INTERNASIONAL NASIONAL

Rabu, 10 Maret 2010

Anomali Pasar Bebas Ala David Ricardo

Oleh Heri Hidayat Makmun

Perdagangan bebas seakan menjadi keharusan, walaupun itu sebenarnya adalah akibat fenomena tekanan negara-negara yang ingin membanjiri negara lain dengan produk dan jasanya. Tentu ini seakan terlalu provokatif tetapi kenyataan di pasar itulah yang terjadi.

Awalnya perdagangan bebas dikenalkan oleh David Ricardo, seorang ekonomis Inggris yang mengembangkan teori perdagangan bebas, memiliki keuntungan komparatif, dimana setiap negara memiliki spesialisasi produk tertentu yang yang nantinya dapat diperdagangkan dengan negara lain dan dapat memberikan keuntungan masing-masing. Jadi, setiap negara memiliki kesempatan untuk saling melengkapi kebutuhan masyarakat di berbagai penjuru dunia. Seperti contohnya Jepang memiliki spesialisasi dalam industry automatif dan Indonesia menyediakan perkebunan karet yang diproduksi menjadi ban mobil. Efisiensi dan produktifitas Jepang dalam berproduksi akan ditambah lagi dengan efisiensi dan produktifitas Indonesia dalam memproduksi ban mobil.

Pada awalnya mungkin pasar hanya berpikir bahwa pasar bebas hanya terkait dengan komoditas tertentu, tetapi ternyata perdagangan bebas juga sudah masuk ke penyediaan pasar tenaga kerja yang terampil dari seluruh dunia yang akan bebas masuk Negara saja yang dianggap paling menjanjikan. Tetapi tentu Perusahaan diseluruh dunia yang ikut dalam perdagangan bebas juga akan mendapatkan tenaga yang sangat ahli dari berbagai negara.

Pertanyaan apakah pasar bebas dapat berjalan sesuai dengan keyakinan David Ricardo tersebut? Pertanyaan ini menjadi sedikit ada jawaban, walaupun masih kabur. Saat sekarang ini, Kita melihat fenomena membanjirnya produk-produk China ke banyak negara, apalagi negara yang terikat perjanjian FTA, tanpa ada timbal balik yang memadai kepada negara pengimport. Apakah neraca perdagangan negara-negara di dunia telah seimbang dan adil? Pertanyaan selanjutnya apakah tenaga ahli automotif Jepang dijamin tidak hengkang ke negara lain yang memiliki kapital besar untuk ikut juga memproduksi mobil seperti Jepang? Pertanyaan lain lagi, di Indonesia bisa menanam karet, tetapi di Jepang tidak, apakah ada jaminan bawah lahan karet atau industri pengolahan karet di Indonesia tidak dibeli investor Jepang? Read more...

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta