoli teknologi nuklir, penguasaan institusi internasional seperti PBB membutuhkan peran negara-negara non barat untuk masuk dalam kancah kekuatan penyeimbang yang disegani.

Kehancuran saat perang Korea, perang Irak, perang di Somalia, perang Vietnam dan perang revolusi di Amerika Latin adalah contoh betapa pentingnya kekuatan lain sebagai penyeimbang dan menjadi penetrasi dari kekuatan dari poros yang hanya tunggal saja. Munculnya monopolistik kekuasaan, isu internasional dan penguasaan sumber energi dunia menghancurkan peradapan dunia yang humanis.

Negara-negara yang berpotensi untuk masuk dalam jajaran negara penyeimbang seperti China, Rusia, dan India. Perluasa dengan cepat kekuatan militer Cina, Rusia dan India menjadi sangat penting sebagai upaya stabilitas di kawasan Pasifik dan dunia. Upaya ini diharapkan akan menyebabkan posisi negara-negara berkembang akan memiliki resiko perang yang lebih rendah dibandingkan dengan tidak adanya kekuatan penyeimbang.

Dalam laporan The 2006 Quadrennial Defence Review yang diamanatkan oleh Kongres AS setiap empat tahun, Pentagon melihat militer Cina sangat mungkin mengubah keseimbangan kekuatan di Asia. Dalam lawatan ke Indonesia itu, Rice membahas soal-soal strategis mengenai kepentingan AS di Indonesia. Rice menginginkan Indonesia tetap taat dan menjaga kepentingan AS di kawasan Asia Tenggara.

Untuk itu, AS telah memberi beberapa insentif kepada Indonesia supaya mau menjadi mitra strategisnya. Sebaliknya dari posisi Indonesia yang selalu dirugikan, sebagai contoh dalam kasus Pesawat F-16 TNI yang sudah beli dengan harga sangat mahal, ternyata suku cadangnya harus pula diembargo sehingga Indonesia banyak tidak bisa menggunakan F-16 untuk operasional udara AU. Belum lagi masalah Kopasus kita yang citranya di AS dan dunia internasional selalu diperburuk oleh Parlemen.

Dalam kondisi hubungan diplomatic yang merugikan Indonesia pun, kita masih tetapi dipaksa untuk taat menjaga kepentingan AS, seperti masalah isu-isu Freeport. Kekuatan dalam negeri yang menginginkan adanya renegosiasi atas penghasilan Freeport menguat, tetapi pemerintah di paksa oleh AS untuk dapat meredam dan juga ikut menjaga perusahaan tersebut dari gangguan OPM.

Ini adalah contoh kasus saja yang menunjukkan bahwa negara berkembang membutuhkan kekuatan baru penyeimbang, seperti China, Rusia dan India. Indonesia tidak harus masuk dalam salah satu blok, dan tetap menjaga prinsip bebas aktif yang sudah berjalan, tetapi hubungan-hubungan kerjasama dengan China dan Rusia manjadi penting sebagai bagian dari keseimbangan tersebut. Indonesia juga dapat memainkan soft power yang menjaga isu dan keseimbangan dua kekuatan itu.

Polarisasi isu politik dunia dengan resesi ekonomi juga dilakukan oleh para pejabat Gedung Putih untuk menyembunyikan tanggungjawab mereka terhadap resesi dunia yang mulai terlihat. Harga minyak yang tinggi akibat berbagai kilang minyak di Timur Tengah yang tidak berproduksi menyebabkan harga minyak merokat dan sulit dikendalikan. Situasi politik di Irak memberi angin pesimis untuk mengoperasikan ladang-ladang minyak yang terbakar dan dirusak dengan sengaja akibat peperangan. Para analis dan politikus Amerika 'mengabu-abukan' hubungan kedua variabel ini.

Liga Arab yang berhasil mencetuskan suatu resolusi untuk memperkuat hubungan dengan China bukan tidak ada alasan. Mereka sadar ada kebutuhan penting Amerika untuk terus menggalang negara-negara monarki Timur Tengah untuk terus berada pada poros negara adidaya ini, tetapi bagi negara negara-negara Arab tidak ada keuntungan sedikitpun kecuali kekacauan politik yang semakin tidak stabil dan perseteruan Palestina Israel yang semakin sulit untuk dipecahkan. Ditambah lagi dengan prilaku Israel yang terus menyerang jalur Gaza.

Harus ada kesadaran dari negara-negara berkembang untuk mulai meseimbangkan pengaruh politik dengan memperkuat kerjasama ekonomi dan militer dengan China dan Rusia. Manfaat politik yang akan didapatkan tidak hanya untuk jangka panjang tetapi kebutuhan strategis untuk perbaikan ekonomi dan mengurangi kontrol Amerika dan negara barat lainnya terhadap negara-negara berkembang.

Menurut Albert Keidel dari the Carnegie Endowment for International Peace: Mengatakan bahwa posisi China menjadi kekuatan lebih penting di kawasan lain termasuk dalam hubungan militer dan diplomasi. Kekuatan finansial China akan mengalir ke setiap dimensi hubungan internasional.

Masih menurut Keidel: Dengan kekuatan ekonomi besar itu, kepemimpinan kelembagaan internasional akan berpindah ke tangan China. Kondisi itu akan terjadi meluas di PBB, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, Bank Pembangunan Regional dan Internasional, serta badan-badan yang lebih khusus. Sebagai akibatnya, markas-markas organisasi internasional akan berpindah ke Beijing dan Shanghai.

Keidel juga berpendapat pengaruh AS dan Eropa akan menjadi sekunder. Hal ini yang menyebabkan AS butuh kompromi. Akhirnya aksi sepihak AS akan terhenti.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta