INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 28 September 2009

Apakah Forum G-20 Akan Menjadi Dewan Ekonomi Dunia yang Adil?

Oleh Heri Hidayat Makmun

Apakah Forum G20 Akan Menjadi Dewan Ekonomi Dunia yang Adil?

KTT G-20 yang dilakukan di Pittsburgh pada 24-25 September 2009. Disepakati Forum G-20 ini akan dijadikan sebagai forum ekonomi global utama menggantikan peran G-8. Forum yang beranggotakan dari negara-negara yang mewakili dua pertiga penduduk bumi dan 85% GNP dunia.

Negara-negara yang tergabung dalam forum tersebut yaitu; 1. Argentina, 2. Australia, 3. Brasil, 4. Inggris, 5. Kanada, 6. China, 7. Prancis, 8. Jerman, 9. India, 10. Indonesia, 11. Italia, 12. Jepang, 13. Meksiko, 14. Rusia, 15. Arab Saudi, 16. Afrika Selatan, 17. Korea Selatan, 18. Turki, 19. Amerika Serikat, dan 20. Uni Eropa.

Sebelumnya Forum G-8 hanya beranggotakan negara-negara ekonomi maju saja, seperti Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia dan Amerika Serikat.

Perubahannya pada Forum G-20 lebih membawa semangatnya untuk menjadikan G-20 sebagai upaya untuk memperkuat kerjasama ekonomi antara negara maju dan negara berkembang. Ada opsi juga untuk dijadikan sebagai forum defenitif.

Misi utama kelompok ini akan melakukan penyelamatan ekonomi global dengan menjadikan negara-negara memiliki kekuatan ekonomi, keseimbangan ekonomi global, mendorong reformasi system keuangan dan perbankan, dan meningkankan kualitas hidup rakyat miskin dunia.

Ya sebuah semangat dan mimpi yang sempurna bagi reformasi tatanan ekonomi global, tapi apakah implementasinya akan setulus itu? Nyatanya dalam The Pittsburgh Summit 2009 ini berbagai LSM HAM dunia berkumpul dan melakukan penentangan atas apa yang akan disepakati dalam forum tersebut.

Ribuan demonstran yang berkumpul di Pittsburgh melakukan aksi unjuk rasa pada sekitar 3 km dari lokasi KTT G-20. Demonstran melakukan yel-yel demikian keras dan anarkis. Memaksa polisi menembakkan peluru karet, semprotan merica, dan asap kepada pengunjuk rasa tersebut. Bahkan sebanyak 17 demonstran ditahan Polisi. Mengapa sampai terjadi demikian?

Seringkali banyak forum-forum yang diadakan di dunia terlalu disetir oleh negara-negara maju, terutama negara-negara ekonomi kuat atau negara adidaya. Juga kita tahu terlalu sering bahwa negara berkembang hanya sering menjadi korban dalam penentuan hasil-hasil kesepakatan.

Bisa berupa ekplorasi kekayaan negara berkembang oleh Negara maju, investasi negara maju hanya pada komoditas strategis, penekanan negara maju untuk menghapus subsidi di negara berkembang, pengetatan produk ekspor negara berkembang ke negara maju, penuduhan produksi Negara berkembang merusak lingkungan dan sebagainya.

Fakta memang menunjukkan proteksi negara maju pada hasil produksinya, dan pemaksaan keterbukaan keran import ke Negara berkembang. Kita Indonesia sudah sering mengalami penderitaan seperti ini.

Namun nyatanya masih saja sebagian negara maju berupaya untuk membawa misi kapitalisme yang menjebak negara berkembang dalam system ekonomi yang tidak adil, seperti berbagai pendapat yang disampaikan dalam Forum G-20 tersebut. Seperti saran Perdana Menteri Inggris Gorden Brown yang mengungkapkan keinginannya melembagakan Forum G-20 sebagai dewan yang mengatur ekonomi dunia.

Gorden Brown lupa bawah diluar G-20 masih ada negara lain yang membutuhkan wakil. Usul ini bisa dilakukan jika nanti sudah menjadi Forum G-50 atau bahkan G-100 yang dapat mengadopsi lebih banyak Negara yang terlibat dalam penyusunan system ekonomi dunia tersebut. Terutama negara-negara di Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin dan negara-negara ASEAN yang belum banyak terlibat. Bersyukur kita setidaknya Indonesia ikut serta dalam forum ini, yang merupakan anggota ASEAN.

Hal yang mengarah kepada kapitalisme global juga seperti apa yang disampaikan oleh Presiden Prancis Nicolas Sarkozy yang menyerukan untuk mengenakan sanksi kepada Negara-negara lain yang memberikan bebas pajak sampai tahun depan. Usul ini jelas akan memberatkan negara-negara dunia ketiga yang masih berkembang, dan menginginkan lebih banyak insentif pajak untuk mendonkrak investasi dalam negerinya. Seakan semangat untuk memberikan kemakmuran kepada negara berkembang justru malah mematikan investasi di dunia ketiga dan mengembalikan investasi tersebut kenegara maju yang sudah memiliki infrastruktur sangat baik.

Selain itu Obama sendiri menyerukan untuk menghapus subsidi minyak yang banyak dilakukan di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Dari sisi pemerintah usul Obama ini memang menguntungkan tetapi dari sisi rakyat kebanyakan dinegara berkembang seperti Indonesia hal ini malah akan memicu kerawanan social lain. Bagi rakyat Indonesia isu kenaikan BBM merupakan isu sensitive.

Tulisan ini bukan untuk menentang KTT G-20 karena memang kondisi globalisasi ekonomi dunia membutuhkan penataan yang lebih adil dan arif. Bagaimanapun kita membutuhkan sebuah forum bahkan lembaga untuk mengatur dan reformasi system ekonomi yang sekarang ini masih tidak berimbang. Tanpaknya suara-suara dari negara-negara berkembang seperti Indonesia, Argentina atau Meksiko harus lebih banyak lagi, karena begitu sedikitnya wakil dari negara berkembang di Forum G-20 ini.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta