INTERNASIONAL NASIONAL

Senin, 09 Februari 2009

17 Organisasi Asia dan Greenpeace Memboycot Beras Rekayasa Genetika

Sebuah koalisi yang terdiri dari 17 organisasi di Asia, pada 14 Oktober 2005, di Bangkok, mengeluarkan statemen Hari Pangan Dunia yang berisi pelarangan global introduksi beras hasil rekayasa genetik (RG).

Demikian Siaran Pers Greenpeace Asia Tenggara pada 13 Oktober 2005. Beras adalah makanan pokok terpenting dan kami tidak dapat membiarkan perusahaan bioteknologi dan ilmuwan pro rekayasa genetik menentukan masa depan perkembangan beras, kata Varoonvarn Syangsopakul dari Greenpeace.

Beras RG memiliki dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan, dan tidak dapat dijadikan solusi atas kelaparan, tambah Varooonvarn.

Penekanan agresif dari perusahaan-perusahaan bioteknologi yang ingin mengintroduksi beras RG di Asia kini tengah menghadapi kritik dari lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang peduli terhadap dampak negatif beras RG terhadap petani, lingkungan, kesehatan dan pertanian berkelanjutan.

Tema Hari Pangan Dunia yang disponsori oleh Badan Pangan dan Pertanian PBB (United Nations Food and Agriculture Organization/FAO) tahun ini adalah Pertanian dan dialog antar budaya memperingati kontribusi perbedaan budaya untuk pertanian dunia.

Beras RG berpotensi mengancam pusat asal dan keanekaragaman beras di Asia, sebagaimana keanekaragaman budaya masyarakat yang menanam padi di kawasan tersebut. Pengenalan beras RG bertentangan dengan tema peringatan Hari Pangan Dunia tahun ini, kata Dr. Suman Sahai dari Gene Campaign, India.

Cara nyata berkaitan dengan pertanian berkelanjutan dan solusi atas kelaparan adalah melalui perlindungan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ketimbang rekayasa genetik. Dan promosi pertanian ekologis yang didasarkan pada pengetahuan tradisional para petani, kata Paul Borja, SEARICE, Philipina.

Para petani Bangladesh memiliki sebuah tradisi menjaga keanekaragaman beras lokal dan mereka menolak gerak Syngenta yang memperkenalkan beras emas (golden rice), kata Palash Baral, dari UBINIG, Bangladesh.

Dengan menanam dan mengembangkan varietas beras lokal, para petani Thailand dapat menikmati makanan bergizi dan pendapatan yang stabil, kata Supanee Taneewut, RRAFA, Thailand.

Setelah dua hari mengadakan pertemuan di luar kota Bangkok, perwakilan dari 10 negara penghasil beras mengenakan pakaian tradisional dan menyerahkan deklarasi beras bebas rekayasa genetik ke kantor pusat FAO di Bangkok. Mereka datang dengan membawa serta koleksi varietas beras untuk mengingatkan betapa pentingnya menjaga keanekaragaman beras.

Dalam deklarasi itu, kelompok tersebut juga menuntut pelarangan pengembangan dan budi daya beras RG. Dan meminta FAO menghentikan dukungan terhadap tanaman rekayasa genetik, namun mendukung pengembangan sistem pertanian ekologis dan berkelanjutan.

Sumber : http://www.greenpeace.org

Tidak ada komentar:

NASIONAL INTERNASIONAL
 





About Us | Disclaimer | Syarat dan Ketentuan | Pesan | RSS | Facebook | Twitter | Nasional | Internasional | ASEAN | Ekonomi | Pariwisata

Copyright © 2008. news.indonesianvoices.org - All Rights Reserved
Indonesian peoples thing..
Created by Group Link Website Published by Indonesian Voices
Meneruskan Semangat Bung Karno dan Bung Hatta