INTERNASIONAL NASIONAL

Selasa, 20 Oktober 2009

Pelajaran Bagi Kita : Dekade-Dekade Akhir Kehancuran Majapahit


Oleh Heri Hidayat Makmun

Dari zaman ke zaman sering kali kita mendapatkan pelajaran sejarah tentang hancurnya suatu kaum atau bangsa. Baik kehancuran akibat ketamakan bangsa itu sendiri atau karena serbuan dari pihak asing. Jika menggali sejarah nusantara kita sendiri, maka kita mendapatkan hikmah dari hancurnya kerajaan Majapahit dan Sriwijaya atau kerajaan lainnya yang pernah ada dinusantara. Ternyata factor yang paling banyak menghancurkan suatu negeri atau bangsa adalah akibat perebutan kekuasan antara elit, kelompok, atau keturunan.

Ini bukti bahwa sumpah pemuda yang pernah di nyatakan oleh para pemuda pendahulu negeri ini ketika penjajahan Belanda begitu mencengkram kita masihlah relevan. Ternyata persatuan itu juga yang memperkuat sendi-sendi kebangsaan kita untuk bisa mengalahkan kekuatan yang hamper 350 tahun berurat berakar di bumi tercinta ini.

Mari kita gali mengapa Kerajaan Majapahit yang berasal dari para bangsawan keturunan Singosari ini pada akhirnya juga mengalami dekradasi yang merubuhkan sendi-sendi kerajaan yang sebenarnya pernah mengalami kejayaan pada masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada berkuasa itu. Mengapa begitu ringkihnya kekuatan yang pada mulanya begitu rapi tersusun.

Hancurnya Majapahit ternyata bukanlah oleh serangan yang berarti, justru hancurnya negeri itu akibat perseteruan tidak habis-habisnya antara generasi keturunan di Majapahit. Sejarah permusuhan di Majapahit adalah warisan dendam dari masa Singosari. Sejak Ken Arok menusukkan Keris Empu Gandringnya, maka sejak itulah sejarah dendam dari generasi ke generasi sampai berdiri dan rubuhnya Majapahit dan juga berdirinya Demak, juga rubuhnya kerajaan Islam Demak adalah akibat perseteruan tidak berkesudahan.

Mungkin kita bisa membaca zaman dari proyeksi sejarah kita dahulu mengapa dari presiden ke presiden berikutnya di Indonesia selalu tidak harmonis. Tapi mudah-mudahan kesadaran generasi sekarang lebih tinggi untuk selalu menjunjung semangat persatuan demi keterusan dari nasib bangsa ini. Mari kita gali sejarah itu. Sejarah kehancuran Majapahit.

Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. Majapahit menguasai kerajaan-kerajaan lainnya di semenanjung Malaya, Borneo, Sumatra, Bali, dan Filipina.

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.[2] Kekuasaannya terbentang di Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo, hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.[3]
Setelah masa Raden Wijaya yang merupakan zaman keemasan Kerajaan Majapahit, yang kemudian digantikan oleh anaknya Jayanegara.

Masa Jayanegara merupakan masa penaklukan daerah-daerah di Nusantara. Jayanāgara memerintah sekitar 11 tahun, tetapi pada tahun 1328 ia dibunuh oleh tabibnya yang bernama Tanca karena berbuat serong dengan isterinya. Tanca kemudian dihukum mati oleh Gajah Mada.

Karena tidak memiliki putera, tampuk pimpinan Majapahit akhirnya diambil alih oleh adik perempuan Jayanāgara bernama Jayawisnuwarddhani, atau dikenal sebagai Bhre Kahuripan sesuai dengan wilayah yang diperintah olehnya sebelum menjadi ratu.

Namun pemberontakan di dalam negeri yang terus berlangsung menyebabkan Majapahit selalu dalam keadaan berperang. Salah satunya adalah pemberontakan Sadĕng dan Keta tahun 1331 memunculkan kembali nama Gajah Mada ke permukaan. Keduanya dapat dipadamkan dengan kemenangan mutlak pada pihak Majapahit.

Pada masa itu terjadi momen yang sampai sekarang kita kenal yaitu Sumpah Palapa, bahwa ia tidak akan amukti palapa sebelum menundukkan daerah-daerah di Nusantara, seperti daerah-daerah di Kalimantan (Gurun, Tanjungpura ), Seram ( Seran), Maluku (di Haru), Pahang di Malaysia sekarang, Sumbawa (Dompo) di NTB sekarang, Bali, Jawa Barat (Kerajaan Pajajaran), Palembang, dan Tumasik (Singapura sekarang). Untuk membuktikan sumpahnya, pada tahun 1343 Bali berhasil ia ditundukan.

Ratu Jayawisnuwaddhani memerintah cukup lama, 22 tahun sebelum mengundurkan diri dan digantikan oleh anaknya yang bernama Hayam wuruk dari perkawinannya dengan Cakradhara, penguasa wilayah Singhāsari. Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja tahun 1350 dengan gelar Śri Rajasanāgara.

Gajah Mada tetap mengabdi sebagai Patih Hamangkubhūmi (mahāpatih) yang sudah diperolehnya ketika mengabdi kepada ibunda sang raja. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kebesarannya.

Ambisi Gajah Mada untuk menundukkan nusantara mencapai hasilnya di masa ini sehingga pengaruh kekuasaan Majapahit dirasakan sampai ke Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Maluku, hingga Papua. Tetapi Jawa Barat baru dapat ditaklukkan pada tahun 1357 melalui sebuah peperangan yang dikenal dengan peristiwa Bubat, yaitu ketika rencana pernikahan antara Dyah Pitalokā, puteri raja Pajajaran, dengan Hayam Wuruk berubah menjadi peperangan terbuka di lapangan Bubat, yaitu sebuah lapangan di ibukota kerajaan yang menjadi lokasi perkemahan rombongan kerajaan tersebut.

Akibat peperangan itu Dyah Pitalokā bunuh diri yang menyebabkan perkawinan politik dua kerajaan di Pulau Jawa ini gagal. Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa setelah peristiwa itu Hayam Wuruk menyelenggarakan upacara besar untuk menghormati orang-orang Sunda yang tewas dalam peristiwa tersebut. Perlu dicatat bawa pada waktu yang bersamaan sebenarnya kerajaan Majapahit juga tengah melakukan eskpedisi ke Dompo (Padompo) dipimpin oleh seorang petinggi bernama Nala.

Setelah peristiwa Bubat, Mahāpatih Gajah Mada mengundurkan diri dari jabatannya karena usia lanjut, sedangkan Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri bernama Pāduka Śori, anak dari Bhre Wĕngkĕr yang masih terhitung bibinya.

Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk kerajaan Majapahit menjadi sebuah kerajaan besar yang kuat, baik di bidang ekonomi maupun politik. Hayam Wuruk memerintahkan pembuatan bendungan-bendungan dan saluran-saluran air untuk kepentingan irigasi dan mengendalikan banjir. Sejumlah pelabuhan sungai pun dibuat untuk memudahkan transportasi dan bongkar muat barang. Empat belas tahun setelah ia memerintah, Mahāpatih Gajah Mada meninggal dunia di tahun 1364. Jabatan patih Hamangkubhūmi tidak terisi selama tiga tahun sebelum akhirnya Gajah Enggon ditunjuk Hayam Wuruk mengisi jabatan itu. Sayangnya tidak banyak informasi tentang Gajah Enggon di dalam prasasti atau pun naskah-naskah masa Majapahit yang dapat mengungkap sepak terjangnya.

Raja Hayam Wuruk wafat tahun 1389. Menantu yang sekaligus merupakan keponakannya sendiri yang bernama Wikramawarddhana naik tahta sebagai raja, justru bukan Kusumawarddhani yang merupakan garis keturunan langsung dari Hayam Wuruk. Ia memerintah selama duabelas tahun sebelum mengundurkan diri sebagai pendeta. Sebelum turun tahta ia menujuk puterinya, Suhita menjadi ratu.

Hal ini tidak disetujui oleh Bhre Wirabhūmi, anak Hayam Wuruk dari seorang selir yang menghendaki tahta itu dari keponakannya. Perebutan kekuasaan ini membuahkan sebuah perang saudara yang dikenal dengan Perang Parěgrěg. Bhre Wirabhumi yang semula memperoleh kemenanggan akhirnya harus melarikan diri setelah Bhre Tumapĕl ikut campur membantu pihak Suhita.

Bhre Wirabhūmi kalah bahkan akhirnya terbunuh oleh Raden Gajah. Perselisihan keluarga ini membawa dendam yang tidak berkesudahan. Beberapa tahun setelah terbunuhnya Bhre Wirabhūmi kini giliran Raden Gajah yang dihukum mati karena dianggap bersalah membunuh bangsawan tersebut.

Suhita wafat tahun 1477, dan karena tidak mempunyai anak maka kedudukannya digantikan oleh adiknya, Bhre Tumapĕl Dyah Kĕrtawijaya. Tidak lama ia memerintah digantikan oleh Bhre Pamotan bergelar Śri Rājasawardhana yang juga hanya tiga tahun memegang tampuk pemerintahan.

Bahkan antara tahun 1453-1456 kerajaan Majapahit tidak memiliki seorang raja pun karena pertentangan di dalam keluarga yang semakin meruncing. Situasi sedikit mereda ketika Dyah Sūryawikrama Giriśawardhana naik tahta. Ia pun tidak lama memegang kendali kerajaan karena setelah itu perebutan kekuasaan kembali berkecambuk.

Demikianlah kekuasaan silih berganti beberapa kali dari tahun 1466 sampai menjelang tahun 1500. Berita-berita Cina, Italia, dan Portugis masih menyebutkan nama Majapahit di tahun 1499 tanpa menyebutkan nama rajanya. Semakin meluasnya pengaruh kerajaan kecil Demak di pesisir utara Jawa yang menganut agama Islam, merupakan salah satu penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit. Tahun 1522 Majapahit tidak lagi disebut sebagai sebuah kerajaan melainkan hanya sebuah kota.

Pemerintahan di Pulau Jawa telah beralih ke Demak di bawah kekuasaan Adipati Unus, anak Raden Patah, pendiri kerajaan Demak yang masih keturunan Bhre Kertabhūmi. Ia menghancurkan Majapahit karena ingin membalas sakit hati neneknya yang pernah dikalahkan raja Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya.

Demikianlah maka pada tahun 1478 hancurlah Majapahit sebagai sebuah kerajaan penguasa nusantara dan berubah satusnya sebagai daerah taklukan raja Demak. Berakhir pula rangkaian penguasaan raja-raja Hindu di Jawa Timur yang dimulai oleh Keng Angrok saat mendirikan kerajaan Singhāsari, digantikan oleh sebuah bentuk kerajaan baru bercorak agama Islam.

Ini berdasarkan catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.

Itulah saudara betapa Majapahit yang pernah berkuasa di wilayah yang luas dan kuat itu pada akhirnya harus hancur oleh perseteruan bersaudara yang tidak berkesudahan. Mudah-mudahan ini memberikan pencerahan pada kita semua bahwa tidak ada alas an untuk saling berseteru, menggunting dalam lipatan, menhantam kawan seiring, memfitnah dan sebagainya hanya untuk mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan yang langgeng adalah kekuasaan yang demokratis, adil dan beradab. Semoga kita tetap menjadi bangsa yang bersatu, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia. Semoga tetap jaya. Amiin.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta