INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 14 Februari 2010

Kamp Konsentrasi Penjajah Belanda di Indonesia, Jeritan dan Tangis Derita Tiada Berakhir


Oleh Sumantiri B. Sugeo

Mungkin kita menganggap selama ini bahwa Kamp Konsentrasi NAZI Jerman yang dibangun pada masa fasisme Eropa masih Berjaya adalah kamp terkejam terakhir, tetapi faktanya setelah anti klimaknya kekuatan Jerman di Eropah semua kamp konsentrasi NAZI tersebut ditutup, justru Belanda mengadopsinya dan membangun metode kamp konsentrasi itu itu di negara jajahannya Hindia Belanda (Indonesia).

Sejak tahun 1905 mulai dibuat komp konsentrasi sentral di wilayah-wilayah (gewestelijke centralen) bagi terpidana kerja paksa, agar terpidana kerja paksa dapat ditempatkan dalam suatu tempat yang dapat dikendalikan. Seorang yang paling bertanggungjawab dalam pembangunan penjara penjajah di Tanah Indonesia ini seperti Gebels. Kemudian menjadi Kepala Urusan Kepenjaraan yang pertama di Indonesia.

Pada masa itu, satu kamar bisa di masukkan 50 sampai 100 orang, Di siang hari mereka harus melakukan kerja keras, kemudian pada malam hari pun mereka harus tidur dengan berdesakan di ruangan yang sangat kecil dan ditempati banyak orang. Tidur berhimpitan yang pada akhitnya memunculkan bentrokan fisik sesama pekerja paksa. Akibat yang muncupenl adalah munculnya “Si Kuat dan Si Lemah” di dalam satu dunia yang sangat sempit tersebut.

Para “terpenjara” ini bekerja secara paksa di dalam tembok setinggi empat setengah meter, para terpidana melakukan kerja paksa yang dikoordinasi layaknya seorang pekerja dalam sebuah perusahaan. Pekerjaan dilengkapi dengan seperangkat mesin, yang dikenal dengan istilah “perusahaan besar” (groote bedrijven/groot ambachtswerk). Sementara di tempat lain di luar penjara pusat, terpidana dalam tempat hukumannya di dalam lingkungan tembok di pusat penampungan.


Para penjaga Belanda atau orang pribumi yang bekerja pada Belanda berlagak seperti jagoan tending sana tending sini, sesuka hati mereka. Tertawa terbahak-bahak seperti mabok, dari minuman keras bersama roti keju yang mereka makan di depan para pekerja paksa yang berperut cekung dan tulang dada menonjol, dengan lapar dan dahaga yang tak terkira.

Kepala Urusan Kepenjaraan (Hoofd van het Gevangeniswezen) tempat penampungan dipekerjakan dalam lingkup “perusahaan kecil” (klein ambachtwerk) milik seorang Belanda yang tinggal di Nederland, tetapi perusahaannya beranak pinak di sini, ditanah Hindia Belanda yang penduduknya dijadikan pekerja paksa, tanpa pamrih, hanya sekedar makan setengah pincuk nasi campur jagung dan ubi kayu.

Masa kolonial juga mencatat sebuah peristiwa yang terbilang kejam, kejadiannya menimpa seorang pemberontak Indonesia yang sudah menjadi incaran pemerintah kolonial. Suatu hari pemberontak ini tertangkap dan sebagai “shock therapy” bagi pemberontak lain, ia diberi hukuman yang tak berperikemanusiaan. Keempat anggota badannya (tangan dan kaki) masing-masing diikatkan pada kuda lalu ditarik oleh kuda tersebut dengan arah berlawanan. Anggota tubuh si pemberontak tercerai berai, peristiwa ini terkenal dengan peristiwa pecah kulit. Saat ini tempat peristiwa tersebut dijadikan nama jalan di Jakarta-Kota.

Kekejaman Belanda terhadap kaum pribumi menyebabkan kebencian dan dendam bangsa kita. Berbagai pemberontakan pada tahun 1926 membuktikan bahwa kerja paksa menjadi factor yang menjadi boomerang penjajah Belanda. Pemberontakan besar-besaran dari bangsa Indonesia terhadap pemerintah penjajahan Belanda, pada bulan November 1926. Belanda menyebutnya sebagai “pemberontakan komunis”. Banyak putra Indonesia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, sehingga urusan kepenjaraan dihadapkan pada kondisi “overcrowding” (kepenuhan penjara).

Suasana penjara menjadi tidak kondusif, sering terjadi huru-hara, sebut saja di Cipinang pada bulan Juli 1926, di mana para tahanan politik menyanyikan lagu kepahlawanan diikuti gerakan mogok makan. Beberapa penjara pun berubah fungsi menjadi tempat penampungan tahanan politik, misalnya penjara Pamekasan dan Ambarawa yang semula diperuntukkan bagi anak-anak, berubah fungsi untuk menampung tahanan politik. Demikian pula penjara Cipinang, Glodok, Boyolali, Solo, serta penjara kecil seperti di Banten, Madiun, dan lain-lain. Bahkan, khusus bagi tahanan politik didirikan penjara besi di Nusakambangan. Satu catatan lagi, satu hal yang sering terjadi adalah penyerangan terhadap pegawai-pegawai penjara.

Kejadian lain yang mewarnai sejarah kepenjaraan di tanah air adalah penyerbuan terhadap rumah penjara Glodok pada 12 November 1926, sehingga mendorong didirikannya menara penjagaan untuk mengantisipasi terjadinya penyerangan. Inilah sejarah didirikannya menara penjagaan.

Rentetan kejadian ini menjadi kendala besar bagi sistem kepenjaraan yang sesungguhnya tengah dirintis. Benang merah dari segala kejadian ini adalah menyiratkan betapa sulitnya posisi atau peran urusan kepenjaraan, yang dihadapkan pada dua kepentingan, seolah kepenjaraan akan selalu dihadapkan pada momentum yang sifatnya antagonistic antara harus berperikemanusiaan atau sebaliknya.

Menjelang masuknya pendudukan Jepang ke Indonesia, penjagaan di penjara-penjara, yang semula dipegang oleh militer diganti oleh tenaga pegawai kepenjaraan sipil. Kedatangan Jepang ke Indonesia membawa model penderitaan lain bagi bangsa Indonesia. Tapi secara diplomasi Jepang sudah meminta maaf kepada Bangsa Indonesia, suatu hal yang tidak pernah diutarakan oleh Penjajah Belanda. Sebuah bentuk watak barat yang berkarat.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta