INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 01 Maret 2009

Barat Tutup Mata Atas Tindak Penghancuran HAM Bangsa Chechnya Oleh Rusia

Sejumlah organisasi pelindung HAM internasional, Rabu (8/10) kemarin menuduh, Barat pura-pura tidak tau terhadap berbagai tindakan pelanggaran HAM yang terjadi di Chechnya. Kasus-kasus menyedihkan dibiarkan oleh dunia Barat demi menjaga hubungan baik mereka dengan Presiden Vladimir Putin. Hal itu setidaknya terungkap ketika sebuah organisasi pemerhati HAM Rusia merilis sebuah buku berisi dokumen tentang ratusan kasus pembunuhan atau penculikan warga Chechnya oleh para serdadu komunis Rusia di negeri mini yang dikoyak perang itu. ( galery inside )

Berbicara pada acara book fair terbesar dunia di Frankfurt (tahun ini menyoroti tentang tindak pelanggaran HAM oleh Rusia), para advokat itu mengatakan, kasus-kasus pelanggaran HAM oleh tentara Rusia masih berlangsung di Chechnya. Walaupun ada sejumlah perbaikan dilakukan pemerintah Putin dalam beberapa tahun terakhir, setelah terjadi gelombang kritik dari masyarakat internasional. Agence France Presse (AFP) melansir berita tersebut.

Tuduhan yang terkait dengan konflik Chechen itu mengungkapkan berbagai hal tentang pelanggaran HAM di negeri mini Islam itu. Misalnya soal kebebasan informasi, situasi wanita dan anak-anak yang dipenjara, masalah etnik minoritas, dan lain-lain. Informasi itu dihimpun berdasarkan laporan Amnesti Internasional (AI), Asosiasi Wartawan Tanpa Batas Operasi (Reporters without Borders), dan Glasnost Foundation. Organisasi yang bermarkas di Moskow itu berjanji akan terus berjuang untuk melindungi HAM warga sipil di Chechnya.

Peter Franck dari AI mengatakan, ketidaktahuan atas kasus-kasus pelanggaran HAM di Chechnya, merupakan skandal. Sehingga pada pembicaraan Uni Eropa-Rusia di Saint Petersburg awal tahun ini, para pemimpin Eropa merasa senang menerima laporan situasi di Chechnya sebagaimana disebutkan di dalam final deklarasi. Tetapi ini sebenarnya terkait dengan masalah pemberantasan obat-obat bius,cetus Franck.

Franck mengatakan, para pemimpin Eropa itu lebih suka memfokuskan peran Rusia dalam perang melawan terorisme, ketimbang pada apa yang sedang terjadi di republik Kaukasus yang kacau itu. Walaupun, tambahnya, situasi di Rusia telah membaik dalam 20 tahun terakhir, khususnya hukum-hukum yang melindungi hak-hak sipil. Namun praktek dan birokrasinya masih berjalan seperti pada sistem lama, tegasnya.

Masih terjadi krisis yang signifikan dalam budaya penerapan HAM oleh pemerintah Rusia, ujarnya pada suatu acara konferensi pers.

Kasus anak-anak yang dipenjara hanya lantaran mempertahankan diri dari serangan tentara Rusia, polisi yang korup, dan kerap disebabkan gaji mereka yang sangat rendah, sangat banyaknya kaum wanita yang dijebloskan ke penjara, pelecehan seksual terhadap etnik minoritas secara regular oleh para serdadu Rusia. Semua itu mengindikasikan, betapa warga sipil kondisi HAM warga Chechnya sangat mengenaskan.

Sampai saat ini di Chechnya masih terjadi kasus lenyapnya orang-orang tanpa diketahui rimbanya, pembunuhan dan perkosaan. Tahun ini saja, kata Franck, sekitar 240 orang dinyatakan hilang selama bulan Mei 2003. Angka itu, hanya berdasarkan pengumuman resmi dari pemerintah federal. Angka sesungguhnya mungkin jauh lebih tinggi.

Sumber : http://swaramuslim.com/berita/more.php?id=A792_0_12_0_M

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta