INTERNASIONAL NASIONAL

Selasa, 10 Maret 2009

Menghadang Imperialisme dan Penjajahan Ekonomi di Amerika Latin

Oleh Heri Hidayat Makmun

Hegemoni Amerika Serikat di kawasan Amerika Selatan semakin lama semakin mengecil, perilaku AS yang terkadang semena-mena dan menganggap sepele terhadap rasa sopan satun dalam berdiplomasi di Amerika Latin sering menjadi bumerang bagi pengaruhnya di kawasan itu.

Mulai dari pendirian Kamp. Guantanamo yang merebut paksa lokasi militer Kuba dikepulauan itu, sampai pada pendirian perusahan minyak secara paksa dikawasan Amerika Latin tanpa izin dan prosedur yang ada di negara-negara Amerika Latin.

Inilah yang menyebabkan reaksi keras dari para pemimpin Amerika Latin seperti Huga Chaves, Evo Morales dan Sang Tokoh Besar Amerika Latin, Fidel Castro.

Faktor ketersediaan minyak negera-negara Amerika Latin masih menjadi isu utama. Presiden Bolivia Evo Morales sangat marah dan murka atas tindakan dan sabotase CIA yang melakukan konspirasi menentang kebijakan energi negaranya.

Hal tersebut menjadi pemicu berupa tindakan Presiden Bolivia Evo Morales secara tegas mengusir seorang pejabat kedutaan besar AS pada hari Selasa 10 Maret 2009.

"Hari ini, saya memutuskan untuk mengumumkan Francisco Martinez ... yang bekerja di kedutaan besar AS, sebagai orang yang tidak disukai," kata Morales yang sering mengecam AS, pada konferensi pers di La Paz. Ia juga mengatakan perlu mengusir Martinez "untuk mengakhiri konspirasi berbahaya yang dilakukan asing".

Morales, yang sering menyebut AS sebagai "Imperial", sebelumnya telah mengusir duta besar AS dan para pejabat anti-narkotika AS. Jurubicara kedutaan itu mengatakan Martinez adalah seorang pejabat tingkat menengah dan jabatannya adalah sekretaris kedua.

Morales merasa bahwa perusahaan-perusahaan negara yang dibangunnya sedang digembosi dan hal ini direncanakan oleh Washington. Washington terlalu campur tangan dalam penentuan perusahaan energi milik-negara di Bolivia seperti YPFB.

Pada bulan Januari 2009 Presiden Ekuador Rafael Correa juga mengusir seorang pejabat kedutaan besar AS yang ia tuduh melakukan hal yang sama seperti di Bolivia. Washiington merasa kurang senang dengan banyaknya pendirian perusahaan negara dalam menangai kekayaan mineral di negara-negara Amerika Latin. Washington sering memaksakan kehendak dengan banyak keterlibatan CIA dalam dial-dial perusahaan-perusahaan minyak di kawasan tersebut.

Correa adalah sekutu dekat Morales, seperti Presiden Venezuela Hugo Chavez, yang mengusir duta besar AS tahun lalu. Semua ketiga pemimpin sayap kiri itu mengatakan AS telah campur- tangan dalam politik dalam negeri mereka.

Tahun 2007 yang lalu ketika presiden AS masih dijabat oleh George W Bush yang berkunjung ke Sao Paolo juga mendapatkan hujatan dari rakyat Brasil yang bermunculan di sepanjang jalan-jalan utama Sao Paolo.

Para pemimpin demontrasi akan mengajak puluhan ribu orang dalam aksi massa hari ini saat Bush meresmikan kerja sama energi etanol dengan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. Perusahaan AS di Brasil ini banyak mengambil kesempatan para petani Brasil dan justru merugikan ekonomi Brasil dalam jangka panjang. Penyerapan tenaga kerja oleh perusahaan tersebut tidak sebanding dengan matinya lahan penghidupan petani yang jumlahnya hampir 100 kali lipat.

“Bush datang di Brasil sebagai tukang pos perusahaan multinasional, perusahaan agrobisnis, perminyakan, dan otomotif yang ingin menguasai bioenergi,” kata Joao Pedro Stedile, tokoh Gerakan Petani Tanpa Tanah.

Agar penghadangan pengaruh AS benar-benar efektif, Venezuela memprakarsai suatu konperensi puncak aliansi perdagangan Amerika Latin dibuka di Caracas pada 1 Maret 2009, untuk melawan pengaruh Amerika di kawasan itu.

Konperensi dihadiri oleh Venezuela, Bolivia, Ecuador, Honduras, Nicaragua, Cuba dan Dominica. Pemimpin ke-7 negara itu menanda-tangani perjanjian pangan bernilai 49 juta dollar untuk meningkatkan produksi bahan makanan. Juga dibahas usaha menghadapi krisis ekonomi global.

Venezuela dan Kuba juga pernah menciptakan aliansi yang disebut Alba itu tahun 2004 untuk melawan pengaruh Amerika di Amerika Latin, dan bertujuan untuk mendorong kerjasama regional guna menyaingi perjanjian perdagangan bebas yang disponsori Amerika.

Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah Indonesia dalam mengamankan kekayaan alamnya yang luar biasa, tetapi penduduknya miskin karena aset negara tersebut tergadaikan kepada asing, seperti AS yang serakah dalam penguasaan kekayaan energi dunia di banyak belahan dunia.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta