INTERNASIONAL NASIONAL

Jumat, 20 Maret 2009

Legislatif Itu Seharusnya Tidak Digaji

Oleh Heri Hidayat Makmun

Sekarang ini banyak celeg ingin jadi DPR atau DPRD bukan karena rasa tanggungjawab untuk memperjuangkan nasip rakyat, pada umumnya mereka ingin mendapatkan penghasilan yang lebih dari makmur, ingin memiliki status yang terhormat, ingin jalan-jalan gratis dan sebagainya. Menjadi legislator hanya untuk mendapatkan pekerjaan.

Bayangkan ruang politik untuk melaksanakan trias politik dalam suatu konsep berbangsa yang ternyata hanya diisi oleh orang-orang yang masih lapar. Secara teori orang yang masih lapar akan miskin idealisme dan tentu perjuangan mereka masih sebatas perut juga.

Cara yang paling efektif untuk untuk memfilter hanya orang yang ingin berjuang saja yang masuk gedung DPR atau DPRD adalah dengan tidak memberikan gaji kepada mereka. Sehingga orang yang akan masuk dalam arena perjuangan untuk mengkedepankan aspirasi rakyat hanyalah orang-orang yang secara ekonomi sudah mapan.

Mari kita bayangkan bagaimana pemilu legislatif jika negara tidak berkewajiban untuk membayar gaji para wakil rakyat ini. Tentu yang daftar akan sepi.

Inilah saat bagi orang-orang yang iklas masuk dan mengkedepankan aspirasi rakyat yang sesungguhnya. Saya yakin juga tidak akan ada lagi daerah yang minta dimekarkan, karena pada umumnya pemekaran itu didorong oleh orang-orang daerah yang ingin menjadi legislatif atau kepala daearh.

Juga tentu tidak akan ada lagi politik uang. Mau bayar pake apa mereka? Kan kerja iklas! Pengabdian.

Ini hanya ide dari saya, karena melihat realitas sekitar saya.

1 komentar:

日月神教-任我行 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta