INTERNASIONAL NASIONAL

Sabtu, 09 Januari 2010

Obama Memicu Konflik China Taiwan untuk Menaikkan Dolar

Oleh Sumantiri B. Sugeo

Pimpinan partai nasionalis Taiwan, Lien Chan dengan Presiden Cina, Hu Jintao pada tahun 2005 mungkin pertemuan terakhir masa ‘penyatuan pandangan China – Taiwan’, tetapi setelah kepentingan Amerika Serikat (AS) pada Taiwan sebagai sekutu militer dan keamanan pada kawasan yang langsung berdekatan dengan negeri naga tersebut menjadi sangat penting bagi Gedung Putih, maka berbagai upaya AS untuk memperkeruh hubungan tersebut meningkat sejak tahun 2006.

Padahal pertemuan pada tahun 2005 tersebut merupakan pertemuan dari dua bangsa satu entis yang telah lama tidak pernah terjadi hamper selama 6 tahun. Wu Poh-hsiung, 67, sebagai ketua oposisi utama Taiwan, Partai Kuomintang (KMT) yang di dukung China sebagai figur masa depan Taiwan yang lebih dekat ke China.

Hu Jintao, Presiden China sekaligus Sekretaris Jenderal Komite Sentral CPC secara terus terang membela Wu agar Wu dapat memenangkan pemilu yang akan datang di Taiwan. Kemenangan Wu merupakan hal paling strategis bagi China untuk mengakhiri kritis politik China - Taiwan.

Disisi lain dari pihak rejim Pemerintah Taiwan yang berkuasa, Presiden Chen Shui-bian lebih menginginkan Taiwan merdeka. Dukungan dari AS juga semakin membesar pada Negara pulau ini. AS berkeinginan konflik China - Taiwan penting bagi Gedung Putih, sebagai salah satu upaya ‘manajemen konflik’ AS terhadap China Taiwan dan mengambil manfaat dari kondisi tersebut.

Pertama AS dapat menjual senjata kepada Taiwan, kedua AS memiliki peran dalam wilayah teluk Taiwan jika seandainya Taiwan merdeka dan mendapat konsensi sumber mineral di wilayah tersebut. Ketiga AS dapat menekan kemajuan ekomomi China yang tidak dapat menggunakan Taiwan sebagai pintu gerbang perdagangannya. Keempat konflik China – Taiwan terbukti efektif meningkatkan nilai dolar yang selama ini selalu terpuruk.

Para pemimpin Taiwan yang sebenarnya adalah berasal dari Partai Nasionalis China yang terusir dari desakan kaum Komunis China yang menguasai negeri itu secara mutlak, terpaksa lari ke pulau yang lambat laun menjadi Negara Taiwan. Sejarah kelam China Taiwan ini dimanfaatkan terus oleh Gedung Putih untuk mengambil manfaat untuk meredam kekuatan China yang membesar.

AS berkomitmen untuk menyediakan berbagai senjata, termasuk berbagai rudal andalan AS seperti rudal pertahanan udara Patriot yang canggih. Pengiriman rudal-rudal ini ditentang keras oleh China sebagai upaya profokasi terhadap keamanan wilayah China daratan. Seorang pejabat militer China menyarankan pengenaan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan AS yang menjual senjata-senjata kepada pulau itu.

Departemen pertahanan AS secara terang terangan mengumumkan kontrak itu Rabu malam, yang mengizinkan perusahaan Lockheed Martin Corp menjual sejumlah rudal Patriot , kata kedutaan defakto Washington di Taipei. Sikap ini sengaja di pertontonkan untuk memicu konflik yang lebih keras lagi sebagai bagian dari pendekatan manajemen konflik yang diterapan AS kepada semua Negara yang “dirasa-rasa” akan mengancam negeri Paman Sam tersebut.

AS berkeyakinan bahwa rudal Patriot tersebut dapat menjadi tandingan bagi rudal-rudal China yang memang menurut ahli balistik bahwa rudal China dapat di kendalikan dari satelit antariksa China. Rudal Patriot bisa menjadi fireware yang akan menembak jatuh rudal-rudal jarak dekat dan menengah China , kata pengamat pertahanan.

Sebuah pertanyaan yang diajukan analis apakah benar konflik yang dipicu AS tersebut murni adalah kepentingan militer? Jawabannya ada pada pasar uang yang mengindikasikan kenaikan yang signifikan pada dolar yang saat konflik itu terlihat membesar. Mengapa bisa begini? Tidak lain adalah asset China yang berada di AS sekarang ini luar biasa besar. Seandainya memang konflik China vs Taiwan membesar, maka AS dapat memaksa China dengan membekukan asset China tersebut.

Mengapa asset China ini demikian besar di AS? Ini terjadi saat krisis ekonomi tahun 2008 – 2009 yang lalu dimana akibat kesalahan perbankan AS yang banyak bermain transaksi derivative. AS meminta bantuan ke pemerintah China yang memiliki simpatan devisa yang terbesar di dunia untuk menyuplai likuiditas perusahaan-perusahaan AS dengan membeli sahan atau obligasi perusahaan AS.

Selain itu perusahaan private China juga banyak ikut memborong saham-saham perusahaan AS tersebut. Untuk membantu krisis ekonomi AS ini bahkan China tidak jadi untuk merubah mata uang devisa mereka ke euro sebagai bagian dari manajemen portopolio devisa China dan tetap bertahan ke dollar.

Sayangnya kebijaksanaan timur dibalas dengan keserakahan machiavelis barat. Ibarat menolong anjing kejepit, setelah di tolong malah menggigit. Itulah yang faktanya yang terjadi antara China dan AS. Strategi ini yang dimainkan Pemerintah Obama untuk menaikan nilai dolarnya yang semenjak munculnya euro terus mengalami depresiasi nilai.

3 komentar:

the international times mengatakan...

yaa memang begitulah AS, baik kepada suatu negara ada maksud terselubung dibelakangnya

deawa mengatakan...

as memang gitu, comen balik ya, dan follow balik juga..

Anonim mengatakan...

Begitulah kebanyakan watak umum bangsa imperialis dari dulu, tega mengadu domba yang lain untuk kepentingannya, dulu sebelum merdeka Indonesiapun pernah mengalaminya dimana kerajaan2 diadu domba satu sama lain agar kekuatannya melemah karena perang satu sama lain, seandainya kerajaan2 di indonesia dari awal bersatu jelas mustahil si kecil Belanda bisa menjajah sampe 350 tahun, benar ga???

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta