INTERNASIONAL NASIONAL

Kamis, 05 Februari 2009

Pangan Dunia Tidak Langka Tetapi Terakumulasi Di Negara Maju

Oleh Heri Hidayat Makmun, SE. MM

Sebagian analis mulai menghembuskan informasi tentang krisis pangan dunia, dengan alasan yang sangat masuk akal yaitu semakin tingginya harga bahan pangan dari berbagai komoditas pangan. Data-data banyak ditunjukkan dari beberapa negara miskin dan berkembang, seperti Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara dan Amerika Selatan. Dari data tersebut menunjukkan adanya indikasi penuruanan pangan yang berakibat pada peningkatan harga pangan pada negara-negara di wilayah tersebut.

Harga komoditas pangan utama dunia, seperti beras gandum, dan jagung kian membungbung tinggi diluar jangkauan masyarakat, hal ini memicu aksi protes diberbagai belahan dunia. Utamanya negara-negara yang berada di kawasan tersebut. Dalam dekade ini sekitar 840 juta manusia di seluruh dunia masih kekurangan pangan, 799 juta berada di negara-negara berkembang. (Sumber data FOA).

Informasi ini diperkuat oleh Direktur Jendral Organisasi Pangan Dunia PBB (FOA), Dr. Jacques Diouf saat memberikan konfrensi persnya Jumat (11/4/2008). “Stock pangan dunia kritis. Stok yang ada mencapai level terendah yang belum pernah terjadi sejak tahun 1980. Untuk tahun ini sudah 5% lebih rendah dari tahun lalu”.

Dilain tempat James East seorang Direktur Komunikasi Regional World Vision International dalam RSI Siaran Inggris mengatakan masalah kenaikan harga dan pengadaan pangan merupakan masalah yang krusial terutama bagi warga miskin, yang hingga kini masih berjuang untuk mengatasinya.
“Yaa, Saya kira ketika sesuatu terjadi dan menyerang perut anda, maka sesungguhnya anda tidak akan mempunyai pilihan lain.

Saya melihat photo photo yang sangat menyentuh dari Philipina dimana anak anak disana menulis sesuatu di perut mereka yang berbunyi “orang lapar adalah orang yang marah” dan ketika anda tidak mempunyai cukup uang untuk membeli makanan, maka anda tidak akan dapat berpikir jernih. Nah, itulah yang terjadi dunia saat ini. Dan ketika itu terjadi pada anda dan anak anak anda, disaat anda lapar maka anda pun akan merasa marah dan kecewa dan meluapkan rasa tersebut ke jalan.

Anda pun tidak mengerti kenapa harga harga makanan naik meski terdapat beragam alasan kenapa harga harga barang naik. Tapi anda tidak akan memahami penjelasan tersebut. Yang anda tahu hanya perut anda lapar dan anak anak anda juga terkena dampaknya” Dalam analisisnya James East melihat krisis pangan ini khususnya di asia.

Ada lagi analis yang menyalahkan adanya perubahan iklim yang berakibat tanah puso dan kekurangan air, bencana yang silih berganti sehingga menyebabkan banyak gagalnya panan petani-petani di dunia. Seperti yang terjadi di China, Banglades, India, Iran, Australia, Argentina dan Indonesia.

Indonesia yang semula pada tahun 1994 pernah merasakan swasembada beras sekarang justru menjadi negara pengimpor beras dari Vietnam dan Thailand. Australia mengalami kekeringan parah yang salah satu dampaknya produksi gandum menurun drastis. Argentina justru mengalami kegagalan panen gandum akibat musim dingin yang hebat. Demikian juga Iran yang mengalami musim salju yang dampaknya belum penah terjadi separah tahun ini.

Sebenarnya lebih banyak lagi negara-negara yang mengalami masalah dalam pertanian pangan. Isu pertanian pangan ini menyatukan visi G-21 terdiri dari: Argentina, Bolivia, Brazil, Chile, Cina, Kosta Rika, Kuba, Ekuador, Mesir, Guatemala, India, Indonesia, Meksiko, Nigeria, Pakistan, Paraguay, Filipina, Afrika Selatan, Thailand dan Venezuela. Tetapi kelompok negara-negara berkembang yang sebagian besar agraris ini masih tidak efektif mencapai tujuan.

Inti persoalan yang terjadi pada umumnya pada dasarnya memang berasal dari berkurangnya stok bahan apngan dunia akibat perubahan iklim dan perubahan pola produksi dari bahan pertanian pangan menjadi bahan pertanian untuk energi. Tetapi yang disedihkan adalah tidak adanya atau sedikit sekali analis yang mengungkapkan suatu penamena tentang pangan di negara-negara makmur. Pada kenyataanya mereka tetap dapat menikmati stok pangan dunia tanap risau.

Kemakmuran mendatangkan stok pangan dunia dari berbagai belahan dunia secara berlimpah. Negara yang banyak menikmati bahan pangan dunia ini yaitu Jepang, Amerika Serikat, Negara-Negara Eropa Barat yang masuk dalam dafter Uni Eropah. Oleh karena itu mari kita amati lagi mengenai stok pangan dunia.

Di Indonesia menurut Prabowo S. (Ketua HKTI), surplus stok beras nasional tahun 2005 adalah sebesar 5 juta ton (produksi nasional = 34 juta ton, sedangkan konsumsi nasional sebesar 29 juta ton). Namun kenyataan dilapangan menunjukkan permintaan masih lebih tinggi dari pada persediaan, sehingga harga beras semakin tinggi. Pertanyaan kemana larinya surplus sebesar 5 juta ton tersebut? Pasar gelap bahan pangan inilah penyebabnya. Akibat harga diluar negeri lebih tinggi yang berasal dari permintaan negara-negara kaya dan makmur. Banyak beras lari keluar negeri tanpa melalui prosedur legal.

Sebagai contoh untuk negara makmur yang menyedot pangan dunia adalah Jepang. Jepang mengalami perubahan pola pangan yang menggeser pangan-pangan sumber kalori. Porsi beras dikonsumsi 600 kalori, tetapi pengganti beras seperti ternak, minyak/lemak, terigu, gula, ikan dan lain-lain ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ketahun.

Sebagai negara yang memiliki kemampuan lahan yang terbatas. Jepang mengandalkan kekuatan ekonomi untuk mengamankan stok pangan mereka. Impor Jepang berupa produk-produk pertanian dari sejumlah negara, dengan total impor senilai 4,578 miliar yen. Sumber bahan berasal dari Amerika mensuplay sekitar 32%, China 12%, Australia 10%, Kanada 6%, dan Thailand 5%.

Khusus untuk kommoditi Kedelai, jagung, dan terigu menyedot sekitar 600 miliar yen nilai impor. Proyeksi kedepan akan terus terjadi peningkatan impor pangan Jepang. Walaupun Jepang tidak mempunyai lahan yang memadai untuk memenuhi pangan warga tetapi Pemerintah Jepang tidak kuatir karena daya beli mereka masih sangat tinggi.

Dari hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan dari 100 persen makanan yang dihidangkan di meja-meja makan penduduk di California, ternyata hanya 62% saja yang di makan. Ada yang disimpan untuk dihidangkan kembali 23% dan sisanya sebesar 15% lainnya hanya masuk ke tong sampah.

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta