INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 15 Januari 2010

Misi AS Menjatuhkan Soekarno dari Masa Eisenhower sampai Lyndon Johnson


Oleh Sumantiri B. Sugeo

Banyak pejabat di Washington, khususnya pada Direktorat Perencanaan CIA telah lama menginginkan agar Soekarno yang diduga bersahabat dengan komunis China dan Uni Soviet dapat disingkirkan. Bahkan dari kalangan ini ada seorang pengamat politik garis keras seperti Guy Pauker memprediksikan bahwa perlu ada sejenis misi “pembersihan jendral”, seperti A Yani atau Nasution atau orang-orang setia lainnya di lingkungan Soekarno.

Sebelum rejim Pemerintahan Eisenhower berakhir, ada nota-nota akhir yang cukup penting sebagai pesan untuk rejim berikut Amerika Serikat (AS). Presiden Eisenhower yang sedang meninggalkan Gedung Putih akan menentang “rejim apapun” di Indonesia yang akan lebih akrab ke blok timur ( China – Soviet).

Sejak masa peralihan ke Kennedy yang memiliki cara yang berbeda,yaitu dengan memberikan berbagai bantuan ke Pemerintah Indonesia sebagai bagian untuk pendekatan awal sejak krisis Soekarno – Eisenhower. Bagi Kennedy yang lebih muda dan berpikir moderat bahwa Indonesai merupakan wilayah strategis bagi usaha-usaha Amerika Serikat (AS) untuk membendung pengaruh komunis.

Sebaliknya ketika Lyndon Johnson menaiki kursi kepresidenan AS, terjadi kembali perubahan politik yang lebih anti Soekarno. Ini terlihat dari penahanan bantuan ekonomi dari semenjak masa Kennedy pada bulan Desember 1963. Menurut Duta Besar AS di Indonesia bantuan itu semestinya diberikan sebagaimana komitmen Kennedy.

Keterpurukan ekonomi Indonesia 1963 – 1965 sebenarnya juga dipengaruhi berbagai factor politik Indonesia – AS. Hal ini dimanfaatkan oleh Johnson untuk menekan Soekarno. Mirip seperti apa yang dilakukan AS di Cile. Melalui pengaruh AS dalam instabilisasi valuta dan berbagai tindakan lain yang berekses ekonomi, telah member dampak negative terhadap ekonomi Indonesia, bahkan harga beras pada 30 Juni dan 1 Oktober 1965 meningkat empat kali lipat dan harga dolar baik di pasar resmi atau gelap melangit.

Hal yang aneh bagi Johnson adalah ketika ia justru malah memberikan bantuan kepada unsure-unsur angkatan darat secara rahasia yang dianggap sebagai “benih” yang anti terhadap pendekatan rejim Soekarno ke blok Timur.

Bantuan militer AS ke angkatan darat ini bahkan mencapai 39,5 juta dolar dalam empat tahap dari tahun 1962 – 1965. Puncaknya pada tahun 1962 sebesar 16,2 juta dolar. Tetapi nyatanya AD pada masa itu masih tetap setia pada Soekarno. Presiden Pertama Indonesia ini sadar akan apa yang menjadi maksud dari berbagai bantuan tersebut.

Pada tahun 1964, ketika puncak-puncak kemarahan Soekarno yang secara tegas menyatakan “go to hell with your aid”. AS benar-benar sontak memutus segala bantuan ke AD Indonesia. Kongres AS benar-benar gemas dengan prilaku Soekarno yang justru semakin terang-terangan lebih dekat dengan blok China – Soviet.

Pada Juli 1965 perwira-perwira AD di latih di AS secara rahasia dan akan diberikan bantuan berupa dua ratus Aero-Commander (sejenis pesawat terbang ringan) sebagai bagian dari operasi yang disebut sebagai “civic action” untuk malakukan pembersihan pendukung-pendukung Sekarno, seperti Jendral Ahmad Yani dan lain-lain. Para perwira “civic action” ini pada umumnya adalah para perwira menengah yang aktif di Gestapu di Jawa Tengah.

Para perwira asuhan AS ini adalah tangan kanan Soeharto yang memainkan peran ganda dalam politik paling kritis pada 1 Oktober 1965. Soeharto memainkan peran manis setelah pembersihan para Jendral yang setia kepada Soekarno dengan menyebutnya sebagai “kudeta berdarah”. Dari sinilah Soeharto dapat menggeser Soekarno dan berbagai pendukungnya dari istana.

Pendanaan pemerintah AS pada masa Kennedy yang diberikan secara resmi dari Government to Government menjadi berpindah sejak masa Johnson kepada benih-benih AD yang anti Soekarno. Sebagai balas jasa Soeharto memberikan konsensi minyak kepada dua perusahaan minyak AS yaitu Stanvac dan Caltex yang pada awalnya (era Soekrno) di pegang Pertamin yang dipimpin Chairul Saleh.

Sumber : Peter Dale Scott, Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno 1965 – 1967, 2008.

3 komentar:

JOLA76 mengatakan...

bukti kehebatan Indonesia dimasa silam, sampai negara adidaya seperti AS takut sama kita. nice posting sobat, sukses.

Anonim mengatakan...

heheheh hebat AS dah misi tercapai dapat minyak lagi... nasib indon yang bodoh...

Raini Munti mengatakan...

artikelnya keren :)

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta