INTERNASIONAL NASIONAL

Selasa, 17 Maret 2009

Bangsa Indonesia Bangsa Pemberani yang Berkomitmen Menghapuskan Penjajahan Di Muka Bumi pada Masa Hegemoni Kolonial Mencengkram Bangsa Asia – Afrika

Oleh Heri Hidayat Makmun

Merefleksikan kekuatan moral Konferensi Asia Afrika masa lalu, kini, dan masa yang akan datang.

”Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan...”

Pembukaan UUD 1945


Tidak ada suatu bangsa yang sehebat Indonesia dalam berkomitmen bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan. Hal ini masuk dalam landasan konstitusional kita bangsa Indonesia dalam menapaki sejarah berbangsa di muka bumi.

Ir. Sukarno juga secara lugas menggunakan kata-kata ini ”PENJAJAHAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN” dalam pembukaan konferensi Asia Afrika untuk menekan perilaku penjajahan kolonial barat yang menindas bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Konferensi pada bulan April 1955, KAA yang berhasil diselenggarakan di Bandung yang dihadiri oleh 22 pemimpin negara Asia dan 7 pemimpin negara-negera Afrika.

Pada masa itu berarti komitmen ini secara otomatis menjadi penantang terhadap hegemoni negara-negara besar yang pada umumnya memiliki negeri-negeri jajahan. Mereka merupakan negara-negara adidaya pada masa itu. Inggris merupakan negara yang paling banyak memiliki negara jajahan dimana-mana, Belanda, Portugis, Prancis, Spanyol dan Amerika Serikat.

Kata-kata menghapuskan penjajahan dimuka bumi menjadi ”mantra” yang luar biasa yang menyebabkan hadirin pada konfrensi Asia Afrika bertepuk tangan hampir 30 menit lamanya. Tidak sedikit dari mereka yang meleleh air matanya, menandai bangsa-bangsa yang bermartabat ini harus merdeka. Harus bangkit!

Mengapa begitu gemuruh dan begitu suka cita? Karena bangsa-bangsa Asia Afrika haus terhadap kemerdekaan saudara-saudara. Gelegar pidato Ir Sukarno yang menentang penjajahan dimuka bumi disambut secara sangat antusias oleh negara-negara peserta konferensi yang berjumlah hampir 29 negara Asia Afrika itu.

Tetapi ditempat lain diseberang sana, di tanah negari-negeri yang maju, yang dananya berasal dari penindasan dan kolonialisme. Bangsa-bangsa kolonial tersebut mendidih darahnya mendengar pidato pembukaan Ir. Sukarno dalam konferensi Asia Afrika tersebut.

Presiden Amerika Serikat Dwight D. Eisenhower secara langsung mengatakan bahwa Sukarno adalah diktator Asia yang harus digulingkan. Frank Wisner, Deputi Direktur Perencanaan CIA mengeluarkan komentar pada tahun 1956, ”Saya pikir, inilah waktunya kita menyeret kaki Soekarno ke bara api.”

Pejabat-pejabat Belanda mengatakan bahwa Indonesia adalah ladang ektrimis dan pengganggu Papua Barat. Inggris yang tidak suka keterlibatan intelegen Indonesia di Singapura mengatakan bahwa Indonesia sebagai Teroris Asia Tenggara. Portugal mengatakan sebagai pelanggar HAM. Walaupun jelas-jelas mereka menjajah, menindas dan melegalkan perbudakan, tetapi mereka masih berani menggunakan kata-kata HAM. Dasar keblinger!!!. Harusnya kata-kata itu dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia Afrika dalam pembahasan di konferensi bukan mereka para kolonialis itu.

Para penjajah-penjajah itu menghamburkan kata-kata najis kepada Ir. Sukarno. Padahal para kolonialis itulah yang sebenarnya imperial kriminal yang merusak tatanan dunia saat itu.

Tidak mudah untuk menggugah suatu kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah untuk saat itu saudara-saudara. Benar-benar tidak mudah. Semua bangsa kolonial itu memiliki senjata-senjata yang terhebat pada masa itu, tetapi bangsa Asia Afrika benar-benar masih merangkak... seperti bayi yang belum tahu apa-apa, apalagi membuat senjata.

Bangsa Asia Afrika memang benar-benar masih lemah, kecuali Jepang dan China. Tetapi kedua bangsa besar inipun masih banyak dirundung masalah. Jepang baru kalah perang dan China masih punya masalah dalam negerinya.

Penjajahan negeri-negeri Asia dan Afrika memiliki sejarah berbeda-beda. Walaupun penaklukan telah dikenal di Asia Tenggara sejak sebelum kehadiran bangsa-bangsa Barat, namun penaklukan yang dilaksanakan oleh Barat di wilayah tersebut dinilai sebagai periode penting karena memiliki dampak yang sangat besar bahkan luar biasa yang mengakibatkan perubahan yang dampaknya masih kita saksikan sampai sekarang ini. Keterbelakangan yang mencakup kemiskinan, kebodohan dan perpecahan pada bumi putra, dan hal ini masih mudah kita temukan sampai sekarang. Sementara warisan penjajahan masa lalu masih ada, penjajahan dengan bentuk dan rupa baru, dan masih dengan pemain lama sedang berlangsung.

Mereka bangsa barat yang mengaku memiliki ras lebih unggul dari ras Asia dan Afrika, datang dari wilayah begitu jauh membangun dan mencengkramkan kekuasaannya sedemikian lama walaupun berulang-ulang sempat diguncang oleh perlawanan pribumi.

Mereka yang datang dari jauh itu melegalkan pembunuhan, perbudakan, penistaan manusia antar manusia demi melenggangkan kekuasaan di negeri-negeri jajahan. Mereka bangsa yang merasa terhormat itu berprilaku seperti kera yang belum mengenal sopan santun dan perikemanusiaan. Ujug-ujug mereka merasa pendekar HAM. Hughhh!

Masa-masa merintih bangsa terjajah Barat di Asia Tenggara praktis bersamaan waktunya dengan penjajahan Barat di benua yang kita kenal dengan Amerika yang pribumi aslinya adalah Indian, serta Australia yang suku aslinya adalah Aborigin. Dua bangsa yang sekarang akan punah akibat penindasan, yang terjadi abad ke-16.

Sedangkan Afrika Utara, Asia Barat dan Asia Tengah telah mengalaminya sejak sebelum Masehi. Penderitaan mereka ini jauh lebih pedih dari pada kita, bangsa Indonesia. Sampai sekarangpun kemiskinan dan perpecahaan yang merupakan ciri khas dari hasil penjajahan masih ada. sampai abad 21 ini.

Abad ke-16 adalah periode penting dalam sejarah manusia Saudara! Setelah sekitar 1000 tahun mengalami zaman kegelapan, Barat mengalami proses kebangkitan besar yang lazim disebut Renaissance (Kelahiran Kembali) sebagai akibat pengaruh Timur yang sejak sekitar 5000 sebelum Masehi mengalami masa jaya yaitu capaian prestasi kemanusiaan praktis tanpa putus hingga awal abad ke-19.

Perang Salib (1095-1291) yang dilaksanakan Barat ke wilayah kekuasaan Timur yang terbentang dari Iberia hingga Mesopotamia meningkatkan minat Barat untuk mengenal Timur. Ketika itu Timur tampil menjanjikan atau menggiurkan nyaris dalam segala hal.

Kebangkitan Barat antara lain dalam bidang teknologi (setelah belajar dari Timur) mendorong mereka keluar dari dunianya mencari “dunia lain” untuk ditaklukan. Kemenangan yang diraih Portugis tahun 1267 dan Spanyol terhadap kaum Muslim Arab pada 1492 sungguh memabukkan mereka. Rasa percaya diri sebagai manusia unggul bangkit.

Dengan demikian penjajahan ke seberang lautan masuk pula dalam agenda Renaissance. Adapun semboyan imperialisme Barat adalah gold (mencari kekayaan), gospel (menyebar pengaruh berupa nilai-nilai yang dianut Barat) dan glory (mencari kehormatan).

Proyek penaklukan pertama Barat –dalam hal ini Portugis– adalah Kesultanan Malaka (1400-1511), yang mungkin adalah negeri yang paling makmur di Asia Tenggara saat itu. Konon kerajaan tersebut dibentuk oleh seorang pangeran dari Majapahit, setelah menganut Islam dia mengubah namanya dengan Megat Iskandar Syah. Ketika tiba di wilayah tersebut dia menilai bahwa dia berada pada tempat yang strategis terutama dari segi ekonomi:

Selat Malaka adalah selat yang sejak awal masehi telah menjadi jalur ramai antara dunia Barat dengan dunia Timur. Dia bersekutu dengan penduduk lokal dan membangun fasilitas untuk berlabuh. Benar saja, dalam waktu relatif singkat banyak kapal-kapal asing yang singgah atau mukim, Malaka yang berawal dari kampung nelayan berubah menjadi pelabuhan bertaraf internasional.

Kemasyhuran Malaka tiba juga ke telinga bangsa Portugis. Ketika itu Portugis telah memiliki beberapa wilayah taklukan dari pesisir Afrika hingga sejauh Goa di India. Vasco de Gama, seorang laksamana ulung dilantik sebagai raja muda untuk India. Dia mengirim utusan ke Malaka dan diterima dengan baik oleh Sultan Ahmad (1488-1511), Portugis mendapat izin berdagang sebagaimana halnya bangsa-bangsa lain.

Utusan Portugis tiba ketika Malaka konon sedang dirundung perpecahan antara sultan di satu fihak dengan bendahara dan putranya, suatu hal yang berbahaya mengingat di mana-mana perpecahan adalah menyenangkan imperialis. Jika tidak ada perpecahan ya diada-adakan. Devide et impera dari dulu menjadi jurus pamungkas mereka para kolonialis itu, bahkan cara itu masih digunakan sampai kini. Ingat Saudara sampai kini! Jadi camkanlah!

Rakyat Malaka tahu watak Portugis karena mereka ada yang berasal dari negeri-negeri yang telah direbut Portugis semisal Hurmuz di Teluk Persia, Suquthrah di Teluk ‘Adan dan Zanzibar di lepas pantai timur Afrika. Mereka mempengaruhi sultan untuk memusuhi Portugis, sultan terpengaruh dan dalam suatu serangan mendadak beberapa anggota utusan tewas dan selebihnya lolos.

Peristiwa tersebut boleh dinilai sebagai awal zaman gelap bagi Asia Tenggara. Setelah kehadiran Portugis, berbondong-bondong bangsa-bangsa Barat lain datang ke Asia Tenggara meraih tanah jajahan. Kelak ketika Perang Pasifik dimulai, Inggris bercokol di Birma (kini Myanmar), Brunei, Malaya (kini Malaysia) dan Singapura; Belanda bercokol di Indonesia; Portugis bercokol di Timor Timur (kini Timor Leste); Perancis di Vietnam, Laos dan Kamboja; serta Amerika Serikat (AS) bercokol di Filipina. Di Indonesia dalam masa kolonisasi Belanda di wilayah nusantara, yang sekian lama dikenal dengan sebutan Nederlands Oost-Indische (Hindia Timur Belanda).

Kebangkitan nasional kita tidak terlepas dari suasana internasional. Awal abad ke-20 dunia Timur bangkit melawan keunggulan Barat. Jepang misalnya, dengan sigap melaksanakan modernisasi yang dikenal dengan Restorasi Meiji sehingga terhindar dari penjajahan Barat.

Pada awal abad ke-20 hasilnya dapat dirasakan, sekitar 90 persen warga Jepang melek huruf. Jepang pulalah yang mengejutkan dunia dengan kemenangannya melawan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang (1904-1905). Perang tersebut dianggap sebagai konflik besar pertama abad ke-20, Jepang telah membuktikan bahwa Barat dapat dikalahkan.

Prestasi meruntuhkan mitos keunggulan Barat kembali diraih Jepang pada Perang Pasifik. Hanya perlu 8 bulan Jepang merebut jajahan Barat tapi perlu waktu sekitar 3,5 tahun bagi Barat untuk mengalahkan Jepang setelah bertempur dahsyat.

Bangsa China masih tenggelam dalm konflik-konflik dalam negerinya. Revolusi melawan Dinasti Manchu (1644-1912) menjerumuskan Cina dalam perang saudara berkepanjangan bercampur Perang Cina-Jepang II (1937-1945). Revolusi membagi Cina menjadi dua negara yang bermusuhan yaitu Republik Cina (Taiwan) dan Republik Rakyat Cina. Perang melawan kolonialis memang berat, tetapi perang melawan perpecahan dalam negeri jauh lebih berat! Jauh lebih menimbulkan kesengsaraan. Perpecahan ini konspirasi dari Inggris dan Jepang untuk memecah negeri naga. Sampai sekarang ini konlik China – Taiwan masih terus di rawat oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari konspirasi jangka panjang.

Beruntung bagi negara yang dijuluki naga ini, benar-benar bangun dari tidur panjangnya dan bangkit pada abad 21 ini. Menggasak ekonomi kolonialis dan membuktikan kebijaksanaan timur sebagai kekuatan, bukan machiavelis yang main hantam sana sini.

Pemberontakan Sipahi (1857-1858) atau Revolusi India yang dapat ditumpas Inggris menempatkan India langsung dalam pengawasan pemerintah Inggris, bukan lagi perusahaan East India Companynya. Rezim kolonial segera mengirim para zending dan missie untuk lebih giat memasukkan pengaruh Barat ke India. Beryukurlah kita karena ada Mahatma Gandhi di India.

Para elit India menanggapi cengkeraman kolonial dengan membentuk All Indian National Congress (1885) yang kelak dikenal dengan Partai Kongres. Sekelompok wakil Muslim di organisasi tersebut kemudian keluar dan membentuk Liga Muslim.

Di antara para tokoh kemerdekaan kelak tampil paling menonjol tiga orang yaitu Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru dan Muhammad ‘Ali Jinnah. Perpecahan antara Gandhi-Nehru di satu fihak dengan Jinnah di fihak lain mempertegas perbedaan lama antara Hindu dengan Muslim, berakibat India terbagi menjadi India dan Pakistan. Lagi-lagi perpecahan menjadi ciri khas dari hasil penjajahan.

Kembali kemasa kini saudara, saat ini saya berbangga karena ternyata Abad 21 adalah Abad Kebangkitan Asia dan Afrika, keluar dari cengkraman penjajahan, penuntasan krisis politik dalam negeri dan akhirnya bangkit sebagai bangsa yang bermartabat.

Saat ini tahun 2009 saat kita telah dapat melihat dunia dalam keadaan merdeka. Walaupun penjajahan masih ada terhadap bangsa Palestina, Irak dan Afghanistan. Semoga bangsa-bangsa ini diberi kekuatan dan keluar juga dari cengkraman penjajahan.

Mari saudara-saudara kita pelajari sejarah kita agar kita tidak salah berpihak. Terlalu dangkalnya ilmu kita yang menyebabkan penjajahan dapat mencengkram terlalu lama. Terpecah-pecahlah kita menjadi lemah. Terkotak-kotak menjadi bangsa katak. Berkelahi dengan teman seiring dan tidak ada waktu untuk kita belejar menjadi besar. Bangsa besar adalah bangsa yang kuat, bangsa yang kuat adalah bangsa yang belajar dan berilmu. Tetapi bangsa yang belajar adalah bangsa yang mempunyai waktu dan tidak direpotkan dengan krisis politik, perpecahan SARA, suku, ideologi. Itu artinya bangsa yang besar adalah bangsa yang bersatu dan bertoleransi mengibarkan kemegahan bangsa bersama.

Bisa kita ambil kesimpulan saudara bahwa bangsa yang berkomitmen menghapus penjajahan dimuka bumi adalah bangsa yang bersatu. Tanpa itu kita bermimpi saudara-saudara! Lawan devide et impera!!!

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta