INTERNASIONAL NASIONAL

Minggu, 01 Maret 2009

Rusia dan China Lebih Baik Dalam Penegakan HAM Dibanding Amerika Serikat

Perbaikan keadaan HAM dunia untuk tahun 2009 harus bermula di Washington. Demikian diungkapkan organisasi pemantau HAM, Human Rights Watch

Human Rights Watch meluncurkan proyeksi keadaan HAM 2009 hari Rabu berdasarkan penelitian di 90 negara. Menurut organisasi yang berkantor pusat di New York itu, pemerintah presiden terpilih Barack Obama harus mengambil langkah-langkah menentukan seperti menutup penjara militer Guantanamo, dan menghentikan berbagai kebijakan yang merusak kredibilitas Amerika Serikat dalam urusan HAM yang diakibatkan oleh pemerintahan George Bush. Diungkap Marianne Heuwagen, direktur HRW Jerman:

"Tahun-tahun pemerintahan Bush merupakan malapetaka bagi kebijakan HAM AS. Apa yang disebut perang anti teror, telah mengabaikan dan melanggar berbagai hukum kemanusiaan internasional. Jadi yang pertama harus dilakukan Barack Obama a, dan mulai memulihkan peran Amerika Serikat sebagai pembela HAM, memulihkan kredibilitas Amerika dalam urusan HAM."

Amerika juga dipermasalahkan atas terus berlanjutnya hukuman mati. Juga dijatuhkannya hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat bagi narapidana remaja. Namun kebijakan perang anti terorisme ala George Bush dianggap sebagai sumber dari berbagai pelanggaran HAM Amerika. Presiden terpilih Barack Obama sejak awal menjanjikan untuk menutup penjara Guantanamo yang sangat bermasalah. Namun HRW menyebut, itu tidak cukup. Kembali Marianne Heuwagen:

"Selain penutupan Guantanamo, Amerika harus bergabung kembali dalam Dewan HAM PBB, setelah absen selamna 2 tahun terakhir. AS juga harus menandatangani Statuta Roma, untuk menjadi bagian dari Mahmakam Internasional di Den Haag. Amerika juga harus menghentikan segala agenda aksi sepihak dalam memecahkan berbagai persoalan dunia. Sesuatu yang menjadi ciri pemerintahan George Bush."

HRW menilai Eropa dan Amerika Serikat mendukung Pemilu yang prosesnya meragukan, seperti di Kenya dan Pakistan, hanya untuk kepentingan Barat semata. Misalnya adalah dukungan terhadap Presiden Pakistan Perves Musharaf, sekutu Amerika Serikat, dalam proses Pemilu. Akibatnya, pelanggaran HAM tak terhindarkan.

Sejarah mencatat kebrutalan negara itu. AS melakukan intervensi ke negara lain antara 1798-1895 M sebanyak 103 kali; 1896-1945 sebanyak 57 kali; 1945-2001 sebanyak 218 kali. Negara Paman Sam juga menjadi otak Kudeta Berdarah di: Iran (1953), Guatemala (1954), Kuba (1961 dan 1971), Brazil (1964), Indonesia (1965), Yunani (1967), Chili (1973), Angola (1974-1975), Jamaika (1975), Grenada (1983), Nikaragua (sejak 1984).

Hal yang sama terjadi saat ini. Atas nama perang melawan terorisme, menghancurkan senjata pemusnah masal, dan menegakkan demokrasi di Irak, negara adidaya ini menghancurkan dan menjajah Irak. Tercatat saat ini lebih dari 1 juta rakyat sipil yang terbunuh akibat perang. Atas nama kebohongan, AS menutupi niat yang sebenarnya untuk merampok minyak Irak.

Pelanggaran kemanusian lain dari AS, seperti yang dikritik oleh Human Right Wactch, adalah mendukung rezim represif dan diktator. Negara ini mendukung Pemerintahan Represif di: Honduras (1954), Libanon (1958), Thailand (1959), Laos (1959-1969), Ethopia (1960), Korsel (1960), Guyana (1963), Vietnam (1964), Republik Dominika (1962), Kambodia (1970), Elsavador (sejak 1980) dan Indonesia di masa rezim Suharto.

Semenatara diwilayah dunia lain malah muncul kesadaran baru mengenai hak asasi kedua manusia seperti China dan Rusia malah semakin membaik. Perbaikan ekonomi negara ini berimbas kepada kesadaran hukum pada masyarakatnya.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta