INTERNASIONAL NASIONAL

Kamis, 19 Maret 2009

Demokrasi sebagai Sistem, Materialisme sebagai Hakikat

By : Septa Muktamar

Demokrasi sebagai sebuah sistem politik saat telah menjadi dasar dalam penyelenggaraan negara-negara di dunia sehingga sekitar 62% atau 116 negara didunia menganggap demokrasi merupakan sistem politik yang paling ideal. Dari rahim demokrasi akhirnya melahirkan bentuk lain yaitu liberalisme dan sosialisme.
Demokrasi hingga saat ini terus melahirkan varian-varian dalam bentuk lain, yaitu kapitalisme dan komunisme, sehingga sampai dengan berakhirnya perang dingin, demokrasi melalui liberalisme-kapitalisme dan komunisme terus bersaing untuk mempengaruhi negara lain di dunia untuk mengikutinya.

Perjalanan panjang demokrasi menemukan bentuknya hingga saat ini amat dipengaruhi keadaan zaman yang melingkupinya. Lahirnya liberalisme berawal dari negara-negara eropa barat pada abad ke 15 dan 16. Sistem ini muncul karena adanya ketidakpuasan di kalangan rakyat akan kekuasaan gereja yang jumud dan anti pembaharuan. Selain itu sistem politik pada masa itu memberikan kesempatan pada kalangan aristokrat, tuan tanah, bangsawan kerajaan memiliki kekuasaan yang besar tanpa batas, sehingga hak-hak dasar rakyat tidak terpenuhi.

Liberalisme-Kapitalisme versus Sosialisme-Komunisme
Saat itu negara-negara Eropa sedang dalam masa kebangkitan, setelah berabad-abad lamanya berada dalam alam kegelapan. Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan, pemikir-pemikir seperti seperti Thomas Hobbes, John Locke, Samapi Imanuel Kant dan Adam Smith telah merumuskan prinsip-prinsip liberalisme ini. Para filsuf tersebut amat mengagungkan kebebasan pribadi, persaingan bebas, pasar bebas dan minimnya campur tangan negara, malahan menurut Adam Smith akan ada invisible hand (tangan tak terlihat) yang mengatur dan melingkupinya.

Berabad-abad kemudian ternyata liberalisme-kapitalisme melahirkan persoalan lain, karena ternyata kapitalisme melahirkan kelas pengusaha-pengusaha kaya (borjouis) sehingga menciptakan kesenjangan yang besar diantara masyarakat. Dan secara perlahan-lahan meyebabkan terjerumusnya banyak negara eropa ke dalam jurang depresi ekonomi yang dalam. Dengan sedikit sentuhan tokoh-tokoh seperti John Maynard Keynes pada tahun 1930-an menampilkan peranan negara ke dalam pasar dengan mengontrol inlfasi dan pengangguran serta menerapkan kebijakan investasi untuk membangkitkan belanja masyarakat.

Pandangan Keynes ini melahirkan neo-liberalisme. Tetapi sekali lagi neo-liberalisme tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah ekonomi, karena yang tampak kemudian terjadi ekploitasi besar-besaran terhadap sumber-sumber ekonomi, barang dan manusia. Karena esensi neo-liberalisme adalah kebebasan sebesar-besarnya, memanfaatkan sumber daya seluas-luasnya. Keynes amat yakin akan pandangannya terhadap investasi, dan pertumbuhan ekonomi berdasarkan pasar bebas.

Akibat dari kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi dunia kini sangat relevan dengan keadaan saat ini yang sedang mengalami krisis dan resesi global, varian-varian kapitalisme menyebabkan hancurkan sistem keuangan karena munculnya berbagai derivatif sistem ekonomi dan keuangan yang ribawi dan individualistis tanpa kontrol, tanpa aturan dan minimnya regulasi pemerintah.

Ketidakpuasan terhadap liberalime-kapitalisme ternyata juga mempengaruhi pemikir lainnya. Akibat munculnya kelas-kelas borjuis beberapa pemikir seperti Robert Owen di Inggris, Saint Simon dan Fourier dari Perancis, yang terakhir Karl Marx dan Friedrich Engels. Pemikir-pemikir tersebut dalam arus utamanya mempengaruhi Karl Marx dalam merumuskan pertentangan kelas sebagai faktor penggerak sejarah dan akan berakhir apabila telah terbentuk masyarakat tanpa kelas, masyarakat komunis. Aliran Marx dianggap adalah suatu hal yang aneh. Marx menginginkan masyarakat tanpa ada eksploitasi, penindasan dan paksaan tetapi dicapai dengan cara revolusi (pemaksaan) di mana kaum buruh menggulingkan kekuasaan kaum pemilik modal, pada masa itu Marx meramalkan akan muncul masa transisi sebagai masa dictator ploletar.

Komunisme akhirnya terus dirumuskan oleh Lenin dan Stalin. Modifikasi dilakukan Lenin sebagai buah hasil adaptasi lingkungan dari sosialisme. Menurut Lenin dalam revolusi proletar, setelah para pekerja ini menguasai alat-alat produksi, para pekerja akan membentuk pemerintahan diktator (dictatorship of ploretariat). Tugas utama rezim diktator kelas pekerja ini adalah agar sisa-sisa kekuatan kelas borjuis tidak kembali mengkonsolidasikan diri. Stalin menyempurnakan kembali dengan menggulirkan gagasannya mengenai revolusi bahwa komunisme dapat diselenggarakan di satu negara dulu, dan negara yang dianggap paling siap adalah Uni Sovyet.

Ternyata perkembangan demokrasi yang melahirkan liberalisme-kapitalisme dan komunisme mengharu birukan sejarah bangsa-bangsa modern. Keyakinan akan kebenaran system demokrasi menjadikan negara-negara yang berkepentingan jatuh ke dalam kehancuran, perang yang berkepanjangan sampai dengan penjajahan terjadi. Bangsa-bangsa saling menghancurkan, bahkan hingga kini, banyak antar bangsa saling bermusuhan contonya adalah Perang Dunia (PD) I, PD II, Perang Dingin, Perang Korea, Perang Vietnam . Terbentuknya persaingan dalam demokrasi menyebabkan kesengsaraan pada negara-negara tersebut.

Sampai akhirnya simbol komunisme dunia yaitu Uni Sovyet hancur, maka liberalism-kapitalisme semakin menggurita. Menghancurkan apa saja yang anti demokrasi, mereka terus menanamkan pengaruhnya lewat perdagangan bebas, sistem keuangan yang ribawi, privatisasi, sex bebas. Pokoknya apa saja yang mengagungkan kebebasan pribadi. Tidak ada lagi norma-norma agama yang menjadi landasannya, karena sekali lagi demokrasi menghargai kebebasan individu. Demokrasi seolah menjadi agama baru dan siapa saja yang tidak meyakini demokrasi akan dilibas, hancurnya Afganistan, Irak dan ancaman agresi Amerika terhadap Iran adalah contoh-contohnya.

Demokrasi dan Materialisme

Banyak ahli mensinyalir bahwa demokrasi mendasarkan diri pada pemahaman materialisme. Paham materialisme secara etimologi adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra (Hidayatullah Ahmad Jazri, 2007).

Menurut penulis demokrasi erat kaitannya dengan materialisme, demokrasi yang amat menghargai kebebasan pribadi sehingga dinegara-negara Eropa dan Amerika Serikat yang sangat liberalism-kapitalis, dengan alasan hak asasi manusia maka kehidupan masyarakatnya sangat individual, hak-hak individu amat dihargai, terjadi pemisahan yang jelas antara kehidupan masyarakat, baik dalam bidang sosial, agama dan kebebasan berekspresi. Demokrasi akhirnya memunculkan varian baru yang disebut sekulerisme. Memisahkan urusan pribadi dan agama. Karena menjauhkan diri dari nilai-nilai keagamaan, dalam jangka panjang sekularisme menciptakan manusia-manusia yang selain hedonis juga anti ketuhanan dan keagamaan.

Komunisme seperti ajaran Karl Marx juga amat membenci agama. Ia menyebut agama sebagai candu. Menurutnya agama membuat manusia hidup dalam suatu dunia khayalan, suatu dunia lain yang tidak lagi ditandai penderitaan dan kesusahan, suatu dunia sempurna. Marx akhirnya memisahkan peran agama dalam kehidupan, karena menurut ajaran komunisme manusia melarikan diri dalam mimpi-mimpi agama, hal itu disebabkan penderitaanya yang ditimbulkan oleh struktur sosial-ekonomis. Sehingga dia berpendapat kalau manusia ingin mengatasi alienasi sosial-ekonomi maka manusia harus membunuh alienasi religius.

Paham materialisme sangat erat kaitannya dengan atheisme, karena dalam pandangan paham tersebut tidak mengakui keberadaan Tuhan. Menurut mereka Tuhan ada karena manusia yang menciptakan sehingga paham materialisme menganggap kehidupan ini berlangsung dengan tiba-tiba sekaligus dan mengalami tahapan-tahapan evolusi yang alamiah sebagaimana diyakini oleh kaum evolusionis.

Sebagai sebuah sistem politik ciptaan manusia maka demokrasi akan terus mencari varian bentuk-bentuk yang baru, karena dalam demokrasi adaptasi dimungkinkan melakukan inovasi demi mempertahankan paham tersebut. Tinggal bagaimana kita memahaminya, agar tidak latah dan dapat secara kritis mempelajarinya.

1 komentar:

日月神教-任我行 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta