INTERNASIONAL NASIONAL

Rabu, 13 Januari 2010

Kuda Troya Export China di Jantung-Jantung Pasar Dunia

Oleh Sri Megawati

Persetujuan Perdagangan Bebas (FTA) ASEAN-China yang mulai berlaku Januari 2010 ini merupakan hasil dari sebuah upaya panjang pemerintah China yang produk-produknya menggurita di seluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia. Berbagai produk mulai dari mainan anak-anak, peralatan dapur, elektronik, alat komunikasi, computer, garmen bahkan juga motor semakin hari semakin banyak di Indonesia. Dari pasar Mangga Dua, Tanah Abang, Pasar Senin dan sebagainya kita akan menemukan produk-produk asal negeri naga ini dengan mudah.

Hal yang patut menjadi perhatian kita adalah produk-produk yang sebenarnya menjadi ciri khas Indonesia saja seperti batik sudah juga di produksi China dengan motif yang variatif dengan harga jauh lebih murah. Dari berbagai pantauan Batik China ini bahkan sudah masuk sampai Pasar Klewer, Solo. Padahal kita ketahui Pasar Klewer ini merupakan pusat perdagangan tekstil batik terbesar di Jawa Tengah.

Itulah fakta dan dampak yang muncul dari perdagangan bebas (FTA). Indonesia yang memiliki pasar yang luas dengan jumlah penduduk yang banyak sangat beresiko untuk menjadi “korban” akibat pasar bebas ini.

Pertanyaan besar tentang keuntungan pasar bebas bagi Indonesia seandainya diterapkan
masih menjadi pertanyaan yang sulit untuk ditetapkan, tetapi keyakinan Menteri Departemen Perdagangan RI Mari Pangestu masih teguh untuk memasuki area kontroversi ini dengan ketetapan untuk ikut menandatangai kesepakatan ini pada 27 Februari 2009 yang lalu.

Disisi lain Mantan Menteri Departemen Perindustrian Fahmi Idris pada kabinet yang lalu justru beranggapan bahwa produk dalam negeri akan dikemanakan jika produk lain masuk dengan bebas tanpa adanya pengaturan tarif yang lebih ketat.

Negara-negara maju yang memiliki sistem perdagangan dengan industri yang ditopang oleh modal dan teknologi yang lebih tinggi siap memangsa industri dalam negeri yang masih terkelola dengan kekuatan kecil dan termanejemen konvensional.

Bebagai LSM yang lantang menentang Depdag agar membatalkan penandatanganan kesepakatan tersebut, jelas ini bertentangan dengan semangat untuk mengembangkan produk lokal. Disaat produk lokal masih lemah keran perdangan bebas sudah akan dibuka.

Mari Pangestu beranggapan bahwa perjanjian FTA terdiri dari beberapa klausul yang sudah disepakati dan klausul yang masih dalam proses negosiasi. Sayang ia tidak mengungkapkan bahwa proses negosiasi yang akan datang sebenarnya sudah memiliki draft seperti apa yang akan diterapkan. Tanpaknya nanti Indonesia dalam AANZ-FTA hanya akan menjadi mengikut yang setia saja. Dapat terlihat bahwa AANZ-FTA hanya perpanjangan tangan negara-negara industri maju dan kapitalis yang bermodal besar.

Apakah China sedang berupaya untuk menjadi negara adidaya secara ekonomi? Jawabannya adalah ya. Inilah kajian menarik karena kekuatan dunia pada beberapa waktu ini di kuasai oleh Amerika, Jepang, Prancis, dan Inggris. Sterling Seagraves seorang analis barat mengatakan Cina akan menjadi pemilik abad 21 dan menjadi raksasa kekuatan ekonomi dunia.

Pada tahun 2010 nanti, nilai nominal ekonomi Cina setidaknya mencapai AS $ 9.9 trilyun. Angka ini merupakan angka tertinggi didunia yang akan berada di atas Jepang dan AS. Ternyata Premis Seagraves itu terbukti. Belum sampai 2010, Cina telah menjadi raksasa ekonomi dunia.

Sebenarnya apa rahasia kesuksesan perdagangan China untuk menjadi adidaya ekonomi? Keberhasilan Cihna itu tidak lepas dari peran keturunan Cina (baca: Cina Perantauan) yang menyebar di seluruh dunia. Mereka ini ibarat kuda troya yang akan membuka keren-keren import di negeri-negeri calon pasar, termasuk pasar-pasar Indonesia yang dibanjiri impor barang China.

Menurut kajian Sterling, yang dituangkan dalam bukunya ‘Lords of the Rims’, pada tahun 1990 ada 55 juta orang Cina Perantauan atau “China Overseas”. Mereka umumnya berasal dari Cina Selatan (pesisir). Jumlah mereka ini hanya 4 persen dari total bangsa Cina Daratan 1,2 milyar. Namun jika seluruh kekuatan ekonominya digabung dengan lintas batas-batas negara, maka seluruh nilai kekayaan Cina Perantauan berjumlah AS $ 450 milyar. Angka ini adalah 35 persen lebih besar dari jumlah GNP negeri Cina tahun 1990!

Siapa para tokoh networking perdagangan China? Para taipan diseluruh negara yang menjadi pengusaha konglomerat di berbagai negara di dunia. Mereka adalah kunci dan pintu dari pembukaan isolasi yang dilakukan oleh masyarakat internasional.

Para taipan bisnis Cina Perantauan berandil besar membentuk semacam kongsi bisnis yang melewati batas-batas negara namun saling menjalin usaha bisnis yang saling menyokong antar sesamanya. Jalinan sistem finansial kaum Cina Perantauan ini terbentang di pusat-pusat keuangan dunia di seputar wilayah Samudera Pasifik mulai dari Vancouver Canada, Los Angeles USA, Hong Kong, Taipei, Singapore sampai dengan negara ASEAN termasuk Indonesia.

Sederetan nama tersohor di antara pebisnis kaya raya seperti Li Ka Shing di Hongkong dan Lim Soei Liong di Indonesia sempat pernah menjadi peringkat atas orang terkaya tidak hanya di Asia Pasifik namun di dunia pada dekade 1990-an.

Sejak tahun 1990-an saat rezim Pemerintah Cina mengendorkan kekakuan ideologi sosialisme-komunis serta membuka diri terhadap ideologi kapitalisme, maka maraklah kaum pebisnis Cina Perantauan kaya raya yang telah sukses di luar negeri ramai-ramai pulang kembali ke negeri leluhurnya untuk berbisnis sekalian menjalankan tradisi warisan budaya memuliakan kampung halaman.

Kehadiran jaringan Cina Perantauan ini sudah terjadi sejak berabad-abad lamanya. Mereka dulunya adalah suku-suku di pesisir selatan. Tirani pemerintah komunis terhadap mereka mengharuskan mereka mencari jalan lain ke luar negaranya. Maka tak mengherankan mereka amat lihai dalam permainan di bawah tanah. Keahlian itu terus berlanjut turun temurun di berbagai belahan dunia.

Ikatan antar Cina Perantauan sempat dilegalkan oleh oleh mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew. Pada Agustus 1991 ia mengadakan Konvensi Cina Sedunia di Singapura untuk mengumpulkan pengusaha-pengusaha Cina Perantauan dari seluruh dunia. Konvensi ini dihadiri 800 pengusaha besar Cina yang datang dari 30 negara termasuk dari Indonesia. Konvensi ini bertujuan untuk “membentuk jaringan kerja sama ekonomi masyarakat bisnis internasional Cina untuk memanfaatkan berbagai peluang bisnis”.

Pertemuan ini mampu membangkitkan premordialisme para pengusaha Cina bahwa keberhasilan mereka dalam bidang ekonomi tidak lepas dari kesamaan mereka yang mewarisi tradisi budaya super yaitu Cina. Ini kemudian dikaitkan dengan sifat-sifat tradisi budaya itu untuk bersikap hemat, kerja keras, mengutamakan pendidikan, persatuan dan saling membantu, bahkan ditekankan kembali Confucianisme sebagai etos pengikat orang-orang Cina.

Konvensi ini kemudian disusul dengan konvensi serupa yang diadakan di Hongkong pada bulan November 1993 yang dihadiri 1000 pengusaha besar Cina dari seluruh dunia. Indonesia diwakili 40 konglomerat non-keturunan Cina. Jauh sebelum itu, pemerintah Cina pada tahun 1949 mendirikan Departemen Komisi Tionghoa Perantauan dan memberikan 30 kursi di Kongres Rakyat Cina untuk wakil-wakil Tionghoa Perantauan termasuk wakil-wakil dari Indonesia.

Tujuan Departemen ini adalah untuk (1) melindungi kepentingan orang-orang Cina di perantauan, (2) memperkuat ikatan antara orang Cina diperantauan dan dengan tanah leluhur, dan (3) menganjurkan orang Cina mengirimkan uangnya ke Cina.

Terbentuknya jaringan kerja sama yang berbau rasialis ini menggoncang nasionalisme pribumi di negara-negaraASEAN, termasuk Indonesia yang saat itu sedang berusaha keras untuk mempersatukan non-pri dan pribumi. Selain itu ada ketakutan akan larinya modal Indonesia ke luar negeri (capital flight) yang berarti merusak ekonomi dalam negeri.

Apalagi, sudah lama pemerintah RRC sendiri menganjurkan pengusaha-pengusaha Cina Perantauan untuk menanamkan modal mereka secara besar-besaran ke RRC. “Tanpa orang-orang keturunan Cina ini, sulit bagi RRC untuk bisa mewujudkan suatu pertumbuhan ekonomi yang begitu tinggi.

Para pengamat memperkirakan bahwa 60 persen investasi asing di daratan Cina ini dibawa oleh para pengusaha keturunan Cina. Tanpa orang-orang keturunan Cina seperti Mochtar Riady atau Soedono Salim dari Indonesia. Robert Kuok dari Malaysia atau Charoen Pokphan dari Thailand, tidak banyak modal yang akan masuk ke daratan Cina untuk investasi.” (Jhon K Naveront, Jaringan Masyarakat China).

Penguasaan Negara Cina Perantauan menancapkan tajinya yang luar biasa di bidang ekonomi. I Wibowo (2004), secara menyatakan dihampir semua negara-negara ASEAN, pengusaha Tionghoa Perantauan menguasai 70 persen kue ekonomi.

Mereka juga mengembangkan bisnisnya di pasar global. Apalagi, mereka memiliki apa yang disebut sebagai multinational corporations Tionghoa (MNCs). Diversifikasi usaha MNCs Tionghoa ini sudah sedemikian jauh, mencakup sektor industri semen, penerbangan, terigu, pulp, ekspor-impor, perbankan dan keuangan, agribisnis, pertambangan, kehutanan, manufaktur dan kelautan. Dari merekalah tumbuh MNCs yang sanggup menandingi MNCs Barat di Asia Tenggara.

Sejalan dengan tradisi, perusahaan-perusahaan bernilai milyaran diturunkan dari bapak ke anak seperti layaknya warung kelontong. Mereka, kata Seagraves, dijalankan oleh para kepala sindikat perdagangan Cina yang rahasia dan superkaya. Mereka inilah yang secara riil menguasai perekonomian di Asia Pasifik, kecuali Jepang dan dua Korea.

Sampai-sampai Cina Perantauan merupakan salah satu sumur terbesar modal cair dunia. Seorang bankir Singapura menaksir aset cair mereka sebesar US $ 2 trilyun, belum termasuk sekuritas. Kesuksesan itu tidak lepas dari kelihaian bisnis, cakap berorganisasi, dan cerdik memanfaatkan perlindungan politik (patronase), serta mendapatkan konsesi-konsesi monopoli dari pemerintahan-pemerintahan yang sulit. Karenanya sulit bagi mereka mencapai kesuksesan itu tanpa ketrampilan istimewa dalam urusan suap menyuap dan patronase.

Begitu berkuasanya mereka di berbagai negara, khususnya kawasan Pasifik, hingga kekuasaannya ibarat jaring labalaba yang membentang di kawasan itu. Sampai-sampai investor Barat dan Jepang pun tak mampu masuk ke kawasan ini tanpa campur tangan mereka. Didukung oleh semangat solidaritas yang kuat, jaringan-jaringan bawah tanah, pragmatisme politik, informasi yang hebat, dan kemampuan menyesuaikan diri, cengkeraman mereka di kawasan Pasifik tak ada yang bisa menandingi. Seagraves bahkan berani mengatakan jika mereka bersatu maka pengaruh mereka akan meningkat tiada tara. Kekuatannya bisa menguasai perdagangan dunia.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta