INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 06 Februari 2010

Organisasi Indie in Nood di Nederland yang Anti Indonesia

Oleh Heri Hidayat Makmun

Kebencian masyarakat Belanda terhadap Indonesia pada 1945 sampai 1949 memuculkan suatu organisasi kemasyarakatan yang bernama “Indie in Nood”. Organisasi ini membakar amarah rakyat Belanda agar membenci segala yang berbau Indonesia. Sentimen-sentimen anti Indonesia ini memang di pelihara oleh pemerintah Belanda untuk mendukung kembalinya penguasaan Belanda terhadap Indonesia.

Berbagai isu yang di lebih-lebihkan seperti gangguan terhadap berates-ratus ribu interniran di Indonesia, agitasi bahwa kesengsaraan penduduk Belanda di Indonesia adalah lanjutan dari kekejaman fasis dan militersisme Jepang. Indonesia dianggap bertanggungjawab terhadap kekosongan kas Negara Belanda dan sebagainya yang sebenarnya kurang masuk akal.

Tokoh-tokoh mantan interniran yang seperti Spit yang pernah menjadi Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda dan sebagainya memunculkan isme baru pada pandangan politik masyarakat Belanda terhadap bangsa Indonesia. Mereka mendesak kepada Pemerintah Balanda untuk terus melakukan perang kolonial terhadap bangsa Indonesia.

Mereka menyebarkan kebencian kepada Soekarno dan Hatta sebagai pemberontak yang harus diberantas berikut para pengikutnya. Berbagai informasi kebohongan bahwa Soekarno dan Hatta adalah orang-orang Jepang yang menjalankan pemerintahan boneka untuk rakyat yang menurut mereka masih mencintai “orange” dan setia kepada Ratu Belanda. Mereka juga mempengaruhi para orang Indonesia yang belajar di Belanda untuk tidak tunduk kepada Soekarno dan Hatta dan melakukan revolusi terhadap pemerintahan yang tidak demokratis. Mereka menuduh Soekarno dan Hatta sebagai pemerintahan fasis yang belajar dari Jepang.

Soekarno dianggap sebagai didikan dari Laksamana Maeda dan “Goebels” Shimitsu. Bagi mereka Indonesia tidak memiliki militer yang teratur tetapi hanya segerombolan ektrimis yang tidak disiplin, dan menganggap bahwa perlawanan pejuang RI tidak “gesloten weerstand” (perlawanan yang terpecah-pecah).

Cita-cita mereka adalah menginginkan Belanda kembali memiliki kedaulatan di tanah Hindia Belanda, setelah Jepang keluar dari Hindia Belanda. Mempengaruhi Sekutu yang agar memberikan bantuan militer kepada Belanda untuk menjalankan misi “kedaulatan Belanda” itu di Hindia Belanda. Mereka berencana membangun “loyale en gematigde elementen” yang maksudnya membentuk orang-orang Hindia Belanda yang setia kepada Ratu Belanda sebagai kekuatan kedaulatan Belanda itu.

Hasil dari pengaruh Indie in Nood ini adalah bantuan Sekutu kepada Belanda untuk mengantarkan Belanda yang bertopeng NICA kembali ke Indonesia yang mereka sebut sebagai “rust en orde.” Organisasi tersebut berpendapat bahwa hanya dengan kekerasan dan agresi militerlah kedaulatan dapat kembali di dapatkan, sehingga setelah Belanda berhasil kembali ke Indonesia, Belanda melakukan agresi militer I dan agresi militer II.

Sumber: Dr. A.H. Nasution, 1995, Diplomasi atau Bertempur

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta