INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 22 Januari 2010

Kebangkitan Rusia dan Nasionalisme Kremlin "KGB"


Oleh Sumantiri B. Sugeo

Semasa Putin menjadi presiden. Kebangkitan Rusia memang tidak terbantahkan. Ini terlihat dari kemajuan ekonomi secara ril, cadangan devisa, pengurangan hutang, dan kembalinya sector energy ketangan pemerintah lewat nasionalisasi Putin. Di luar itu pengembangan teknologi militer ternyata juga mampu menjadi salah satu penyokong ekonomi Rusia.

Walaupun Putin mendapatkan sorotan buruk dari para jurnalis barat yang tidak menginginkan nasionalisasi energy Rusia, tetapi nyatanya dukungan dari dalam negeri semakin luas. Rakyat Rusia merasa selama kepemimpinan Putin rakyat Rusia lebih merasakan kemajuan yang berarti dari mulai perbaikan pendidikan, infrastruktur, perbaikan tingkat kesehatan dan sebagainya.

Hal ini sebenarnya karena sejak nasionalisasilah pemerintah mulai mempunyai uang untuk membiayai berbagai pelayanan public untuk rakyatnya. Sementara di era sebelum Putin, yang pada masa itu Rusia baru jatuh dari terpuruknya sebuah kesatuan idelogi Uni Soviet, yang menyebabkan kas Negara Rusia hamper-hampir kosong.

Tidak mudah sebenarnya bagi Putin untuk menghadapi berbagai tantangan Rusia kedepan, tetapi justru yang paling berat adalah tekanan AS dan NATO untuk membuka Rusia sebagai Negara pasar yang bersahabat.

AS dan NATO menginginkan bahwa energy Rusia lebih diswastanisasi dan diberikan peran kepada warganya untuk lebih berperan terhadap ekonomi Rusia. Putin mengelak lantaran faktanya investor AS lebih mendominasi sector energy Rusia sebelum terjadinya nasionalisasi energy Rusia. Sampai pemerintah hanya benar-benar menjadi penonton yang pasif yang “berdompet kosong” akibat berbagai tekanan AS dan NATO.

Ini yang menyebabkan Putin lebih memperhatikan kemajuan militer dan keamanan sebagai landasan untuk kemajuan ekonomi sebagai Negara yang berdaulat dan paling senior dari mantan Negara Uni Soviet. Kemajuan teknologi militer penting untuk memperkuat bargaining terhadap kekuatan barat yang pada akhirnya bermotif ekonomi. Bukan barang basi jika keseimbangan barat dan timur dikembangkan untuk tujuan kemajuan ekonomi tersebut.

Berbeda dengan era Yeltsin dan Gorbachev yang dianggap sebagai tokoh yang paling bertanggungjawab atas berbagai kejatuhan Rusia, baik ekonomi, militer maupun pelayanan untuk rakyatnya yang memprihatinkan. Yeltsin mendukung barat, dalam hal ini AS dan NATO dan juga mendukung pasar yang menyebabkan di era Yeltsin banyak perusahaan AS masuk dan mendominasi sector energy Rusia.

Dari serpihan serpihan kekuatan yang masih ada di Rusia bekas Yeltsin dan Gorbachev ternyata Putin berhasil membangun Rusia kembali dengan cepat, sehingga disegani oleh banyak lawan ataupun kawan. Dengan kekuatan Kremlin yang disulap oleh Putin menjadi pusat nasionalisme Rusia, dan menjadi kekuatan politik untuk membantu gerakan nasionalisasi dan mesin politik Putin yang efektif.

Ada sebuah kekuatan kelompok yang diberi nama Siloviki yang mendominasi Kremlin. Siloviki dalam bahasa RusIa berarti kekuasaan. Kelompok ini terdiri dari para politikus Rusia yang di masa lalu adalah para personal KGB dan petinggi militer. Di era Uni Sovietpun para tokoh ini menduduki posisi penting.

Kita mungkin masih ingat ketika masa rejim Gorbachev membubarkan KGB sebagai dinas militer haram. Puncaknya bahkan masyarakat berbondong-bondong menyerbu markas KGB di Lapangan Luyanka, Moskwa. Patung Felix Dzerzhinsky (pendiri KGB) dihancurkan yang merupakan simbol agen yang pernah disegani tersebut. Bayangkan saja pada masa lalu jumlah anggota KGB sampai lebih dari 500.000 orang yang sangat terlatih, dan dianggap memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Tokoh-tokoh KGB bahkan ada yang sampai dipenjarakan. Krisis hebat Rusia yang mencetuskan kemarahan masyarakat akibat faktor ekonomi mencari kambing hitam yang sebenarnya sampai sekarang ini justru menjadi pertanyaan publik.

Apakah benar masalah ekonomi Rusia yang jatuh ketika itu adalah akibat kesalahan KGB? Apakah kudeta KGB terhadap Gorbachev benar-benar ada? Nyatanya para teknokrat Rusia sekarangpun berkeyakinan bahwa swastanisasi energi Rusia masa Gorbachev dan kekalahan perang di Afghanistan adalah pencetus utama kehancuran ekonomi Rusia.

Apakah para mantan KGB ini benar-benar bubar? Nyatanya mereka bergabung dalam kelompok Siloviki, korp dan semangat mereka memang luar biasa. Kelompok ini merupakan orang-orang ultra nasionalis yang menginginkan Rusia sebagai Negara kuat di dunia.

Banyak diantara mereka ini yang kembali ke dinas rahasia Rusia yang sekarang bernama FSB, tetapi ada juga yang tidak bergabung tetapi mereka siap dipanggil untuk menjalankan tugas negara.

Para anggota Silolviki menginginkan etnis Slav (Slavophilic) sebagai entis utama dunia. Terdengarnya agak rasis, tetapi ternyata ini penting bagi semangat nasionalisasi Rusia yang menjadi isu strategis penting saat ini. Nyatanya banyaknya entis dalam Rusia tidaklah menjadi persoalan yang serius, dan banyak juga diluar etnis Slav yang menjadi tokoh penting dalam pemerintahan Rusia.

Tokoh sentral dari Siloviki ini adalah Putin, Alexei Kondourov, Vadim Bakatin (Tokoh Reformis KGB), Fillip Babkov, Igor Goloshapov. Vladimir Putin pernah menjadi Presiden Rusia, kemudian setelah pemilu yang dimenangkan oleh Medvedev, oleh Medvedev diangkat sebagai Perdana Menteri Rusia.

Bisa kita ambil kesimpulan bahwa kekuatan dan kebangkitan Rusia diawali oleh nasionalisme Kremlin yang ternyata sebagian besar tokohnya adalah berasal dari agen rahasia KGB (FSB sekarang). Kebangkitan ini diawali dengan nasionalisasi sector energy Rusia yang digunakan untuk perbaikan ekonomi, infrastruktur, dan pelayanan di Rusia.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Rasanya Rusia memang suatu saat akan bangkit kembali sebagai salah satu kekuatan akan tetapi tidak lagi seperti dulu karena sekarang muncul China sebagai calon adidaya baru, yah mungkin posisi Rusia menjadi nomer 3 diantara AS dan China.

nuh abadi mengatakan...

secara ekonomi rusia nomer 3 setelah as dan cina, tetapi di bidang iptek dan kualitas produk senjata, rusia tetap saingan berat amerika srikat, cina di bidang iptek n kualitas produksi senjata masih jauh di bawah rusia....
sebagian teknologi cina seperti nuklir, pesawat ruang angkasa adl hasil dari belajar dari rusia.

nuh abadi mengatakan...

secara ekonomi rusia nomer 3 setelah as dan cina, tetapi di bidang iptek dan kualitas produk senjata, rusia tetap saingan berat amerika srikat, cina di bidang iptek n kualitas produksi senjata masih jauh di bawah rusia....
sebagian teknologi cina seperti nuklir, pesawat ruang angkasa adl hasil dari belajar dari rusia.

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta