INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 25 Oktober 2009

Akankah Kekuatan Militer Jepang Bangkit Lagi Setelah Kehancuran di Perang Dunia II?

Oleh Heri Hidayat Makmun

Jepang negara kepulauan yang terdiri dari 6,852 pulau yang berpenduduk 128 juta orang, dan berada di peringkat ke-10 negara berpenduduk terbanyak di dunia. Menurut mitologi tradisional, Jepang didirikan oleh Kaisar Jimmu pada abad ke-7 SM. Kaisar Jimmu memulai mata rantai monarki Jepang yang tidak terputus hingga kini.

Meskipun begitu, sepanjang sejarahnya, untuk kebanyakan masa kekuatan sebenarnya berada di tangan anggota-anggota istana, shogun, pihak militer, dan memasuki zaman modern, di tangan perdana menteri. Menurut Konstitusi Jepang tahun 1947, Jepang adalah negara monarki konstitusional di bawah pimpinan Kaisar Jepang dan Parlemen Jepang. Jepang memiliki kekuatan militer yang memadai lengkap dengan sistem pertahanan moderen seperti AEGIS serta suat armada besar kapal perusak.

Paska perang dunia II yang menyakitkan bagi bangsa Jepang dengan kehancuran dua kota yang di bom atom oleh tentara sekutu pimpinan Amerika Serikat. Kota Hirosima dan Nagasaki. Kerusakan fatal Infrastruktur, bencana kemanusiaan, ambruknya ekonomi, dan polusi kimia nuklir yang masih tersisa sampai generasi sekarang ini.

Upaya-upaya rahasia dilakukan selama lebih dari tiga dasa warsa paska kekalahan Jepang. Jepang telah menempa kekuatan industri militernya yang potensil jika memang negara itu memutuskan memasuki bidang tersebut.

Secara ekonomi kekuatan Jepang sangat potensial. GNP Jepang telah tumbuh dari di bawah satu persen total GNP global pada tahun 1955 menjadi hanya sekitar 3 persen pada tahun 1970 hingga mencapai 15 persen untuk tahun ini. Angka ini merupakan seperenam hasil ekonomi seluruh dunia. Produksi seluruh industrinya dua kali lipat negara adidaya yang sudah runtuh (Uni Soviet) dan dapat melampaui Amerika Serikat dalam satu dasa warsa.

Jepang bersikeras untuk secara luas mengembangkan sektor-sektor teknologi tinggi yang berkaitan erat dengan kemampuan medan pertempuran pada era pasca perang dingin. Beberapa bidang teknologi yang berkaitan atau akan dikaitkan dengan mesin perang. Teknologi-teknologi ini dalam peranan di sipil telah melahirkan kamera, robot, televisi, mesin potocopy, dan industri sirkuit terpadu kelas dunia. Produk-produk ini telah merajai pasar dunia karena kecanggihan teknologinya.

Berbagai teknologi tersebut seperti sistem sensor elektronik dan pemandu yang sama yang menghasilkan foto 35 mm berkualitas tinggi, pemandu peluru kendali supersonik tanpa menyimpang dari sasarannya. Teknologi bom pintar yang dilengkapi dengan kamera mini Sony dan sejumlah tertentu Jepang yang menghancurkan jembatan Sungai Merah di Hannoi selama perang Vietnam yang selama ini misi tersebut dilakukan secara manual dan mengalami kegagalan oleh para pilot F-4 Phantom.

Teknologi tinggi Jepang juga digunakan sebagai inti peluru-peluru kendali Tomhawk Amerika Serikat yang menghujani Baghdan selama Perang Teluk. Sistem sensor dan pemandu yang tepat dan canggih untuk peluru kendali, pesawat terbang dan alat peringatan dini yang semakin penting dan strategis pada masa yang akan datang.

Kemampuan Jepang dalam teknologi senjata dan peralatan militer tidak diimbangai oleh diplomasi politik diluar negeri untuk sekedar mendapat kesempatan membangun kembali kekuatan militer, tekanan Amerika Serikat dan negara-negara NATO atas kebangkitan kekuatan masa lalu Jepang. Walaupun sebagian besar negara-negara berkembang mantan jajahan Jepang sudah ada yang memaafkan.

Dalam memikirkan pilihan pertahanan Jepang pada masa depan, mempertimbangkan kekuatan jangka panjang yang condong dan secara dini menetapkan keputusan apa yang secara sadar benar-benar telah diambil oleh Jepang, merupakan suatu hal yang penting. Jelas dua faktor itu adalah menanjaknya kekuatan ekonomi dan teknologi Jepang. Dengan kekuatan ekonominya Jepang dapat dengan mudah menggalang kekuatan militer modern secara cepat.

Nasionalisme Jepang, semangat shogun, kecerdasan, pendidikan, etos kerja, budaya dan tentunya ekonomi semuanya sudah mendukung untuk terjadinya kekuatan militer yang diharapkan, bahkan menjadi superpower pun.

Hanya satu kelemahan Jepang pada masa komtemporer ini, ialah rasa bersalah Jepang sendiri. Selain itu tekanan Amerika Serikat, negera-negara anggota NATO, dan negara-negara berkembang yang pernah dijajah Jepang dari tahun 1940-an sampai 1945 ketika Jepang bertekuk lutut terhadap sekutu.

Untuk memenuhi keperluan keamanan yang sedang tumbuh, sebagai hasrat yang terpendam dan tertekan. Dimana Jepang berenang dekat puncak imperialisme barat abad kesembilanbelas. Birokrasi Jepang sementara waktu hanya membangun industri otonom sebagai swadaya peralatan persenjataan hal yang pokok bagi keamanan nasional Jepang.

Kecendrungan menuju swadaya ini sangat jelas pada tahap awal kontroversi Amerika Serikat - Jepang pada tahun 1989 mengenai pembuatan pesawat tempur FSX generasi berikutnya, sehingga hal ini membuat Amerika Serikat gerah dan pada masa pemerintah Reagen - Bush dengan dukungan kongres, melalui tekanan lobbying yang kuat melawan konsep pengembangan industri militer Jepang yang independen. Akhirnya MITI, Badan Pertahanan Jepang, dan industri pertahanan Jepang, sepenuhnya tunduk dan setuju memproduksi pesawat tempur FSX generasi berikutnya yang skemanya ditentukan oleh Amerika Serikat.

Penolakan laten terhadap pembangunan bersama Amerika Serikat - Jepang muncul baik dari luar maupun dari dalam tim proyek pengembangan senjatanya sendiri. Pembangkangan dan penghambatan terhadap jalannya proyek ini, utamanya para generasi muda Jepang dan tokoh-tokoh nasionalis Jepang yang menyebabkan Proyek FSX terlambat lebih dari dua tahun pengerjaan di Jepang. Penyelesaian kapal terbang tersebut tidak mungkin tercapai hingga menjelang tahun 2000. Dengan biaya yang diperkirakan melampaui 100 juta dolar per unit, atau empat kali biaya pembuatan pesawat tempur F-16 AS.

Tekanan dan gejolak keinginan Jepang untuk bebas dan memproduksi sendiri tanpa dukungan luar negeri membuat Menteri Takeshita Noboru berjuang keras untuk melepaskan ikatan dan perjanjian kontrak kerja ini. Akhirnya dengan perjuangan pahit dan intervensi kuat dari Menteri Takeshita akhirnya Jepang menarik diri dari kerjasama yang merugikan Jepang ini. Akhir dari saat-saat indah hubungan Amerika Serikat - Jepang dalam upaya pertahanan dalam aliansi Amerika Serika akan semakin redup.

Keinginan Jepang menuju pengembangan militer independen telah mengalami kemajuan lebih jauh dalam sektor peluru kendali daripada yang mereka capai dalam sektor pesawat terbang, bahkan sekarang Jepang telah mempunyai banyak produsen peluru kendali domestik.

Juga telah mengembangkan Stinger (peluru kendali yang dikendalikan dengan tangan dan terbukti sangat efektif di Afganistan), Sidewinder (pencegat udara ke udara), Harpoon (peluru kendali anti kapal selam) yang telah sipasok ke Amerika Serikat. Demikian juga peluru kendali Tomahawk dan Patriot, yang masih diproduksi di Jepang secara lisensi.

Swadaya Jepang dalam industri militer dipengaruhi dan diinspirasi oleh keberhasilan Jepang dalam pengembangan peluru kendali berupa peluncur roket pendorong H-II baru dan sepenuhnya buatan dalam negeri, yang secara potensial juga berfungsi sebagai ICBM.

Sekitar tahun 2005, sebagai usaha untuk menuju swadaya industri militer Jepang berusaha untuk manambah dan mengembangkan generasi baru peluru kendali (SAM) dari darat ke udara, sebagai usaha pengganti Patriot yang masih rancangan Amerika Serikat.

Muncul lagi masalah baru dalam menentukan siapa yang paling berjasa dalam penentuan design pesawat tempur FSX yang menjadi persengketaan sengit antara Jepang dan AS. Jepang telah banyak mengeluarkan anggaran yang besar atas design pesawat ini, tetapi dilain sisi Amerika memegang peranan atas penentuan design FSX. Demikian juga terjadi hal yang sama pada peluru kendali canggih TMD.

Walaupun usaha-usaha kemandirian industri militer telah mencapai hasil, tetapi sebenarnya bangsa Jepang sendiri terpecah menjadi dua, yaitu yang menyukai usaha nasionalisasi ini dan yang menentang perluasan militer Jepang. Mereka yang menentang berpendapat bahwa kondisi politik internasional pada masa yang akan datang dapat ditangani secara diplomatik dan ekonomi. Tetapi sebenarnya yang paling memberi pengaruh adalah rasa bersalah atas munculnya fasisme Jepang dan ketakuatan munculnya kembali pemerintahan militeristik.

Dapat dikatakan semangat shogun sudah luntur untuk generasi baru Jepang, dan digantikan dengan semangat pengembangan teknologi untuk masa depan Jepang modern yang demokratis. Kita tahu dalam hubungan dengan AS, Jepang menyerahkan sepenuhnya pengembangan militernya atas dikte Gedung Putih. Secara tradisional, Jepang merupakan sekutu AS, khususnya pada masa perang dingin.

Pengembangan militer yang dilakukan oleh Jepang secara aplikasi dalam dunia militer jarang dilakukan oleh bangsa Jepang sendiri, teknologi tersebut digunakan secara bersama dengan AS dan Eropa.

Selain itu konflik Korea Utara dan Korea Selatan juga berpengaruh terhadap Jepang sebagai bagian dari kawasan Fasifik, Jepang juga memiliki sejarah konflik dengan China yang sekararang telah bangun dari tidur. Secara pisikologis Jepang membutuhkan kawan untuk bersinergi dalam memperkuat pertahanan untuk mengimbangi China dan Korea Utara yang memiliki nuklir.

Walaupun ada sedikit masalah dalam hubungan perdagangan AS - Jepang dalam kasus AS menuduh Jepang melakukan praktek dumping pada produksi baja yang dijual di AS sehingga membuat impor baja dari Jepang ke AS dikenakan punitive trade barrier sebesar 32,5%, suatu tindakan yang sesungguhnya melanggar kesepakatan pasar bebas, tetapi Gedung Putih masih menganggap masalah pertahanan di Fasifik membutuhkan "teman lama dalam perang dingin masa Uni Soviet masih ada." Bagi AS Jepang sangat penting dipandang dari geopolitik dan ekonomi.

Perangkat-perangkat lunak pada perlengkapan tempur jepang berasal dari AS. Karena hak cipta perangkat lunak tersebut dijaga ketat oleh AS, maka teknisi jepang tidak boleh melakukan reverse engineering untuk memperbaiki kerusakan yang ada. Meskipun jepang memproduksi 90% dari kebutuhan militernya, teknologi-teknologi tersebut memiliki lisensi dari Amerika, dan teknisi jepang tidak diperbolehkan untuk mempelajari dan mengkopi teknologi tersebut.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa Jepang saat sekarang ini masih dalam posisi seperti paska perang dunia kedua ketiga bom atom menghancurkan kota-kota seperti Hirosima dan Nagasaki. Tanpaknya walaupun rakyat Jepang sendiri mengharapkan kebangkitan nasionalisme Jepang dengan pengembangan militer yang mandiri tetapi kondisi geopolitik mengharuskan Jepang tetap berada di bawah AS.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

mustahil jepang bangkit lagi sebab selalu di halangi as

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta