INTERNASIONAL NASIONAL

Rabu, 18 Maret 2009

Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende : Sejarah Perbudakan Adalah Episode Sejarah Eropa yang Paling Memalukan, Noda Bagi Citra Negara Kita

Oleh Heri Hidayat Makmun

Setelah sekian lama melakukan perbudakan yang telah menjadi catatan sejarah kelam penistaan hak asasi manusia oleh bangsa Eropah, sedikit-demi sedikit mulai ada kesadaran dan rasa malu atas perjalanan sejarah bangsanya sendiri. Demikianlah yang dialamai oleh bangsa-bangsa di eropah pada umumnya, tetapi ada juga yang belum menyadarinya. Kelompok ini justru merasa bahwa eropa adalah pembawa pembaharuan, membawa agama Nasrani dan perbaikan peradapan.

Bangsa Eropa melakukan penjajahan dengan kekuatan senjata kemudian melakukan penindasan dan perbudakan.peradapan akibat penjajahan. Ciri khas hasil dari penjajahan adalah kemiskinan, kebodohan dan perpecahan. Tiga cirri khas ini juga dialami oleh bangsa-bangsa lain selain Indonesia.

Sejarah penjajahan di Indonesia adalah diorama kedatangan bangsa Eropa untuk mencari mengumpulkan kekayaan, perluasan wilayah, penyebaran agama Nasrani, dan memperjuangkan kejayaan Raja. Pada masa lalu eropa jauh dari masa demokrasi. Seperti Inggris yang memiliki ratu sebagai kepala Negara. Sebuah proses yang penuh dengan penindasan dan perbudakan.

Dampak yang dirasakan akibat penjajahan itu dapat dilihat pada Negara-negara yang baru merdeka seperti Indonesia dan Vietnam contohnya yang masih berusaha bangkit, dengan ekonomi yang lemah dan banyaknya kebodohan, sedangkan Negara- yang dulu memiliki koloni jajahan demikian kaya dan sangat maju.

Bayangkan saja bendungan raksasa di Belanda itu, menurut sejarah dananya adalah dari komisi VOC ketika VOC untung besar dari perkebunan yang dikerjakan oleh bangsa Indonesia tanpa memperoleh gaji, atau yang lebih sering disebut rodi (Kerja paksa)

Periode pidana kerja paksa di Indonesia berlangsung sejak pertengahan abad ke-XIX atau tepatnya mulai tahun 1872 hingga 1905. Ditandai dengan dua jenis hukum pidana; pertama, hukum pidana khusus untuk orang Indonesia ;dan yang kedua, pidana khusus untuk orang Eropa.

Sidang Landraad (Pengadilan untuk kaum pribumi) di Meester Cornelis (Jatinegara) Bagi orang Indonesia dan golongan Timur Asing berlaku Kitab Undang-undang Hukum Pidana khusus, yakni “Wetboek van Strafrecht voor de Inlanders in Nederlandsch Indie”, artinya Kitab Undang-undang Hukum Pidana untuk orang pribumi di Hindia Belanda. Pada saat itu orang Indonesia disebut dengan “Inlanders”.

Pada periode ini pidana kerja merupakan bentuk pemindanaan yang seringkali dijatuhkan pada “ inlanders”. Lama pidana kerja sangat bervariasi bisa seumur hidup, atau minimal satu hari. Sedangkan pidana kerja terbagi menjadi dua, yakni kerja paksa (dwang arbeid) dan dipekerjakan (ter arbeid stellen). Kerja paksa yang lamanya lebih dari lima tahun dilakukan dengan dirantai (dwang arbeid aan de ketting), yang di bawah lima tahun tanpa dirantai (dwang erbeid buiten de ketting). Sedangkan yang satu tahun ke bawah disebut dengan istilah “dipekerjakan” (ter arbeid stellen), dan yang di bawah tiga bulan disebut “krakal”.

Kita harus ingat bagaimana penjajah Belanda membuat jalan dari Anyar sampai Panarukan. Sebuah harga yang harus dibayar secara tidak ternilai oleh bangsa kita. Kesadaran akan betapa banyak nyawa manusia hilang dalam pembuatan jalan Daendels ini membuat kita sadar, betapa tiada harganya nyawa manusia pada jaman penjajahan Belanda yang ratusan tahun tersebut. Data jumlah yang sebenarnya tidak pernah terungkap. Jika memang dapat diungkap, pastilah akan menggemparkan dunia, betapa demi sebuah jalan pos, terjadi pembunuhan tidak direncanakan terjadi di pulau Jawa saat itu.

Sejarah kerja paksa juga telah memindahkan saudara-saudara kita di Jawa untuk kerja rodi sampai ke Suriname. Adanya orang Jawa di Suriname ini tak dapat dilepaskan dari adanya perkebunan-perkebunan yang dibuka di sana.

Di akhir 1800an Belanda mulai mendatangkan para pekerja paksa asal Jawa, India dan Tiongkok. Orang Jawa awalnya ditempatkan di Suriname tahun 1880-an dan dipekerjakan di perkebunan gula dan kayu yang banyak di daerah Suriname. Orang Jawa tiba di Suriname dengan banyak cara, namun banyak yang dipaksa atau diculik dari desa-desa. Tak hanya orang Jawa yang dibawa, namun juga ada orang-orang Madura, Sunda, Batak, dan daerah lain yang keturunannya menjadi orang Jawa semua di sana.

Demikianlah kerja paksa yang diterapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja pada perusahaan-perusahaan perkebunan VOC terhadap bangsa kita demikian memperkaya bangsa Belanda. Apalagi hal ini dilakukan hamper 350 tahun lamanya.

Baru generasi akhir ini saja dari bangsa Belanda seperti Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende yang dapat sejarah jernih berpendapat : “Sejarah Perbudakan adalah episode sejarah Eropa yang paling memalukan, noda bagi citra negara kita.” Hal ini dikatakanya pada hari penghapusan perbudakan di Belanda, Selasa 10 Maret 2009 lalu.

Apakah bangsa Eropah lain yang melakukan penjajahan dan perbudakan bisa mengungkapan hal yang sama. Ternyata sebagian besar dari mereka merasa bangsa Eropah berhak untuk melakukan hal itu sebagai sebuah kewajaran sejarah, bahkan buku-buku sejarah di negara-negara Eropah memasukkan sejarah dalam kurikulum anak didik mereka dengan sebuah pemahaman bangsa Eropah menyebarkan kebudayaan/peradapan, mamajukan pendidikan, penegakan hak asasi manusia sebagai sebuah rasa tanggungjawab Eropah yang memiliki ras yang lebih pintar kepada ras yang lebih bodoh. Berbagai teknya banyak menunjukkan sikap-sikap rasis yang berupaya diturunkan kepada generasi barunya.

Anda dapat membuktikan sendiri hal ini dengan mengakses berbagai situs materi sejarah negara-negara di Eropah barat. Seperti Belanda, Prancis, Inggris, Portugal, Spanyol dan sebagainya.

Sebuah kebohongan kepada generasi penerus di Eropa Barat. Kita yang disini, ditempat berdirinya sejarah penjajahan itu! Yang kakek atau Ayah kita pernah terbunuh akibat penindasan atau mungkin ikut perbudakan Belanda jelas sangat marah dan tentu tidak bisa menerima hal itu. Atau bagaimana komentar dari Bung Tomo, Bung Hatta, Bung Karno atau para pejuang lainnya seandainya mereka masih hidup dan melihat cara mereka itu?

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta