INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 22 Januari 2010

Belajar dari Rusia Tentang Kepentingan Nasional Rusia Ala Putin – Medvedev


Oleh Heri Hidayat Makmun

Sejak terpilihnya Medvedev menjadi presiden Rusia menggeser Viktor Zubkov dan Sergei Ivanov. Medvedev sebagai Wakil Perdana Menteri. Presiden Medvedev menunjukkan mantan Presiden Rusia periode sebelumnya Vladimir Putin yang memiliki pengaruh di militer, agen rahasia dan pengaruhnya di Eropa Timur.

Banyak pengamat beranggapan bahwa sebenarnya Rusia masih berada di gemgaman Putin yang ex KGB ini. Apalagi Medvedev pun pernah menyatakan bahwa kepemimpinannya akan menjadi “kesinambungan langsung” (direct continuation) dari kepemimpinan Putin. Posisi Putin yang sekarang sebagai Perdana Menteri jelas menggambarkan hal tersebut.

Dalam berbagai kampanye ketika Medvedev mempromosikan diri sebagai calon Kandidat Presiden Rusia sedikit sekali membawa isu luar negeri sebagai komoditas politiknya. Medvedev sesuai dengan kompetensi ekonominya lebih mengarahkan focus ekonomi Rusia sebagai hal yang penting, tetapi sebenarnya diluar dari itu porsi luar negeri sudah diserahkan untuk Putin.

Bagi Medvedev Putin adalah tokoh yang lebih tepat untuk kepentingan nasional Rusia. Terutama dalam kaitannya dengan penolakan Rusia dalam rencana pembangunan jaringan rudal anti balistik di Republik Ceko dan Polandia yang akan di bangun oleh Amerika Serikat, dan tentunya didukung oleh NATO.

Sebagai anggota Dewan Keamanan Nasional, Medvedev terbiasa dengan isu-isu hubungan Rusia dengan NATO, Eropa Barat dan AS. Kunjungan Presiden Rusia itu bersama dengan Perdana Menterinya, Putin. Memberikan gambaran kedekatan dua tokoh nasinal Rusia, yang terkenal sebagai tokoh kebangkitan Rusia ini, paska jatuhnya Uni Soviet dan berdirinya Rusia sebagai Negara yang secara ideology tetap mengawal semangat ke “Uni Sovietan”.

Duet dua tokoh nasional Rusia ini akan menjadi kombinasi yang luar biasa dalam kombinasi kompetensi ekonomi dan kompetensi hankam. Putin yang mantan anggota KGB yang sangat berpengalaman dalam operasi-operasi masa jayanya Uni Soviet untuk menghadap pengaruh AS dan NATO. Putin juga orang yang dengan dengan berbagai tokoh jendral Rusia.

Kedekatan Putin dengan militer ini memberi kekuatan pada putin untuk berani menolak melawan rencana penggelaran rudal di Republik Ceko dan Polandia dengan menawarkan penggunaan fasilitas militer di Gadala, perbatasan Rusia – Azerbaijan.

Kombinasi Medvedev – Putin menjadi penting mengingat tokoh-tokoh militer Rusia seperti Kepala Staf Gabungan Yury Baluevsky menyatakan penolakannya terhadap kontrontasi isu nuklir dan rudal di Eropa Timur. Yury beranggapan bahwa perimbangan kekuatan timur barat adalah hal yang sudah basi. Bagi Putin masa depan Rusia adalah semangat untuk berinovasi dalam teknologi militer yang berkompetisi dengan kekuatan teknologi militer Eropa Barat dan AS.

Faktanya pemasukan Rusia dari berbagai penjualan senjata canggih ke dunia memang hal yang luar biasa. Seperti kita ketahui pesawat super canggih Sukoi yang banyak digunakan diberbagai Negara, termasuk Indonesia. Hal ini juga yang diamini oleh Medvedev yang disebutnya sebagai “kepentingan nasional Rusia”.

Bisa kita ambil kesimpulan konfrontasi militer tidak berarti perang tetapi juga adalah kepentingan ekonomi seperti yang dilakukan oleh Medvedev dan Putin. Apakah Indonesia juga perlu berkonfrontasi untuk meningkatkan teknologi militer kita yang sangat (maaf) “konyol”?

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta