INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 15 Maret 2009

Pengaruh Konflik Laut China - AS Terhadap Kebijakan China Kepada Korea Utara.

Oleh Ho Chi Kwa

Akibat dari penghadangan kapal USNS Impeccable milik Amerika Serikat yang dilakukan oleh 5 kapal perang China di Laut China Selatan sekitar selatan Pulau Hainan pada Minggu 8 Maret 2009. Baik China dan AS sama-sama bereaksi keras dan tidak mau mengalah. AS merasa beraktifitas di daerah lautan internasional sementara China menganggap Kapal USNS Impeccable itu masuk dalam wilayah Zone Ekonomi Eksklusif China. Banyak bukti yang menjelaskan bahwa AS sering melakukan hal ini pada wilayah-wilayah dikawasan negara lain, tetapi tidak mendapatkan respon seperti tindakan AS di wilayah laut Negeri Naga ini.

Seperti yang dikutip oleh Times OnLine seorang Perwira Angkatan Laut China bereaksi keras mengecam tindakan AS itu. Salah satu perwira yang tidak disebut namanya, seperti dikutip surat kabar The China Daily, mengatakan keputusan AS itu berlebihan. ”Waktu dan cakupannya telah menjauh dari apa yang bisa Anda katakan sebagai layak.”

AS terbiasa dengan sensitifitas keamanannya sendiri yang berlebih-lebihan tetapi justru sering sekali melanggar keamanan dan kedaulatan bangsa lain. Ini yang memunjulkan rasa ingin mengedepankan kedaulatan negeri naga. Angkatan Bersenjata (PLA) China bergerak lebih refresif dengan mengirimkan 5 sekaligus kapal perang untuk menghalau kapal USNS Impeccable.

Sebenarnya apapun dalih yang diberikan oleh Washington tentang aktifitas kapal tersebut sebenarnya AS tidak punya alasan yang masuk akal tentang aktifitas kapalnya di wilayah tersebut. Reaksi keras AS terhadap pemerintah China tentang penghadangan yang dilakukan oleh kapal perang China tersebut akibat AS tidak ingin didikte tentang kesalahan mendasar aktifitas AS dilaut China Selatan tersebut.

Reaksi keras AS ini berupa ancaman untuk pengiriman kapal Angkatan Laut Amerika Serikat USS Chung-Hoon yang dilengkapi dengan misil penghancur ke Laut China Selatan. Seperti yang disampaikan oleh pejabat kementerian departemen pertahanan AS yang dikutip oleh AFP. Pejabat yang tidak mau disebut namanya ini mengungkapkan, "Saat ini kapal-kapal itu akan mengawal misi AS."

Reaksi keras AS ini terbukti berhasil dan membuat China hanya menunjukkan suatu sikap sebagai sebuah tindakan dari pemilik otoritas atas hak-hak wilayah lautnya. Sampai saat ini China secara resmi belum bertanya kepada Washington tentang aktifitas surpey dilaut China tersebut secara rinci? Washington masih berputar-putar tentang haknya untuk berada disitu sebagai wilayah laut internasional, walaupun jelas semua orang tahu bahwa lalu lintas di laut internasional hanya sekedar wilayah perlintasan, tanpa melakukan aktifitas ilegal yang melanggar otoritas wilayah setempat.

Hal ini sebenarnya pernah dibahas pada pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi di Gedung Putih. Presiden AS Barack Obama memang tidak menerima permintaan China soal penghentian pengintaian AS itu, juga tidak menjelaskan tentang pengintaian yang ditujukan untuk apa? Presiden Obama hanya menekankan bahwa sangat penting untuk meningkatkan pembicaraan antara pihak militer AS dan China untuk menghindari insiden serupa di masa datang tanpa pernah menyentuh permasalahan sesungguhnya dikawasan tersebut.

Pejabat itu menegaskan juga bahwa pengerahan kapal-kapal perang itu dilakukan untuk operasi di Laut China Selatan. Kapal perang yang dilengkapi dengan senjata penghancur itu akan mengawal kapal pengawas AS yang sedang melakukan misi di wilayah perairan itu.

Apakah reaksi AS ini akan ditanggapi dengan lemah oleh Beijing? Saya rasa tidak, karena tindakan China untuk melakukan penyergapan atas aktifitas ilegal di wilayah laut China sudah dipikirkan secara mendalam oleh pejabat setempat yang mengambil keputusan penghadangan tersebut. Kita tahu bahwa militer China merupakan militer yang terkomando dari pusat. Tindakan apapun yang dilakukan oleh jajaran bawahnya adalah bagian dari keputusan pusat yang ada di Beijing.

Meski demikian AS akan tetap melakukan aktivitas pengawasan bahwa laut di perairan itu. Kehadiran kapal-kapal perusak AS itu dalam rangka mendukung dilanjutkannya survei bawah laut. Hal ini dilakukan AS akibat kekwatiran AS tentang aktifitas kapal selam China diwilayah tersebut terkait dengan program nuklir China yang tersembunyi.

AS masih beranggapan bahwa kenaikan anggaran militer China terkait dengan suatu program rahasia pemerintah China untuk mengembangkan kekuatan militer yang sulit diduga. Kekuatan kapal selam China sekarang ini berada di urutan ketiga setelah AS, Rusia dan China. Diluar kapal selam kekuatan militer lain China adalah pengembangan kapal induk versi China. Sejarah telah membuktikan bahwa teknologi China mampu membuat kapal selam sejak zaman Laksamana Chen Ho yang termashur.

Disisi lain sebenarnya AS memiliki ketergantungan yang tinggi pada China atas masalah nuklir Korea Utara, atas usaha AS untukk terus melakukan denuklirisasi pada negara-negara diluar sekutu AS, sementara AS sendiri tidak pernah melakukan pelarangan kepada negara-negara yang menjadi sekutunya.

China diberi kesempatan leh pasukan Sekutu masa PD II untuk menguasai Korea Utara yang kemudian dimerdekakan. Namun ketegangan meletus antara kedua Korea tersebut karena perbedaan ideologi sehingga meledaklah perang Korea pada tahun 1950. Korea Utara yang dibantu oleh RRC berhasil menguasai sebagian Korea Selatan sampai akhirnya AS harus turun tangan membantu Korea Selatan yang hampir saja kalah perang. Tetapi China juga turut membantu proses perdamaian dua Korea yang berseteru ini. Meskipun demikian AS tetap berhati-hati dan tetap menempatkan pasukannya di Korea Selatan.

AS pernah mengancam Korea Utara bahwa tindakan Korea Utara tidak akan mendapat dukungan dari pemerintahan Beijing, tetapi jika seandainya krisis laut China ini membesar maka AS benar-benar tidak memiliki bukti kuat sebagai pemilik pengaruh terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah China terhadap sekutu tradisionalnya Korea Utara.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il, Rabu 30 Januari 2009 bertemu dengan delegasi Cina yang dipimpin oleh pejabat senior Partai Komunis Cina, Wang Jiarui. Sebagaimana dikutip kantor berita Korea Utara, KCNA, Kim makan siang bersama dengan anggota delegasi seusai percakapan yang disebut-sebut "berlangsung hangat dan akrab" itu, sehingga misi penghentian nuklir Korea Utara Kim Jong-il diprediksi sebagian pihak hanya basa-basi Beijing.

Diperkirakan pertemuan itu membahas deadline Korea Utara untuk selekasnya menutup reaktor nuklir mereka. Cina dan juga Amerika sama-sama menjadi anggota kelompok enam yang selama ini menentang upaya Korea Utara membangun proyek senjata nuklir mereka, tetapi keikutsertaan China boleh dibilang terpaksa dan atas lobi-lobi AS yang demikian kuat.

Ternyata dibalik krisis laut China selatan ini tidaklah sesederhana kejadiannya, dampak politis atas kejadian tersebut dalam jangka panjang akan terus terasa, dan tentu ini adalah peluang bagi Korea Utara sebagai negara yang selama ini selalu mendapat tekanan AS akan mendapatkan angin segar, karena akan memastikan pemerintah China untuk lebih menjaga jarak terhadap lobi-lobi AS terhadap negara itu. Tentunya Korea Utara akan ambil bagian jika sekutu besarnya China sedang berkonflik dengan musuh besarnya, AS.

Bisa ditebak bahwa konflik laut China - AS bagi Korea Utara seperti pepatah "pucuk di puja ulam tiba."

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta